Selama Dua Tahun Nomer Rekening 500-an Abdidalem Menunggu Kejelasan Sikap Gubernur

gaji-abdidalem1
ADA DI BELAKANGNYA : Putre tertua Sinuhun PB XII yang juga calon putra mahkota, KGPH Mangkubumi, ada di belakang bibinya, Gusti Moeng ketika bertanya tentang kesediaannya bekerja dan mengabdikan diri untuk melestarikan budaya di Keraton Surakarta. Suasana penuh canda-tawa itu berlangsung saat pisowanan di Pendapa Sitinggil Lor, Sabtu siang (30/11). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

PERBEDAAN persepsi terhadap definisi atau pengertian tentang gelar/jabatan Sinuhun (SISKS) Paku Buwono yang selama ini dikenal sangat sakral dan sangat dihormati kalangan internal masyarakat adat, belum lama ini benar-benar terjadi dalam perjalanan sejarah Keraton Mataram Surakarta yang berusia 274 tahun dari kelahirannya di Desa Sala tahun 1745.

Beda mengartikan yang berakibat panjang dan terkesan destruktif itu sungguh sulit dipahami, mengingat dalam gelar/jabatan melekat kalimat ”khalifatullah panatagama” yang sudah dijalankan dengan patuh oleh internal masyarakat adatnya, sejak Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma bertahta sebagai raja Mataram Islam (1593-1645).

Sungguh merupakan keberanian luar biasa ketika penguasa hendak menolong mengatasi situasi kemelut di Keraton Surakarta yang seakan tak berujung itu, menerbitkan SK Kemendagri kepada KGPH Tedjowulan yang ”menunjuknya” sebagai ”Wakil Sinuhun” di tahun 2017.

gaji-abdidalem2
ANTRE TANDATANGAN : Sekitar 400-an abdidalem garap antre untuk bertandatangan pada daftar hadir pisowanan di Pendapa Sitinggil Lor, Sabtu siang (30/11), untuk melengkapi data nomer rekening tabungan mereka, guna pencairan gaji yang hingga kini dicarikan talangan, sekaligus apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kelengkapan pencairan bantuan hibah. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Padahal, figur yang bersangkutan adalah tokoh ”mantan Sinuhun Paku Buwono XIII” yang berani menobatkan diri di luar keraton, untuk menyaingi (merebut pengaruh) KGPH Hangabehi yang jumeneng sebagai Sinuhun PB XIII di tahun 2004 atas dukungan hampir semua kerabat yang bernaung di Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan GKR Wandansari Koes Moertijah.

Sampai kapan ikatan kekerabatan di antara 35 putra-putri Sinuhun PB XII yang sudah ”ambyar” itu bisa dibangun utuh untuk bersatu kembali merekat?

Tidak ada seorang atau satu pihakpun yang bisa memastikan waktunya. Namun, di tengah upaya-upaya menyegarkan kembali proses rekonsiliasi yang buntu atau bahkan salah arah, ada sekilas kisah sekelompok abdidalem pekerja nyata sebagai pelestari adat, seni dan budaya yang kini tetap menanti fajar di tengah kegelapan kemelut yang seakan tiada berakhir.

Meski sudah berjalan rutin sebulan sekali di hari Minggu kedua, namun pisowanan abdidalem garap di bulan November yang baru bisa terlaksana Sabtu (30/11) itu, seakan menjadi sebuah pertemuan untuk merefleksi nasibnya yang kurang beruntung.

Karena, beban ”penderitaan” akibat insiden penutupan Keraton Surakarta bagi 500 lebih abdidalem garap dari semua bebadan dan jajaran yang dipimpin Gusti Moeng, hingga kini belum lepas walau sudah berjalan hampir tiga tahun.