Semangatnya Baik, Tetapi Perlu Diluruskan

menguji-konsistensi-kota-solo1
SRI RADYA LAKSANA : Simbol institusi Keraton Surakarta yang berada di ujung atas gapura di perempatan Gading, adalah simbol kebesaran peradaban Mataram yang berakhir di Surakarta Hadiningrat. Tetapi, simbol bernama Sri Radya Laksana itu ujungnya yang berupa mahkota nyaris habis karena rontok dimakan usia. Padahal, itu yang dibanggakan sebagai bagian dari kota heritage dunia yang dicatat Unesco. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Gejala-gejala Inkonsistensi Predikat ”The Central of Java” (1-bersambung)

FORUM  Seminar Nasional Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Daerah serta Pembelajarannya akan digelar di Wisma Perdamaian, Semarang, 16-17 Desember mendatang. Di forum ilmiah yang direncanakan akan kan dibuka Gunernur Jateng Ganjar Pranowo itu, mengundang GKR Wandansari Koes Moertijah sebagai keynote speaker di antara sejumlah pembicara dari otoritas lembaga yang mewakili penggunaan bahasa, sastra dan seni di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Jawa Barat dan Provinsi Bali.

Belum jelas ke mana arah seminar itu ketika mengumpulkan pihak-pihak yang punya otoritas terhadap penggunaan bahasa, sastra dan seni serta budaya daerah di masing-masing di wilayah provinsinya. Namun GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng yang diundang selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dimintai informasinya menyebut, dirinya hanya akan berbicara secara umum dalam soal pelestarian budaya Jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta.

”Saya akan mengimbau kepada pemerintah untuk serius dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di keraton. Tentu saja bersama-sama kami semua yang terwadahi dalam LDA. Bahkan bersama masyarakat yang masih peduli terhadap nilai-nilai peninggalan leluhur. Karena faktanya, diakui atau tidak, nilai-nilai peninggalan peradaban/budaya (Jawa), masih banyak manfaatnya dalam kehidupan secara luas kini, bahkan di masa mendatang,” tunjuk Pengageng Sasana Wilapa menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi siang. 

menguji-konsistensi-kota-solo2
MENIMBULKAN PERTANYAAN : Grafis aksara Jawa di sisi kiri yang menyebut kata (nama) ”Ngarsapura” dan aksara latin di kanan berbunyi ”Ngarsopuro” di sisi utara perempatan Pasar Pon, bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Tetapi sebaliknya tak bermakna apa-apa, karena generasi sekarang tidak banyak yang paham. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Melihat judulnya, seminar yang digelar bersama Pemprov Jateng, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Bahasa dan Yayasan Panakawan itu, akan membahas perkembangan bahasa, sastra, seni dan budaya daerah di masing-masing wilayahnya yang berkait dengan praktik maupun metode pembelajarannya. Jelas agak berbeda dengan Konggres Bahasa Jawa, misalnya, yang digelar lembaga-lembaga yang memiliki otoritas tentang itu, secara rutin tiap tahun, yang antara lain selalu diagendakan evaluasi perkembangan bahasa, penggunaan bahasa, pembakuan-pembakuan dan sebagainya yang lebih spesifik.

Melahirkan Banyak Pertanyaan

Kedua forum yang digelar secara terpisah dan satu di antaranya sudah berjalan rutin itu (sejak lama), memiliki makna sebagai bentuk kepedulian terutama pemerintah sebagai pihak yang memiliki otoritas dengan segala daya dukungnya untuk melestarikan salah satu produk peradaban Jawa itu. Tetapi sekali lagi, khusus untuk seminar tersebut, sejauh ini belum bisa diketahui ke mana arah misinya, terlebih ada pembanding tentang situasi dan kondisi dari wilayah bahasa, sastra, seni dan budaya wilayah etnik lain.