Ketoprak Milenial, Ceritanya Bisa Soal Tes DNA

dolanan-adeging-ratu11
GENERASI CERDAS : Generasi milenial pada satu atau dua dekade lagi, pasti akan lebih cerdas lagi ketika menyikapi segala macam perubahan situasi zaman, ketika terinspirasi preseden buruk ''kraman'' 2004 dengan segala liku-liku perjalan sejarah Keraton Surakarta untuk kemudian mengangkatnya menjadi karya seni teater macam ketoprak seperti yang dilakukan kalangan generasi muda dalang di gedung WO Sriwedari, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Aja Dolanan Adeging Ratu…….” (3-bersambung)

WALAU Sasana Pustaka sudah tiga tahun ditutup dari kegiatan layanan publik sejak April 2017 dan entah kapan akan dibuka kembali, tetapi untuk mendapatkan referensi soal serat Wara Iswara yang berisi tentang piwulangdalem Sinuhun Paku Buwono IX, tidaklah sulit. Pustakawan KRT Arwanto Darponagoro yang sempat beberapa tahun menggali karya-karya kapujanggan termasuk karya Sinuhun PB IX di sana, mendapatkan satu referensi soal pesan bijak larangan keras ”bermain-main” dengan jumenengan nata ”Raja” di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Pesan bijak Sinuhun ”pencipta” busana pria ”Langenharjan” itu berbunyi :”…Poma-poma terahingwang, aja sira seja umadeg aji, mung nyuwuna berkahipun, leluhur para nata, sabab Ratu yen sinedya dadi luput, amung Sang Malikul Kusna, kang minta adeging aji….”. Pesan bijak itu kurang lebih sebagai peringatan Sinuhun PB IX kepada kalangan putradalem atau siapapun kalangan internal terdekat, agar tidak punya niat/ambisi merebut hak atas tahta raja. Karena, yang punya hak adalah Sang Malikul Kusna, putra tertua dari istri permaisuri Sinuhun PB IX.

Baca : Mungkinkah Terinspirasi oleh Drama Ketoprak dan Film Super Hero?

dolanan-adeging-ratu12
BENIH KEINGINAN : Faktor genetika yang ikut berpengaruh dalam setiap gejala dan peristiwa ”kraman” dalam sejarah Keraton Mataram maupun leluhur pendahulunya, sejak jauh waktu sering sudah bisa terbaca. Apalagi, ketika diberi kesempatan masuk dalam proses macam menjadi pelaksana tugas atau ”Plt” Sinuhum seperti yang pernah terjadi di Keraton Surakarta sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bila dicermati, ”pitutur” yang bernada ”warning” ini diberikan oleh Sinuhun PB IX, jauh sebelum Pangeran Hangabehi dan KPA Mataram yang usianya lebih tua tetapi lahir dari garwa ampil (selir) itu, hendak melangkah memberanikan diri mendeklarasikan sebagai ”Sinuhun Paku Buwono”, dengan menggelar jumenengan di luar keraton seperti yang terjadi di tahun 2004.

Baca : Setelah Selesai ”Bermain-main”, Puas Disebut ”Mantan Sinuhun”

Dokumen produk catatan tangan itu memang tidak menyebutkan ada langkah-langkah yang sudah masuk katagori ”kraman” itu, sangat diyakini KPP Wijoyo Adiningrat karena fungsi dan peran lembaga paranpara nata atau para pujanggadalem sangat kuat berpengaruh, hingga menyadarkan siapa saja yang hendak melanggar tatanilai paugeran adat.

Peristiwa di atas, bisa dijadikan salah satu contoh untuk mengukur, menganalisis dan membandingkan dengan terjadinya ”Raja Kembar” atau munculnya ”Sinuhun PB XIII” di luar keraton di tahun 2004.

Terlepas dari peristiwanya yang sudah terlanjur terjadi dan melahirkan berbagai penilaian serta silang-pendapat di ranah publik secara luas, dari satu sisi pandang preseden buruk itu seakan diperkuat oleh beberapa faktor. Yaitu, (kemungkinan besar) faktor genetika dan ”keteladanan” (negatif) yang disebut inspirasi dalam konotasi negatif dari fungsi edukasinya.

Baca : Pembentukan Tak Cukup dengan Pendekatan Yuridis dan Historis