Selama Dua Tahun Nomer Rekening 500-an Abdidalem Menunggu Kejelasan Sikap Gubernur

Masih Sah Sebagai Pegawai

Melihat suasana suka-cita dan riang gembira dalam pisowanan di Pendapa Sitinggil Lor siang itu, sungguh nyaris tak memperlihatkan bahwa 500-an abdidalem garap sedang ”mendapat beban berat” akibat tidak bisa masuk keraton.

Tidak tampak sedikitpun bahwa sebagain besar di antara mereka ”menderita” akibat buku tabungan dengan nomer rekening atas namanya, sudah dua tahun ini belum mendapat transfer gaji dari Biro Keuangan dan Biro Kepegawaian Pemprov Jateng.

”Prihatin” dan ”sedih” memang dirasakan kalangan abdidalem garap, karena mereka itu yang selama ini mengabdikan diri bekerja di keraton melalui berbagai bebadan yang ada, termasuk para juru kunci yang merawat makam raja-raja Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY) dan Astana Pajimatan Tegalarum (Slawi/Tegal).

Tetapi menderita dan ikut menanggung beban berat akibat konflik dan friksi di keraton, sudah nyaris menjadi hal yang biasa dihadapi sejak jumenengan nata 2004, bahkan banyak yang merasakan sejak Keraton Surakarta kehilangan kedaulatan ekonomi di alam republik.

”Ya betul kalau ada yang mengatakan yang paling menderita kalangan abdidalem garap, akibat konflik dan campur tangan pihak luar itu. Karena, mereka itulah yang setiap hari bekerja bersama saya, bersama semua pengageng dan jajaran di semua bebadan. Tiap hari kami semua hanya bekerja untuk memelihara adat, melestarikan seni budaya dan menjaga tegaknya adat atau paugeran itu.

Kalau tidak percaya, tanya mereka satu-persatu, alasan apa mereka tetap suwita di keraton?,” sebut Gusti Moeng, baik selaku Ketua LDA maupun Pengageng Sasana Wilapa menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, siang itu.

Persepsi dan Definisi yang Salah

Mas Lurah (ML) Triyono (60) mewakili para abdidalem Kebon Darat (kebersihan), Alex 57) abdidalem prajurit, Ningsih (45) abdidalem keparak pecaosan, Suti (60) abdidalem pecaosan, rata-rata mengaku masih prihatin dengan situasi keraton.

Terlebih, ada sebagian besar dari lebih 500 abdidalem garap, tidak diizinkan masuk keraton, sekaligus tidak pernah mendapat gaji walau statusnya masih sebagai pegawai dan tidak pernah ada surat pemecatan.

gaji-abdidalem4
ABDIDALEM PECAOSAN : Para abdidalem pecaosan yang hampir semuanya perempuan, sejak 2017 sudah tidak tampak mengenakan busana kerja seperti tampak pada gambar, sekalipun ikut antri mengambil gaji di teras Untarasana depan Kantor Pengageng Sasana Wilapa. Sebagian besar di antara mereka memilih mengikuti Gusti Moeng berada di luar keraton, dan mengambil gaji lewat transfer bank ke nomer rekening mereka. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)