Seleksi dengan Tes Kemampuan Berbahasa Jawa

menguji-konsistensi-kota-solo4
PESAN KONTRADIKTIF : Pesan dalam papan publikasi yang berbunyi ''Kedaling Lathi Pakarti kudu Nyawiji kinarya Hamemayu Hayuning Sasama, Hamemayuning Bawana'' di ujung timur halaman Kamandungan, Keraton Surakarta itu sungguh bagus dan ideal. Tetapi malah kontraproduktif dengan kondisi yang disandang gambar tokoh dalam papan publikasi itu, juga kontradiktif dengan situasi dan kondisi keraton sejak 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Gejala-gejala Inkonsistensi Predikat ”The Central of Java” (2-habis)

SIMBOL-SIMBOL ”kepedulian” penguasa yang sedikit merubah wajah Kota Surakarta atau Kutha Sala atau ”Kota Solo” setidaknya dalam 15 tahun terakhir, di satu sisi memang membanggakan dan seakan memberi jaminan masih ada harapan wajah ibu kota Keraton Surakarta Hadiningrat peninggalan peradaban Mataram itu masih akan berumur lama. Ini juga sekaligus seakan memberi jaminan kepada Unesco yang telah mencatat ”Kota Budaya” ini sebagai salah satu kota heritage dunia.

Namun bila dicermati lagi, upaya-upaya ”recovery” (pemulihan) yang telah dilakukan selama 15 tahun itu belum bisa mengembalikan citra dan nama Kota Surakarta sebagai Kota Budaya karena diakui sebagai salah satu pusat dan sumbernya budaya/peradaban Jawa.

Terlebih, ada bagian-bagian dari kota ini yang sangat kuat makna dan karakternya menjadi simbol kota, justru kini sedang menghalami perusakan berat, selain hilangnya berbagai daya dukung yang sifatnya intangible (tak bisa diraba) atau berbagai hal yang bekait dengan nilai-nilai dan norma adat/budaya.

menguji-konsistensi-kota-solo5
BERUBAH FUNGSI : Eks Kebon Raja atau Taman Sriwedari yang pelan-pelan berubah fungsi dan maknanya, adalah contoh bentuk atau gejalan inkonsistensi segenap komponen warga ”Kota Solo” terhadap eksistensi peradaban Jawa yang telah melahirkan kota yang menjadi pusat dan sumbernya budaya Jawa itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jadi, ”recovery” yang kelihatan sekali dilakukan mulai Wali Kota Jokowi (2005), jauh sebelum menjadi Presiden RI, misalnya wajib berseragam ”kejawen” dan hadirnya simbol-simbol fisik seperti patung topeng, papan berhuruf Jawa untuk semua gedung-gendung pemerintah di Solo, seakan tidak sebanding dengan proses ”perusakan” yang terjadi di eks kompleks ”Kebon Raja” atau Taman Sriwedari.

Artinya, gejala-gejala terjadinya inkonsistensi terhadap kota yang pernah disanjung dengan predikat ”The Central of Java” atau ”The Real of Java” itu, sesungguhnya terus berproses dan bermunculan sepanjang waktu hingga kini.

Sehingga, sanjungan Kota Solo dengan predikat ”The Central of Java” dan ”The Real of Java” itu, belum layak diterima atau belum sepenuhnya bisa diwujudkan kota ini.

Gejala-gejala inskonsistensi untuk memperhalus kata proses perusakan di salah satu ikon Kota Solo yaitu eks Kebon Raja itu, jelas tidak bisa dibantah. Sebab, fungsi utama lokasi itu kini sudah berubah dan akan berubah lebih dahsyat lagi beberapa waktu mendatang.

Padahal, para perintis peradaban Mataram atau peradaban Jawa membangun Kebon Raja itu, bermaksud memberi tempat yang fungsi utamanya agar warga secara luas terhibur hatinya dan bahagia batinnya.

Bila kemudian wujud fisik hiburan yang dimaksud bukan musik dangdut, rock, reggae dan simbol-simbol modern lainnya seperti pernah disuguhkan Taman Hiburan Remaja (THR), Kebon Raja masih bisa dijaga fungsinya memberi kesejukan dan kenyamanan sekaligus bisa menjadi tempat untuk menjaga ekologi lingkungan ketika ditanami berbagai jenis pohon yang bisa berfungsi sebagai hutan kota.

Bukan malah tak jelas arahnya dan makin kehilangan fungsi utama seperti yang sudah dicontohkan para leluhur peradaban, karena menjadi bagian dari ”janji-janji politik”.