Abah Lala Masih Jualan Cendol Dawet

abah-lala-sunan-hotel
CENDOL DAWET : Penampilan Abah Lala dalam pentas Gembiralokal di ballroom The Sunan Hotel Solo, Selassie (27/11) malam. (suaramerdekasolo.com/Langgeng)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Abah Lala masih berjualan cendol dawet. Saat manggung di ballroom The Sunan Hotel Solo, Rabu (27/11) malam, semua lagu yang dia nyayikan bersama group musiknya, MG 86, diberi senggaan cendol dawet.

Selama ini, senggaan itulah yang melambungkan namanya hingga pentas musik nasional. Bahkan jargon cendol dawet itu kini juga banyak disuarakan penyanyi yang mendendangkan lagu dangdut. Lantaran sangat popular, senggaan cendol dawet kini mengalahkan senggaan “buka sithik joss”, yang sebelumnya sempat populer.

“Cendol dawet saiki wis terkenal sampai ke mana-mana, apa maneh mung limangatusan,” kata penyanyi yang selalu pakai topi itu.

Namun sayang, lagu Pamer Bojo ciptaan Didi Kempot yang sempat melambungkan Abah Lala tidak terdengar dalam pentas untuk memperingati ulang tahun The Sunan Hotel yang ke-12 itu.

Bahkan pria kelahiran Boyolali 24 Oktober 1986 itu hanya menyanyikan empat lagu saja, antara lain, Ojo Pamer, Gede Roso, dan Ora Usah Ngurusi Urusane Wong Liyo.

Angus Purwanto, nama asli Abah Lala, manggung bersama tiga penyanyi perempuan yang masih dalam satu management MG 86.

“Koq tidak ada lagu Pamer Bojo ya, padahal lagu itu paling tak tunggu,” kata penonton yang datang Dari Delanggu, Klaten.

Dalam acara itu, The Sunan Hotel Solo juga memberi penghargaan pada penyanyi keroncong Waljinah. Penghargaan live achievement setups pernah diberikan Kerala penyanyi Sruti Respati. Hadir dalam kesempatan itu, Bupati Karanganyar Juliyatmono dan wakilnya Rober Christanto, Ketua Kadin Surakarta Gareng S Haryanto.

“Dalam ulang tahun kedua belas ini, kami mengambil tema Gembira Lokal. Makanya, kami menampilkan potential lokal. Abah Lala kami undang karena berasal dari Boyolali. Ini Waljinah dan Sruti Respati adalah orang lokal yang punya potensi nasional,” jelas GM The Sunan Hotel Retno Wulandari.

Selain mengangkat orang-orang lokal, Retno juga mengangkat potensi yang lain. Seperti mengangkat makanan traditional melalui festival jajanan pasar dan menu yang disajikan dihotel, kemudian menampilkan busana tradisional melalui fashion show, dan lainnya.(Langgeng)

Editor : Budi Sarmun