Sitihinggil Kidul Direnovasi, Biayanya diambil Dari Dana Retribusi PKL

renovasi--sitihinggil2
FOTO ILUSTRASI

SOLO,suaramerdekasolo.com – Atap Sitihinggil yang keropos, rusak dan menimbulkan kebocoran di sejumlah tempat, perlu segera dibenahi.
Begitu ada dana masuk dari retribusi pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kawasan alun-alun kidul langsung dimanfaatkan untuk merenovasi sitihinggil.
Pembenahan atap sitihinggil dilakukan oleh Pengelola dan Pelaksana Alkid mulai Senin (2/12).

Proses renovasi masih berlangsung hingga Rabu (4/12). Para pekerja tampak sibuk mengerjakan atap dan mengecat seng yang digunakan untuk mengganti yang bocor.
Terkait renovasi tersebut dikemukakan Pimpinan Pengelola dan Pelaksana Alkid Keraton Surakarta, KRMH Adityo Soeryo Harbanu.

Baca : Selama Dua Tahun Nomer Rekening 500-an Abdidalem Menunggu Kejelasan Sikap Gubernur

Menurutnya untuk perbaikan atap bangunan sitihinggil kidul disiapkan anggaran Rp 20 juta hingga Rp 50 juta. Anggaran renovasi atap bangunan yang berdiri di lahan seluas 900 m2, lanjut dia, bersumber dari pengelolaan retribusi PKL.

”Renovasi atap merupakan kebutuhan mendesak karena melihat kondisi atap dan talang yang sudah lapuk. Kami merenovasi tanpa menggunakan dana dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Kota. Kami juga tidak dibantu dana dari Ingkang Sinuhun,” jelasnya, Rabu (4/12).

renovasi--sitihinggil1
RENOVASI SITIHINGGIL- Sejumlah pekerja sedang merenovasi atap Sitihinggil Kidul Keraton Surakarta, Rabu (4/12).(suaramerdekasolo.com/dok)

Baca : Tak Paham ”Sabda Pandita-Ratu”, Gejala Disorientasi Parah

Dia menjelaskan, jika tidak segera diperbaiki, atap yang bocor dikhawatirkan akan merusak kayu bangunan. Sebab, terakhir kali atap direvonasi pada April 2016. ”Kami pengelola dan pelaksana Alkid sekaligus santana dalem wajib nguri-uri bangunan peninggalan leluhur. Saya juga tidak bekerja sendiri karena telah mendapatkan izin dari Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari dalam merenovasi Sitihinggil,” paparnya.

Baca : ”Jangan Biarkan Keraton Terkesan tak Terawat”

Dalam membenahi sitihinggil kidul, Harbanu mengatakan, sudah berkomunikasi dengan PKL menggunakan pemasukan retribusi untuk renovasi atap dan 150 PKL tidak keberatan. Ditambahkan Harbanu, retribusi PKL sebanyak Rp 2.000/hari hingga Rp 3.000/hari sesuai lokasi berjualan.

Dia menjelaskan, renovasi atap terakhir menghabiskan anggaran sebanyak Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Sebelumnya, renovasi juga pernah dilakukan pada 2000. (Sri Hartanto)

Baca : Berkarya Seni Dengan Gergaji, Karya James McNabb

Editor : Budi Sarmun