Makam Ki Ageng Ngerang, Makin Banyak Diziarahi

ziarah-ki-ageng-ngerang1
MEMBERI SAMBUTAN : Gusti Moeng selaku Ketua LDA dan Pengageng Sasana Wilapa yang memimpin rombongan dari Keraton Surakarta, memberi sambutan di tengah upacara peringatan Maulud Nabi, haul dan ziarah di makam RMH Suwongso atau Ki Ageng Wot Sinom, seorang tokoh leluhur Keraton Pajang di Desa Sinom Widodo, Kecamatan Tambakromo, Pati, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Menyambung Silaturahmi, Memaknai Kekerabatan Leluhur Dinasti (1-bersambung)

UNTUK kali keenam Gusti Moeng memimpin rombongan dari Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, datang mengikuti haul Ki Ageng Ngerang yang digelar warga Desa Trimulyo Kecamatan Juwana, Pati, belum lama ini. Kedatangan rombongan sekitar 25 orang yang di dalamnya termasuk abdidalem juru donga itu, ternyata sudah lama bersinergi dengan warga Juwana atau lebih luas lagi, yang setiap tahun mengikuti haul di makam seorang tokoh penting dalam sejarah kerajaan di Jawa.

Bahkan ternyata, salah seorang anak Syeh Maulana Maghribi yang kemudian menjadi leluhur Dinasti Mataram, makamnya banyak diziarahi warga pantai utara (pantura) Jawa hingga jauh dari Jawa Timur itu, karena Sunan Ki Ageng Ngerang adalah tokoh adat sekaligus tokoh agama yang hidup di zaman para Wali Sanga di sekitar Keraton Demak itu.

Kini, Makamnya berada di tengah-tengah makam keluarga kecil yang sudah agak terlanjur menjadi tempat pemakaman umum (TPU) warga Desa Trimulyo, Kecamatan Juwana, meskipun ditutup dengan cungkup sangat indah dan mencolok di antara makam-makam sekitarnya yang hanya gundukan tanah dengan dua ”maijan”.

Baca : Tersisa Kesadaran Orientasi ”Materialistik”, Munculnya ”Dat-nyeng”

ziarah0ki-ageng-ngerang2
KERTAS KORAN BEKAS : Ribuan peziarah dan jemaah yang memperingati Maulud Nabi di depan panggung tak jauh dari mushola dan kompleks makam Ki Ageng Ngerang di Desa Trimulyo, Juwana, Pati, duduk lesehan berjemur dan hanya berteduh di bawah lembaran kertas koran bekas ketika mendengarkan sambutan Gusti Moeng, tausyiah Prof Dr KPP Noer Nasyiroh Hadiningrat dan tahlil-dzikir yang dipimpin KRT Pujo Setyonodipuro, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Namun, selama enam tahun berjalan ini, makam yang dilengkapi jalan setapak terhubung dengan jalan desa dan sebuah bangunan mushola cukup besa dan indah itu, makam mertua Panembahan Senapati itu memberi kehangatan bagi desa dan wilayah di sekitarnya. Karena, setiap datang saat haul atau khol (hari pasaran tepat meninggalnya), selalu ramai karena warga setempat menggelar upacara keagamaan yang tatacaranya bekerjasama Keraton Surakarta, yang semakin menarik datangnya para peziarah lebih banyak lagi dari berbagai daerah yang jauh.

Baca : Ajak Mahasiswa Internasional Selami Kearifan Lokal

Melihat keramaian di siang hari, beberapa waktu lalu, setidaknya ada tiga hal yang patut dicatat sebagai aspek positif dari kerjasama penyelenggaraan haul Sunan atau Ki Ageng Ngerang itu. Yang pertama adalah semakin menguat dan berkembangnya upacara adat haul di kompleks makam Ki Ageng Ngerang itu, menjadi objek wisata spiritual yang makin dikenal luas, yang bisa dirangkai dengan wisata jiarah di makam tokoh-tokoh adat/agama lain di wilayah Kabupaten Pati serta asepek-aspek lain yang berkait.

Catan penting kedua, adalah potensi tumbuhnya kegiatan ekonomi masyarakat di sekitarnya, karena tempat ziarah itu dikunjungi ribuan orang, baik di saat berlangsungnya haul yang digelar bersamaan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad.

Maupun keramaian kunjungan wisata di hari-hari lain, yang tentu akan menggerakkan semua komponen yang dibutuhkan seperti angkutan, warung-warung makan, oleh-oleh kuliner, produk kerajinan bahkan aneka produk dan hiburan karena ada beberapa hari digelar pasar malam atau bazar dengan menyiapkan panggung, baik untuk gelar seni Islami, pengajian akbar maupun hiburan seni lainnya semisal musik dangdut.

Baca : LDA Berharap Penyelesaian, Karena Kabinet Baru Sudah Terbentuk

ziarah0ki-ageng-ngerang3
CUNGKUP DAN POHON : Cungkup yang ditambahi peneduh tenda serta pepohonan di kompleks makam Ki Ageng Ngerang di Desa Trimulyo, Juwana, Pati, menjadi tempat berteduh dari terik panasnya siang hari saat berlangsung peringatan Maulud Nabi dan haul yang dihadiri Gusti Moeng beserta rombongan dari Keraton Surakarta dan didatangi ribuan peziarah dari berbagai daerah, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Yang ketiga dan penting di catat, adalah terjalinnya kembali tali silaturahmi antara Keraton Surakarta dengan sisa-sisa kerabat yang tertinggal di sekitar wilayah makam Ki Ageng Ngerang. Tali silaturahmi kekerabatan yang terjalin antara kerabat Keraton Surakarta dengan kerabat dan masyarakat di sekitar wilayah makam, akan menjadi pengikat antar komponen warga bangsa dan potensi besar terjaganya ketahanan budaya bangsa.

Tali silaturahmi yang pelan-pelan akan kembali terikat erat, tentu akan sangat membantu pemerintah/negara untuk kebutuhan kokohnya kebhinekaan dan tegaknya NKRI, di sisi lain akan menumbuhkan kesadaran cinta damai karena kesamaan memiliki leluhur yang membanggakan.

Karena, Ki Ageng Ngerang adalan salah satu anak Syech Maulana Magribhi, padahal Syech yang kompleks makamnya di atas bukit di pinggir jalan arah ke pantai Parangtritis/Parang Kusuma, Kasihan, Bantul (DIY), adalah generasi kesekian keturunan Nabi Muhammad.

Baca : ”Jangan Biarkan Keraton Terkesan tak Terawat”

”Warga Desa Trimulyo, Kecamatan Juwono, Pati mriki seharusnya merasa beruntung. Karena, dekat sekali dengan salah seorang tokoh besar yaitu Ki Ageng Ngerang. Beliau adalah salah seorang anak Syech Maulana Magribhi. Sedang Syech Maulana Magribhi adalah salah seorang keturunan Nabi Muhammad junjungan kita. Terlebih lagi, karena Ki Ageng Ngerang menurunkan tokoh-tokoh Mataram, ziarah kita sekarang selalu kerawuhan Gusti Moeng dan para kerabat dari Keraton Surakarta. Gimana coba……. Subchanaallah. Alhamdullillah ya Allah….,” demikian sepenggal kalimat tausyiah yang diberikan Prof Dr KPP Noer Nasyiroh Hadiningrat di acara peringatan Maulud Nabi Muhammad di upacara haul siang itu.

Gusti Moeng dan rombongan yang tadinya juga berada di atas panggung ketika doa, tahlil dan dzikir Sultanagungan dan salawat syahadat Quresh dipimpin abdidalem ulama KRT Pujo Setyonodipuro, meminta izin Prof Dr KPP Noer Nasyiroh untuk tabur bunga di makam Ki Ageng Ngerang.

ziarah-ki-ageng-ngerang5
TAMBAK KERING : Para peziarah yang memenuhi kompleks makam Ki Ageng Ngerang di Desa Trimulyo, Juwana, Pati, harus berjarak dengan panggung tempat Gusti Moeng dan panitia yang menggelar upacara doa, tahlil dan dzikir peringatan Maulud Nabi dan haul Ki Ageng Ngerang, karena ada areal tambak yang cukup luas dalam keadaan kering yang memutus tempat upacara. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Turun dari panggung berjalan menuju makam, nyaris penuh manusia, sehingga jalan Gusti Moeng tak tampak dari samping, karena sambutan tangan peziarah yang ingin bersalaman bersilaturahmi, harus disambut pula dengan jabat tangan hangat penuh kasih-sayang.

Baca : Akui Terlambat Susun Dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah

Sesampai di makam, ritualpun dimulai dan KRT Pujo Setyonodipuro kembali memimpin doa sebelum tabur bunga dilakukan Gusti Moeng, diikuti satu-satunya kakak yaitu GKR Retno Dumilah, sesepuh keraton KPH Broto Adiningrat, KPH Sangkoyo Mangun Kusumo serta rombongan lain. Doa itupun juga diamini oleh peziarah yang memenuhi nyaris semua permukaan tanah kompleks makam yang tinggal seluas kurang lebih 2 ribu meter persegi itu.

”Ini memang lahirnya sebuah kesadaran masyarakat yang begitu luas. Bahwa kami dan mereka sama-sama punya leluhur yang telah membentuk karakter setiap manusia Jawa ini. Maka, betul kata Prof Dr Noer Nasyiroh. Kita ini adalah umat Islam Jawa yang beruntung. Karena dilahirkan dari leluhur yang memiliki sikap keagamaan yang kuat, yaitu moderat. Tetapi punya warna yang kuat pula. yaitu berbudaya Jawa. Ini yang akan memperindah kebhinekaan itu. Ini yang akan memperkuat ketahanan budaya bangsa kita,” tegas KPP Wojoyo Adiningrat yang ikut dalam rombongan, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com sepulang dari berziarah.

Baca : Busana Berbagai Daerah Tampil di Festival Pengantin

Wakil Pengageng Mandra Budaya yang punya nama kecil Hernowo itu juga menyebutkan, Ki Ageng Ngerang punya menantu Panembahan Senapati, raja Mataram Hindu. Panembahan Senapati melahirkan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma yang menjadi raja Mataram Islam pertama, yang kemudian menurunkan Sinuhun Amangkurat Agung hingga Sinuhun Paku Buwono II, yang dari sini berdirilah Keraton Mataram Surakarta Hadiningrat dan lahirlah Sultan Hamengku Buwono (Keraton Ngayogyakarta), KGPAA Mangkunagoro I (Pura Mangkunegaran-Solo) dan KGPAA aku Alam I (Pura Pakualaman Jogja). (Won Poerwono-bersambung)

ziarah-ki-ageng-ngerang4
BAGIKAN NASI : Di pendapa makam Desa Sinom Widodo, Tambakromo, Pati, berlangsung upacara peringatan Maulud Nabi dan haul RMH Suwongso yang dihadiri Gusti Moeng dan rombongan dari Keraton Surakarta, sementara di bagian belakang berlangsung pembagian nasi dan lauk kepada warga dan peziarah, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Pentas Kolosal Budaya Lintas Agama Meriah dan Bermakna

Editor : Budi Sarmun