Dua Ahli Radiologi Malaysia Naik Andong Keliling Baluwarti

radiolog-malaysia-temui-gusti-moeng
DIJAMU MAKAN SIANG : Rombongan tamu dari Malaysia yang dimpin Prof Dr Raja Affendi Raja Ali, dijamu makan siang oleh Gusti Moeng dan para pejabat bebadan di ndalem Kayonan, Baluwarti. Kunjungan silaturahmi itu, diawali dengan melihat koleksi museum dan berkeliling menumpang andong, Senin siang (9/12) itu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Sebelum Bertemu Gusti Moeng

WALAU hanya berkantor di luar kompleks bangunan inti Keraton Surakarta, tetapi Gusti Moeng dan sejumlah kelembagaan bebadannya nyaris tidak memiliki hari kosong dari berbagai kegiatan kegiatan. Yang bisa dikerjakan beberapa kelembagaan bebadan termasuk jabatannya sebagai Pengageng Sasana Wilapa, memang menjadi terbatas sarananya.

Tetapi keterbatasan itu tidak lantas membatasi jumlah dan ragam kegiatannya, seperti ketika menerima tamu kehormatan rombongan dari Fakulti Perubatan Universiti Kebangsaan Malaysia, Senin siang (9/12).

Rombongan yang di dalamnya ada Dekan Fakulti Perubatan (Fakultas Kedokteran-Red) Prof Dr Raja Affendi Raja Ali itu, rupanya sudah berbekal petunjuk ketika melakukan tugas kedinasan di bidang radiologi yang menjadi spesialisasinya di RSUD Dr Moewardi Solo selama tiga hari.

Petunjuk atau rekomendasi itulah yang justru mengarahkan rombongan tamu dari Malaysia itu, langsung datang kepada Gusti Moeng jika hendak berkunjung di Keraton Surakarta.

Baca : Pembentukan Tak Cukup dengan Pendekatan Yuridis dan Historis

Petunjuk dan rekomendasi yang diterima dokter radiolog yang juga dekan Fakultas Kedokteran di universitas negeri di Malaysia itu, tentu tidak berlebihan. Karena, sejak generasi penjaga dan pelestari seni budaya di Keraton Surakarta berganti dari era Sinuhun Paku Buwono (PB) XII ke Sinuhun PB XIII sejak 2004, nama Gusti Moeng-lah yang banyak dikenal publik secara luas karena kapasitas dan ketokohannya sebagai representasi seni budaya keraton sekaligus politisi yang pernah duduk sebagai anggota DPR RI dua pariode terpisah.

Komunitas Pakasa di Malaysia

Selain kapasitas dan ketokohan di bidang seni budaya khas keraton yang mendatangkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, penerima The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang 2012 itu telah banyak dikenal dalam pergaulan internasional.

Setidaknya, banyaknya komunitas pemerhati seni budaya dari berbagai negara yang bersimpati dan menjalin tali silaturahmi dengan Keraton Surakarta, bisa dipastikan karena peran dan jasa Gusti Moeng.

Baca : DIS, Dari Upacara Wisuda Abdidalem Klaten dan Ponorogo

”Dekan Fakulti Perubatan itu langsung datang ke sini, karena direkomendasikan komunitas kerabat di Malaysia. Komunitas mereka di sana (Malaysia-Red) itu, sudah menjadi bagian dari Pakasa (Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta).

Anggota komunitas itu ratusan, bahkan lebih seribu orang. Kalau ada pejabat yang mau ke Indonesia dan ingin berkunjung ke keraton, pasti direkomendasikan ketemu saya. Karena keraton sedang begini, ya saya terima di ndalem Kayonan,” jelas Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com.

Baca : Selama Dua Tahun Nomer Rekening 500-an Abdidalem Menunggu Kejelasan Sikap Gubernur