Mungkinkah Terinspirasi oleh Drama Ketoprak dan Film Super Hero?

dolanan-adeging-ratu1
PISOWANAN AGUNG : Meski pisowanan agung berlangsung dalam suasana upacara adat ''Adang Sega Kiai Dhudha'' di Tahun Dahl, tetapi Sinuhun PB XII tetap tampak berwibawa dan auranya sebagai ''raja'' tetap bersinar. Kewibawaan seperti ini tidak mungkin bisa didapat dengan cara-cara melawan paugeran adat seperti yang terjadi di luar Keraton Surakarta di tahun 2004. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Aja Dolanan Adeging Ratu…….” (1-bersambung)

SENI PERAN sandiwara ketoprak yang sangat terkenal di wilayah Jawa Tengah dan DIY dan juga Jatim, kemudian seni drama sejenis yang disebut ludruk yang lebih dikenal di wilayah Jatim, pada dasarnya memiliki konstruksi yang sama dengan seni peran yang berkembang dalam wujud film yang menjadi produk peradaban bangsa-bangsa di dunia.

Karena, yang diangkat sebagai tema dan lakon dari sandiwara langsung maupun tak langsung (film) itu adalah situasi dan kondisi di sekitar kehidupan masyarakat bangsa-bangsa itu sendiri, baik masa lalunya, masa kini dan bahkan ada yang mampu memberi sentuhan dimensi kehidupan futuristik, terutama dalam fim.

Ketika seni drama ludruk dan ketoprak menjadi seni hiburan yang begitu disukai masyarakat khususnya di sebagian besar pulau Jawa antara tahun 70-90-an, selain media hiburan sangat terbatas, khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, juga karena faktor suasana sosial politik yang sangat berpengaruh.

Baca : Semangatnya Baik, Tetapi Perlu Diluruskan

Tetapi intinya, hiburan seni ketoprak (juga ludruk) yang ratingnya cukup tinggi di Jateng dan DIY, juga didukung dengan begitu kaya repertoar cerita yang bisa diangkat ke panggung, terutama kisah masa lalu kehidupan peradaban di tanah Jawa yang begitu beragam dan sangat panjang (histori maupun folk lore).

dolanan-adeging-ratu2
SETELAH JADI MANTAN = Di antara pisowanan agung yang berlangsung di gedhong Sasana Handrawina di tahun 2017, selain Sinuhun PB XIII juga hadir ”mantan Sinuhun” yang pernah menjadi pesaingnya. Menurunnya standar etika publik, ternyata juga terjadi di lingkungan masyarakat adat yang selama ini dipersepsikan menjadi pusat dan sumbernya peradaban Jawa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dari banyaknya kisah sejarah peradaban yang paling sering diangkat di panggung ketoprak (terutama di Jateng dan DIY), adalah kisah-kisah dan bagian-bagian dari perjalanan sejarah keraton yang pernah ada di tanah Jawa. Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com mencatat, kisah Keraton Kahuripan, Kediri dan Majapahit adalah kisah dari wilayah timur Jawa yang sangat disukai masyarakat penggemar seni ketoprak ketika tema-tema cerita terutama yang berbau ”kraman” (kudeta) dan percintaan dari wilayah itu diangkat ke panggung.

Baca : Upaya Menyatukan Persepsi Gaya, Agar Dipahami Secara Jelas Maknanya

Sedangkan kisah-kisah ”kraman” dan asmara dari bagian sejarah Keraton Demak, Pajang, dan Mataram (Hindu dan Islam) sampai lahirnya dua keraton dan dua pura penerus Dinasti Mataram di Surakarta dan Jogjakarta, menjadi kisah dan tema cerita yang paling disukai masyarakat penggemar seni ketoprak di Jateng dan DIY antara tahun 1970-1990-an itu.

Terlebih, ketika radio siaran swasta selain RRI dan TVRI menjadikan seni drama itu menjadi siaran jenis hiburan andalan, yang melengkapi komik silat berlatarbelakang sejarah (terutama Mataram), dan juga kaset rekaman panggung live maupun tonil berkembang pesat dan laris di pasaran, bahkan hingga awal teknologi pertelevisian bermunculan di tanah air menjelang tahun 2000.

Baca : Museum Keris Nasional Kaya Filosofi kehidupan dan kebudayaan Jawa