Perias Pengantin Putri Sebaiknya Wanita

pengantin-jawa5
MENULARKAN PENGETAHUAN : Agus Virna Saputri (40) adalah perias anggota Harpi Melati cabang Karanganyar. Tetapi dia juga menularkan pengetahuannya dasar-dasar rias pengantin Jawa gaya Solo di sebuah sanggar kursus di Solo. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Perkawinan Adat Jawa, Salah Satu Manfaat Adanya Keraton (2-habis)

SEBAGIAN besar yang diungkapkan Gusti Moeng berdasar pengalaman pribadinya yang pernah menjadi pengantin sesuai adat Jawa yang berlaku di Keraton Surakarta, maupun penguasaan pengetahuan tentang upacara adat perkawinan di keraton, memang nyata-nyata sudah memberi manfaat dalam kehidupan luas hingga kini.

Dan karena hal-ikhwal tentang penyelenggaraan upacara adat Jawa sampai pada resepsinya sudah dibakukan sebagai adat perkawinan gaya Solo, itu jelas merupakan salah satu bentuk pelestarian yang menjamin tatacara perkawinan yang menjadi bagian dari budaya Jawa itu akan berumur panjang lagi, bisa menembus ruang dan waktu walau zaman akan terus berubah.

”Ya, kalau upacara perkawinan dengan tatacaranya sesuai adat Jawa sudah dibakukan misalnya dalam gaya Solo, kalau dipakai terus di tengah masyarakat, itu berarti kelestariannya sudah terjaga dengan sendirinya. Dan itu, secara tidak langsung akan menjaga kelestarian budaya Jawa.

Zaman boleh berubah tiap dekade atau tiap abad. Nut jaman kelakone juga akan terus berjalan mengikuti. Tetapi selama semangat menggunakan kaidah-kaidah adat sampai pembakuan gaya (Solo), berarti masyarakat akan tetap menjaga kelangsungan seperti budaya Jawa,” papar Gusti Moeng yang hingga kini duduk sebagai Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN).

Mengapa masyarakat selalu antusias mencari bentuk-bentuk kesesuaian antara upacara adat perkawinan gaya Solo (Jawa) dengan situasi dan kondisi kehdiupan yang sedang terjadi ? Langsung atau tidak langsung, itu membuktikan bahwa peradaban sebagai sumber budaya Jawa masih memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam upacara itu, bahkan setiap bagian dari tatacaranya memiliki makna filosofis yang diyakini menciptakan keselarasan dan keseimbangan bagi kehidupan manusianya, baik bagi yang punya hajad mantu, pengantinnya sendiri, dan hubungan yang terjadi di antara lingkungan yang lebih luas, baik horisontal (dengan sesama) maupun vertikal (dengan Tuhan YME).

pengantin-jawa6
MEMBUAT SKETSA : Sesudah rambut di dahi dikerik, dibuat sketsa pola lukisan yang melanjutkan pola kerikan membentuk sudut-sudut lancip, lalu diisi dengan pewarna hitam yang akan memperindah tampak wajah secara keseluruhan.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Meski bukan sebagai praktisi atau ahli, tetapi sebagai seorang yang pernah mengalami dan memahami pengetahuan tentang upacara adat perkawinan di Keraton Surakarta, Gusti Moeng sangat sependapat dan membenarkan bahwa di dalam peristiwa perkawinan itulah menjadi momentum penting dalam kehidupan manusia. Karena, di saat itu nilai-nilai ketuhanan atau hubungan yang bersifat vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta begitu mendominasi, tetapi semuanya dibungkus dengan kearifan-kearifan lokal secara simbolik, tetapi disertai makna filosofis yang lengkap sesuai kebutuhannya.

Misalnya dalam tatacara kacar-kucur, sepasang pengantin menginjak telur, lalu mempelai perempuan membasuh kaki mempelai lelaki, itu dimaksudkan sebagai simbol harapan kelak sang istri akan selalu berbakti kepada suami. Dalam kitab suci apapun dari berbagai agama di dunia ini, pasti akan mengajarkan kesetiaan yang harus disadari dan dilakukan oleh sepasang suami-istri.

Sebagai tanda kesetiaan sang suami, dalam tatacara kacar-kucur lalu diperlihatkan mempelai lelaki menuang beras bercampur kepiangan uang logam dari kantong/selembar kain/tikar kecil ke dalam tempat yang sudah disediakan mempelai perempuan. Itu punya makna filosofi sebagai simbol kesetiaan suami sekaligus tanggungjawab dan kewajibannya akan menghidupi sang istri dan keluarga sepenuhnya.

Simbol-simbol yang berkait dengan reproduksi juga ada di upacara adat perkawinan itu, yaitu balang-balangan gantal dan dulang-dulangan, meskipun satu di antaranya sebenarnya bukan menjadi bagian pertunjukan di depan publik. Simbol-simbol yang punya makna filosofis untuk selalu diingat dan dilaksanakan setelah rumah-tangga terbentuk nanti, tidak hanya dicontohkan secara fisik dalam sejumlah tatacara, tetapi juga semua yang dikenakan pasangan mempelai dan berbagai atribut (termasuk sesajen) yang disertakan di ruang upacara perkawinan, termasuk tempat resepsi.

pengantin-jawa7
CUNDUK MENTUL : Sesudah menata rambut dan membungkus dengan untaian bunga melati, rias di bagian kepala dilanjutkan dengan memasang cunduk mentul.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Gusti Moeng menyebut, pengantin perempuan di keraton tidak mengenakan bunga yang dijepit di sanggulnya, karena bunga yang dijepit di sanggul bisa memberi isyarat yang berkonotasi macam-macam. Misalnya, bila bunga diselipkan mengarah ke samping kiri atau kanan, itu berarti janda atau perawan. Warna busana yang dikenakanpun, misalnya dodot untuk basahan di keraron hanya ada dua warna yaitu hijau atau bango tulak.

Soal rias atau paes, biasanya pengantin putri rambut di depan dihiasi centhung menyerupai jambul, yang terjadi di keraton jambulnya terbuat dari potongan rambut asli, bukan cetakan dari plastik atau logam. Di dekat sanggul, ada cunduk mentul, sebaiknya dicara yang berna-benar lentur, bisa bergoyang dan di ujungnya ada simbol kembang dan gajah, karena semua perlengkapan yang sudah dibakukan itu sebagai simbol yang memiliki makna filosofis yang dalam.

”Saya bukan praktisi atau ahli paes/rias. Tetapi saya pernah mengalami sendiri mengenakan hal-hal yang baku di keraton saat jadi pengantin. Yang saya pelajari di keraton, juga seperti itu. Jadi, kalau mau dibakukan yang tepat atau sesuai makna filosofinya saja. Cinde dan udhet yang melengkapi busana basahan, juga ada warna bakunya. Semua tentu punya makna yang positif. Makna itu doa atau harapan, saya yakin mesti serba positif,” sebut Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta yang pernah menjadi anggota DPR RI dua periode terpisah itu.

Masih ada lagi bagian-bagian dari rangkaian upacara adat di keraton yang positif dan masih baik dipakai dalam kehidupan masyarakat luas, misalnya kehadiran seorang sesepuh dalam tatacara panggih, kacar-kucur, balang-balangan gantal, hingga pemilihan juru paes/rias. Salah seorang sesepuh atau kerabat yang dituakan harus dihadirkan untuk beberapa tatacara itu, dan tidak seyogyanya dilakukan juru rias/paes, karena memang tidak tepat atau bukan kewenangannya.

pengantin-jawa8
RIAS PENGANTIN : Tahapan rias pengantin putri gaya Solo, mengulang pewarna bibir atau lipstick sesudah rambut dirias/dipaes dan dihias.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Pemilihan juru rias/paes, tentu perlu diperhatikan di zaman yang sudah sangat modern ini, karena ketrampilan rias/paes tidak hanya dimiliki kaum perempuan, tetapi juga kaum lelaki sebagai efek samping dari berkembangnya jasa ketrampilan salon yang terbuka untuk semua gender. Tetapi dalam upacara adat perkawinan di keraton, juru paes harus wanita, bahkan yang sudah berstatus janda, bila perlu kerabat sendiri yang sudah tidak diragukan lagi dalam penguasaan aturan adatnya.

Gusti Moeng sangat memahami, berkembangnya pengetahuan ketrampilan soal rias dan pesta perkawinan memang luar biasa, sebagai konsekuensi dari tuntuan modernitas yang teradaptasi dalam filosofi ”nut jaman kelakone”. Tetapi bisa juga karena menyangkut kepentingan pribadi yang punya gawe, karena ingin memperlihatkan diri sebagai orang berduit. Terlebih, ketika harus diadaptasi sebagai tuntutan keyakinan, misalnya harus menutup aurat, sehingga ada busana tambahan yang terbuat dari kain tile, atau dikenakan rompi, atau tambahan untaian kembang melati untuk membalut/menutupi rambut dan sebagainya.

”Prinsipnya saya hanya menunjukkan contoh-contoh yang berlaku di keraton sesuai adat. Semua yang digunakan pasti ada namanya, hanya simbolik, sarat makna filosofi dan penjelasan yang semua berkait dengan spiritual ketuhanan. Bukan asal pakai atau asal pasang. Kalau ada yang dibakukan oleh organisasi perias untuk dilakukan di tengah masyarakat yang lebih luas, mangga saja. Kalau ada yang akan diadaptasi, ditambah atau diganti, mangga saja,” jelas koroegrafer tari khas keraton penerima penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang tahun 2012 itu. (Won Poerwono-habis)

pengantin-jawa9
MENGUKUR KETEPATAN : Cara mengukur ketepatan dan tampak estetika kerikan yang nantinya akan diwarnai, yaitu dengan melihat bayangan di kaca lalu membandingkan dengan kondisi fisiknya di depan cermin. Itulah yang dilakukan seorang Agus Virna Saputri, wanita muda yang menggeluti rias pengantin putri gaya Solo dalam 10-an tahun ini.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun