Abstraksionisme, Puncak Pemujaan Individualisme

aliran-abstrak1

ABSTRAKSIONISME adalah penamaan semua kecenderungan seni rupa yang tidak mementingkan peniruan bentuk-bentuk alami, dalam arti menolak perupaan mimesis dalam proses penciptaan karya seni rupa.

Di bawah panji-panji abstraksionisme dikenal suprematisme, konstruktivisme, neo plastisisme, purisme, color field painting, tachisme, optical art, abstrak ekspresionisme, concrete art, dan lain-lain.

Abstraksionisme merupakan puncak pemujaan individualisme dalam aktivitas kreatif. Peseni sepenuhnya menggali kenyataan yang ada pada dirinya, termasuk intelektual, emosional, intuisi, maupun imajinasinya untuk menciptakan karya seni.

Yang memfokuskan ekselensi karya seni pada tatanan formalnya, yang disebut “significant form”.

Dengan demikian, kontak antara peseni dengan alam atau lingkungan tidak terlalu penting, dalam arti “aku” peseni menjadi bagian utama sumber energi penciptaan. Dalam artian paling murni seni abstrak adalah ciptaan-ciptaan yang terdiri dari susunan garis, bentuk, dan warna yang sama sekali bebas dari ilusi bentuk-bentuk yang kita kenal di alam.

Bentuknya bisa abstrak geometris (rasional) atau abstrak ekspresionis (emosional), atau variasi dari kedua kecenderungan tersebut.

Tokoh-tokoh seni lukis abstrak di Indonesia antara lain Oesman Effendi, Ahmad Sadali, Fajar Sidik, Handrio, Amri Yahya, Nashar, Sulebar M. Soekarman, Nunung WS, Makhfoed, Tulus Warsito, Yuno Delwizar Baswir, Utoyo Hadi, Edo Abdullah, Rusnoto Susanto, Andi Suwandi, Elisha, Wayan Gredeg, dan lain-lain.

aliran-abstrak2
Sem Cornelyoes Bangun, Dosen Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Bahasa, Universitas Negeri Jakarta

Penulis : Sem Cornelyoes Bangun, Dosen Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Bahasa, Universitas Negeri Jakarta

Editor : Budi Sarmun