Seleksi dengan Tes Kemampuan Berbahasa Jawa

Pengalaman selama ini menunjukkan, kekuasaan yang punya kekuatan, yang lebih banyak andil terjadinya kerusakan itu,” tunjuk GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang akrab disapa Gusti Moeng, yang dihubungi di tempat terpisah.

Rupanya, titik paling menonjol munculnya gejala inkonsistensi itu salah satunya justru terletak di Keraton Surakarta, terutama sejak friksinya memuncak pada April 2017.

menguji-konsistensi-kota-solo1
SRI RADYA LAKSANA : Simbol institusi Keraton Surakarta yang berada di ujung atas gapura di perempatan Gading, adalah simbol kebesaran peradaban Mataram yang berakhir di Surakarta Hadiningrat. Tetapi, simbol bernama Sri Radya Laksana itu ujungnya yang berupa mahkota nyaris habis karena rontok dimakan usia. Padahal, itu yang dibanggakan sebagai bagian dari kota heritage dunia yang dicatat Unesco. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena tokoh-tokoh yang memiliki kapasitas sebagai partanpara nata yang berada dalam wadah Lembaga Dewan Adat (LDA) lebih memilih mengikuti jejak Gusti Moeng berada di luar keraton sejak 2017, apa saja yang dilakukan keraton nyaris serba salah dan tak terarah ibarat orang ditutup matanya yang berjalan ”kesandung-sandung” dan ”kebentus-bentus”.

Ya, memang seperti itulah apabila seseorang sekalipun figur tokoh terpandang atau kelompok tempatnya melembaga, ketika sedang mengalami disorientasi berat. Seperti itulah apabila tokoh dan kelompoknya sedang ”koncatan kawicaksanan lan kawaskithan”.

Tentu saja, yang ikut jadi korban sangat banyak dan luas, misalnya publik warga kota, dalam soal penguasaan ”kawruh basa Jawa” dan ”kawruh budaya Jawa”, karena keraton yang melahirkan banyak pujangga itu, kini sudah ”koncatan kawicaksanan lan kawaskithan”. (Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun