Gusti Moeng Disambut Seperti Artis

ziarah-ki-ageng-ngerang
IKUTI KIRAB NAIK PIKUP : Gusti Moeng duduk di kursi di bak pikup yang akan mengangkutnya menuju makam Ki Ageng Wot Sinom, Desa Sinom Widodo, Tambakromo, Pati, dalam sebuah arak-arakan bersama kalangan siswa SD dan drumband yang memandunya menuju makam leluhur Dinasti Mataram, untuk mengikuti upacara haul dan peringatan Maulud Nabi Muhammad di situ, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Menyambung Silaturahmi, Memaknai Kekerabatan Leluhur Dinasti (2-habis)

HINGGA kini, ada kurang lebih 20-an petilasan dan makam tokoh leluhur Dinasti Mataram atau yang berkait secara langsung dengan Keraton Surakarta, yang tersebar di beberapa daerah sepanjang pantai utara (pantura). ”Gusti Moeng Bers” atau Gusti Moeng bersaudara adalah kerabat Keraton Surakarta yang kali pertama bersafari berkunjung ke petilasan-petilasan serta makam-makam itu sejak tahun 1990-an, dan makam Kiai Ageng Sela di Purwodadi, Kabupaten Grobogan yang kali pertama dikunjungi sebelum tahun 1980-an ketika dirinya masih SMP.

”Kalau sekadar kunjungan karena diutus berziarah, sebelum saya sudah sangat sering dilakukan keraton. Kalau Sinuhun-sinuhun terdahulu tedhak ke suatu tempat, juga sudah pasti sering. Misalnya Sinuhun PB X di Pesanggrahan Deles, lereng Merapi, Klaten. Tetapi yang sifatnya sinergi kerjasama dalam sebuah aktivitas, mungkin baru saya, kakak-kakak dan adik. Pokoknya yang perempuan,” tutur Gusti Moeng kepada suaramerdekasolo.com, ketika menjelaskan safari ziarahnya di dua tempat sekaligus di Kabupaten Pati, yaitu makam RMH Suwongso atau Ki Ageng Wot Sinom di Desa Sinom Widodo, Kecamatan Tambakromo dan makam Ki Ageng Ngerang di Desa Trimulyo, Kecamatan Juwana.

Datang di dua desa di kecamatan berjauhan itu, Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sekaligus Pengageng Sasana Wilapa disambut antusias bahkan ada yang mengelu-elukan seperti menyambut artis. Pimpinan rombongan yang bernama lengkap GKR Wandansari Koes Moertijah itu memang hanya ditemani kakaknya, GKR Retno Dumilah, karena kakak perempuan tertua GKR Galuh Kencana belum genap 40 hari meninggal, GKR Sekar Kencana dalam keadaan sakit dan si bungsu GKR Ayu Koes Indriyah selalu sibuk di Jakarta.

ziarah-ki-ageng-ngerang6
TURUN DARI PIKUP : Sesampai di depan kompleks makam Ki Ageng Wot Sinom, Gusti Moeng dipandu turun dari pikup yang mengangkutnya untuk mengikuti kirab dari Balai Desa Sinom Widodo, menjelang dimulainya upacara haul dan peringatan Maulud Nabi Muhammad di makam leluhur Dinasti Mataram itu, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Biasanya, mereka lima saudara perempuan yang sering dijuluki ”Lima Pendekar Putri Penegak Paugeran” selalu runtang-runtung dalam acara apapun yang bersangkut-paut dengan keraton, apalagi kalau bersafari ziarah/upacara adat jamasan di berbagai petilasan dan makam leluhur yang berkait dengan sejarah Dinasti Mataram atau Keraton Surakarta. Namun, waktu terus berjalan, usia terus bertambah dan lima putri bersaudara yang tadinya menjadi enam karena ada GKR Timoer, mulai berkurang satu dan banyak yang berhalangan.

Naik Mobil Pikup

Tak hanya kakak perempuan tertua Gusti Galuh yang dianggap sebagai pengganti sosok ibu (KRAy Pradapaningrum) yang sudah tidak bersama karena mendahului menghadap Sang Khalik, Gusti Moeng juga sering tinggal berdua menjalankan tugas adat, meskipun banyak dilakukan di luar keraton sejak 2017. Bila bersafari ziarah, teman satu-satunya hanyalah GKR Retno Dumilah, karena GKR Sekar Kencana mobilitasnya terbatas, GKR Ayu Koes Indriyah lebih sering tinggal di Jakarta dan putri tertua Sinuhun PB XIII yaitu GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani yang sejak lama lebih nyaman bergabung Gusti Moeng, juga sering sibuk mendampingi anak lelakinya yang masih duduk di SD.

Meski Gusti Moeng-Gusti Retno hanya datang duet dan ikut berkumpul di Balai Desa Sinom Widodo sejak pukul 09.00 pagi, namun masyarakat desa dan wilayah Kecamatan Tambakromo sudah tampak berbaris di kanan-kiri jalan yang akan dilalui kirab menuju makam Ki Ageng Wot Sinom yang jaraknya sekitar 1 KM. Kira-kira pukul 10.00, prosesi arak-arakan yang melibatkan kalangan siswa sekolah dan perangkat desa mengantar Gusti Moeng dan rombongan terdiri kerabat dan abdidalem ulama, berjalan menuju makam.

ziarah-ki-ageng-ngerang7
ROMBONGAN PENGAJIAN : Selain warga masyarakat, haul dan peringatan Maulud Nabi Muhammad di makam Ki Ageng Ngerang di Desa Trimulyo, Juwana, Pati, juga banyak didatangi ibu-ibu rombongan anggota pengajian dari berbagai daerah. Selain berziarah, banyak di antara mereka yang ingin menyalami Gusti Moeng saat hendak tabur bunga ke makam leluhur Dinasti Mataram itu, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebagian besar peserta prosesi arak-arakan berjalan kaki, tetapi hanya Gusti Moeng dan Gusti Retno yang duduk di bak terbuka mobil pikup, dipayungi dan berjalan pelan sambil melambaikan tangan pada warga yang menyambut di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan dua putridalem Sinuhun Paku Buwono XII yang dikawal beberapa sesepuh dan sentanadalem seperti KPH Broto Adiningrat dan KPH Sangkoyo Mangunkusumo itu, disambut seperti halnya artis dan setiba di depan makam turun dari pikup lalu disambut warga yang ingin meminta salaman dan foto (selfi) bersama.

Hubungan Emosional dan Kultural

Di makam Ki Ageng Wot Sinom, upacara doa, tahlil dan dzikir haul sekaligus peringatan Maulud Nabi Muhammad segera dimulai dan KRT Pujo Setiyonodipuro yang diminta memimpin, sambutan-sambutan diberikan antara lain dari kepala desa dan Gusti Moeng. Setelah sambutan, Gusti Moeng diminta potong nasi tumpeng lalu diadakan makan bersama, yang diakhiri dengan tabur bunga dan doa di dalam cungkup makam yang terletak di tengah perkampungan yang mulai padat penduduknya.

”Kalau dalam silsilah yang tertempel di dinding. Ki Ageng Wot Sinom adalah salah seorang anak Prabu Brawijaya V, raja terakhir Keraton Majapahit (Jatim). Ini yang ingin saya pelajari, siapa lagi tokoh-tokoh penting selain itu. Tetapi kalau keturunan Prabu Brawijaya V, itu jelas menjadi leluhur Dinasti Mataram, karena Raja Demak adalah salah satu anak Prabu Brawijaya V, yang kemudian menurunkan Keraton Pajang, kemudian Mataram. Semuanya, rutin setiap tahun saya kunjungi. Mudah-mudahan diberi kekuatan untuk terus menjalin silaturahmi, di tempat lebih banyak lagi,” harap Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang mendapat berbagai penghargaan, karena dedikasi dan komitmennya dalam pelestarian budaya peninggalan Mataram itu.

Karena ada 20 lebih tempat petilasan dan makam leluhur Mataram yang dikunjungi rutin tiap tahunnya sejak 20-an tahun lalu itu, jelas memberi makna dan keuntungan bagi banyak pihak. Setidaknya, ada kedekatan hubungan emosional dan kultural antara Gusti Moeng dan rombongan yang selalu mengikutinya dengan masyarakat di berbagai tempat yang tdikunjungi.

ziarah-ki-ageng-ngerang8
MENUNDUK DAN MENYEMBAH : Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat adat, Gusti Moeng selalu mengungkapkan rasa hormatnya dengan menunduk dan menyembah kepada para leluhurnya, seperti yang dilakukan di depan cungkup Ki Ageng Ngerang saat makam leluhur Mataran di Desa Trimulyo, Juwana itu diziarahi bersama rombongannya, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Peduli Lingkungan

Di daerah-daerah itu, Gusti Moeng sangat dikenal baik secara pribadi maupun sebagai sosok yang sangat ideal dalam merepresentasikan Keraton Surakarta dan lembaga masyarakat adatnya. Apalagi, banyak di antara warga di sekitar petilasan dan makam, bahkan sampai prangkat desa dan PNS daerah setempat, lahir kesadaran dan antusiasme luar biasa untuk belajar pengetahuan tentang budaya Jawa di Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, yang hingga kini tetap beraktivitas walau hanya memanfaatkan ndalem Kayonan, Baluwarti.

Dengan aktif bersafari ziarah ke sejumlah petilasan/makam yang setahunnya diagendakan selama 20 kali lebih itu, Gusti Moeng mendapatkan banyak masukan dan keluh-kesah warga, mulai dari kekurangan air di saat kemaru sampai banjir bandang di musim penghujan. Di antara keprihatinan itu, muncul akar masalahnya berupa penggundulan hutan di pegunungan Kendeng utara, yang bisa mendatangkan bencana tanah longsor, banjir bandang dan hilangnya sumber mata air.

”Saya sangat sependapat kalau ada gagasan dari warga desa meminta kerjasama pemerintah untuk segera mengadakan reboisasi. Saya ingin ikut mendorong gagasan penyelematan hutan dan sumber mata air. Manusia memang butuh pekerjaan dan sumber penghasilan untuk makan. Tetapi kalau hutan ditebangi dan dihabiskan sekarang, anak-cucu kita nanti kebagian apa….? Kalau caranya seperti itu, ya hanya meninggalkan bencana dan penderitaan,” tunjuk Gusti Moeng yang berharap agar warga Pakasa di berbagai daerah ikut membantu, atau syukur-syukur menjadi garda terdepan untuk bersama-sama masyarakat luas melakukan langkah nyata peduli lingkungan. (Won Poerwono-habis)    

ziarah-ki-ageng-ngerang9
BERGAMBAR GUSTI MOENG : Di gapura megah yang menghiasi pintu masuk makam Ki Ageng Ngerang di Desa Trimulyo, Juwana, sudah terpampang spanduk bergambar Gusti Moeng dan lambang Keraton Surakarta yang menyambut rombongan. Termasuk hiasan kerajinan janur yang dipasang di kanan-kiri gapura makam, ikut menyemarakkan haul dan peringatan Maulud Nabi Muhammad ala penerus Dinasti Mataram di desa itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun