Astari Rasjid: “Aku Diponegoro”, Daya Feminim dan Maskulin.

Astari-Rasjid1

SAYA bertolak dari hal paling mendasar bahwa dalam sosok ibu terdapat garba atau rahim tempat terjadinya penciptaan kehidupan, sekaligus Ibu kultural tempat manusia tumbuh dan berkembang.

Saya memandang Jawa sebagai rahim kultural tempat saya lahir dan kemudian menjelajah ke mana saja dan tempat saya pulang.

Astari-Rasjid4

Saya lebih tertarik pada garis ketegangan antara daya feminim dan maskulin, di mana hubungan antara dua daya atau energi tersebut tidak selalu mutlak dan permanen melainkan dapat terus bergeser dan selalu terdapat negosiasi di antara keduanya.

Garis tegangan dua posisi itu juga dapat dilihat dalam konteks kebudayaan modern dan global.

Belajar di Barat memengaruhi cara berpikir saya tentang sejarah seni dan pembuatan seni. Ini memainkan peran besar dalam proses dan praktik saya pada tingkat teknis dan konseptual.

Astari-Rasjid2

Saya dibesarkan di India dan Burma dan harus belajar kembali bahasa Indonesia sebagai seorang anak. Pengalaman tinggal di luar negeri dalam budaya yang berbeda ini sangat memperkaya saya – ini juga berdampak membuat saya berpikir tentang identitas saya sendiri.

Misalnya, “Aku Diponegoro” didedikasikan untuk pahlawan nasional kita, Diponegoro, yang memainkan peran penting dalam Perang Jawa.

Untuk seri ini, saya melakukan perjalanan ke Gunung Bromo di Jawa Timur, untuk memotret di lanskap yang indah. Saya berpakaian seperti Diponegoro dan mengendarai kuda untuk melambangkan pahlawan pejuang di dalam diri kita semua, pria dan wanita.

“Astari Rasjid (Sem Cornelgoes Bangun)”

Astari-Rasjid3

Editor : Budi Sarmun