Lokananta Ingin Produksi Kembali Piringan Hitam

koleksi-lokananta-solo
TATA PIRINGAN HITAM : Pegawai Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Cabang Surakarta Lokananta menata piringan hitam di salah satu ruangan instansi tersebut, Rabu (11/12). (suaramerdekasolo.com/dok)

SOLO, suaramerdekasolo.com – Setelah berhenti selama bertahun-tahun, manajemen Studio Rekaman Lokananta ingin menggeluti kembali bisnis percetakan piringan hitam. Ide itu dilatarbelakangi meningkatnya minat penikmat musik terhadap piringan hitam tersebut, beberapa tahun terakhir.

“Kami masih melakukan studi kelayakan (feasibility study) bisnis piringan hitam itu. Biaya yang dibutuhkan untuk menerjuni bisnis cetak piringan hitam diperkirakan berkisar Rp 3 miliar sampai Rp 4 miliar. Kalau jadi direalisasikan kami berencana menggandeng pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan modal tersebut, karena jujur saja saat ini Lokananta belum mampu untuk memenuhinya,” ungkap Kepala Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Cabang Surakarta Lokananta, Marini M Ghozali, Rabu (11/12).

Baca : Selama Dua Tahun Nomer Rekening 500-an Abdidalem Menunggu Kejelasan Sikap Gubernur

Rencananya bisnis itu dimulai tahun depan. Marini menilai, saat ini permintaan piringan hitam yang lazim disebut vinyl record tersebut cenderung meningkat. Tren kenaikan permintaan itu ditengarai sejalan dengan makin banyaknya musisi yang mendistribusikan karya mereka menggunakan media tersebut.
“Khususnya musisi luar negeri.”

Umumnya piringan hitam diproduksi dalam jumlah terbatas, guna menjaga kesan ekskusif. Ia juga jika produksi piringan hitam itu prospektif, usai Lokananta mengikuti pameran di Utrecht, Belanda, beberapa bulan lalu.

Baca : Tak Paham ”Sabda Pandita-Ratu”, Gejala Disorientasi Parah

“Banyak yang menanyakan kalau mau mencari vinyl klasik ke mana. Dari situ kami lihat, ternyata vinyl masih banyak peminatnya,” tutur dia.

Menurutnya, Lokananta sudah pernah menjadi salah satu pencetak piringan hitam terbesar di Indonesia.

“Bahkan mungkin satu-satunya waktu era 1950 sampai 1970-an. Saat itu pencetakan piringan hitam menjadi core business Lokananta, selain penggandaan kaset,” beber Marini.
Namun produksi piringan hitam itu terpaksa dihentikan, lantaran distribusi musik telah berganti menjadi kaset pita yang dianggap lebih praktis dan murah. Saat ini penggandaan kaset masih menjadi bisnis inti Lokananta. “Setiap bulan kami bisa mencetak sekitar dua sampai tiga ribu kaset,” jelasnya. (Agustinus Ariawan)

Baca : Dua Ahli Radiologi Malaysia Naik Andong Keliling Baluwarti

Editor : Budi Sarmun