Setelah Selesai ”Bermain-main”, Puas Disebut ”Mantan Sinuhun”

dolanan-adeging-ratu6
PERSYARATAN MUTLAK : Gelar beksan sakral Bedaya Ketawang di Pendapa Sasana Sewaka seperti ini, adalah salah satu syarat mutlak menurut tatanilai paugeran adat agar jumenengan nata seorang Sinuhun Paku Buwono sah dan sangat meyakinkan sebagai ''raja'' di Keraton Surakarta Hadiningrat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*”Aja Dolanan Adeging Ratu…….” (2-bersambung)

SEBUAH peristiwa yang dipersepsikan sebagai event upacara adat jumenengan nata dan berlangsung di suatu tempat yang disebut Sasana Purnama pada, 30 Agustus 2004, memang jadi kabar mencengangkan bagi sebagian warga Kota Solo, juga kalangan kerabat masyarakat adat penerus Dinasti Mataram di manapun berada. Karena, pada hari itu ada seorang yang mengaku putradalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII, menobatkan diri sebagai ”raja” yang bergelar ”Sinuhun PB XIII”.

Karena disebarluaskan berbagai media, termasuk internet, ”preseden buruk” di lembaga masyarakat adat penerus Dinasti Mataram jelas diketahui warga bangsa di berbagai belahan dunia.

Meskipun, banyak di antara mereka tidak paham dengan konteks peristiwa secara esensial, atau mungkin juga tidak paham dengan konteks ruang/institusi apa peristiwa itu terjadi.

Baca : Mungkinkah Terinspirasi oleh Drama Ketoprak dan Film Super Hero?

dolanan-adeging-ratu10
JANGAN SAMPAI TERULANG : Ketua LDA GKR Wandansari Koes Moertijah yang begitu gigih menjaga tegaknya tatanilai paugeran adat, terus berusaha mendampingi sang calon putra mahkota KGPH Mangkubumi dalam menjalan upacara adat. Karena, jangan sampai peristiwa lelucon memalukan di tahun 2004, terulang lagi saat proses suksesi di Keraton Surakarta kelak. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mungkin juga banyak sekali ketidakpahaman ketika ditunjukkan fakta bahwa di belahan bumi timur ada bangsa yang dibatasi wilayah bernama Nusantara, yang di dalamnya berlatar belakang sejarah kerajaan-kerajaan sejak berabad-abad silam. Aapalagi, banyak bangsa ”penjajah” yang pernah berurusan/berhubungan dengan Nusantara ini, seperti Belanda (VOC), Spanyol, Portugis, Inggris bahkan Prancis.

Baca : Pembentukan Tak Cukup dengan Pendekatan Yuridis dan Historis

Artinya, dalam konotasi serius bahwa di tahun 2004 telah terjadi ”preseden buruk” di salah satu lembaga masyarakat adat yang bernama Keraton Surakarta Hadiningrat, mungkin hanya diketahui komunitas-komunitas di lingkup terbatas yang sampai saat itu (2004) masih punya hubungan langsung maupun tidak langsung.

Setidaknya, hubungan yang bersifat edukatif misalnya ketika Ford Foundation (AS) melakukan kerjasama pendokumentasian naskah-naskah kuno yang tersimpan di Sasana Pustaka ke dalam micro film di tahun 1990-an, juga kunjungan misi kebudayaan antara Keraton Surakarta ke berbagai negara di Eropa dan Asia seperti Jepang, Malaysia dan sebagainya.

Baca : Museum Keris Nasional Kaya Filosofi kehidupan dan kebudayaan Jawa