Upaya Menyatukan Persepsi Gaya, Agar Dipahami Secara Jelas Maknanya

pengantin-jawa1
DODOT GAYA SOLO : Sebagai salah satu pembicara, Gusti Moeng menjelaskan pengalamannya di depan 600-an peserta seminar yang digelar Harpi Melati Jateng di Semarang, belum lama ini. Ketika menjadi pengantin, dirinya mengenakan kain dodot motif alas-alasan. Sebagai putridalem, dia yang harus mengikuti adat yang berlaku di Keraton Surakarta, yang kemudian diadopsi publik sebagai busana baku untuk pengantin putri gaya Solo. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Perkawinan Adat Jawa yang Diadopsi Publik, Tentu Bersumber dari Keraton (1-bersambung)

SELAMA dua hari (14-15/11), pengurus Badan Pimpinan Daerah (BPD) Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Jawa Tengah menggelar seminar di sebuah hotel berbintang di Semarang. ”Seminar Persamaan Persepsi Pengantin Solo Putri dan Basahan” itu antara lain menghadirkan GKR Wandansari Koes Moertijah, sebagai salah satu nara sumber/pembicaranya, karena dianggap sangat berkompeten menjelaskan berbagai hal yang baku tentang upacara pernikahan, khususnya tentang tata rias pengantin di Keraton Surakarta yang selama ini dianggap sebagai gaya Solo.

Soal gaya rias dan pengetahuan umum tentang pesta perkawinan adat Jawa, sebagai kegiatan jasa ketrampilan telah berkembang pesat, bahkan dijadikan patron/ukuran di tengah masyarakat yang jauh dari sumbernya, misalnya di Jakarta (Ibu Kota). Bahkan menjadi bagian dari unit usaha (EO) dari wedding party (pesta perkawinan) yang mengusung gaya etnik Solo selain gaya Jogja, sampai jauh di luar negeri.

Baca : Tersisa Kesadaran Orientasi ”Materialistik”, Munculnya ”Dat-nyeng”

Dan gaya yang menunjuk pada dua nama kota, yang nota bene punya latarbelakang kesejarahan sama-sama dari Dinasti Mataram itu, ternyata terlahir dari sejarah institusi masyarakat adat masing-masing yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat yang kemudian disebut Solo dan Keraton/Kesultanan Ngayogyakarta yang kemudian disebut Jogja.

Tetapi memang, di kalangan jasa perias pengantin anggota Harpi khususnya di wilayah Surakarta sendiri, masih ada pula ketrampilan yang dimiliki, yaitu gaya (Pura) Mangkunegaran.

pengantin-jawa2
SUDAH TAHU ADATNYA : Gusti Moeng ketika menjadi pengantin di tahun 1990-an, dirias atau dipaes kerabatnya sendiri yaitu istri KPH Angling Kusumo dari Pura Pakualaman (Jogja) atau menantu KGPAA Paku Alam IX. Juru paes dari kerabat yang punya darah keturunan dari Sinuhun Paku Buwono (PB) X itu, sudah tak perlu diarah-arahkan karena sudah tahu betul aturan baku pengantin adat gaya Keraton Surakarta yang kini diadopsi publik sebagai gaya Solo. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Jadi, yang disebut gaya Solo itu sebenarnya merujuk ke kaidah adat perkawinan yang berlaku di Keraton Surakarta. Demikian pula yang disebut gaya Jogja. Sebagai unit usaha jasa, di luar dua gaya itu memang ada gaya (Pura) Pakualaman (Jogja) dan Mangkunegaran (Solo).

Tetapi saya berbicara sesuai yang diminta, yaitu tentang gaya Solo ala Keraton Surakarta. Tidak hanya soal rias. Tetapi sampai contoh bentuk-bentuk yang ada dalam pesta perkawinan di keraton,” jelas GKR Wandansari Koes Moertijah yang akrab disapa Gusti Moeng, saat dihubungi suaramerdekasolo.com, tadi siang.

Baca : Tak Paham ”Sabda Pandita-Ratu”, Gejala Disorientasi Parah

Pengalamannya Jadi Contoh

Karena sesuai tema seminar untuk menyamakan persepsi tentang rias pengantin putri dan basahan gaya Solo, sebab itu yang dijelaskan kurang lebih selama 3 jam di depan para peserta yang jumlahnya 600-an itu adalah contoh-contoh pesta perkawinan adat yang pernah terjadi di Keraton Surakarta, termasuk khusus rias pengantin dan tatacara adat busana basahan.

Meski ada sesi tanya-jawab sampai sekitar setengah jam. tetapi rasanya tidak cukup untuk menjelaskan contoh-contoh perkawinan yang di gelar Sinuhun yang sedang jumeneng, misalnya mulai Sinuhun Paku Buwono (PB) IX, X dan XI yang dianggapnya terlalu sedikit dokumentasi terutama yang berupa foto-foto yang tersisa di keraton.

Dokumentasi perkawinan adat yang digelar semasa Sinuhun PB XII, apalagi sudah menginjak PB XIII sekarang ini, banyak didapat tidak saja di dalam keraton, melainkan masyarakat luas banyak yang memiliki. Namun di forum itu dijelaskan, contoh-contoh perkawinan dan tata cara adat perkawinan yang berlangsung memang rumit dan banyak sekali ubarampe yang harus diwujudkan, serta memakan waktu yang tidak singkat.

Baca : Jaga Budaya Adiluhung, Pengurus Yayasan Forum Budaya Mataram Dibentuk

Terutama, Gusti Moeng mencontohkan dirinya sendiri ketika menjalani upacara pernikahan adat di awal tahun 1990-an ketika dirinya dipinang KPH Edy Wirabhumi dan kini keduanya dikarunia dua putri itu. Yang namanya perkawinan adat di keraton, baik anak lelaki atau perempuan, yang memiliki hajad menantu adalah Sinuhun dan institusi Keraton Surakarta.

”Jadi tidak ada ngnduh mantu. Meskipun yang dinikahkan adalah anak perempuan, yang datang/kelihatan sejak ‘jonggolan’ atau ‘midodareni’ ya hanya calon pengantin lelaki sebelum tatacara panggih (temu) atau pertemuan mempelai. Pengantin perempuan baru kelihatan saat resepsi atau tatacara panggih di Pendapa Sasanamulya. Jadi, yang disajeni dan dilengkapi dengan ubarampe yang dua tempat itu, keraton dan Pendapa Sasanamulya,” jelas Ketua Lembaga Dewan (LDA) itu menceritakan pengalamannya menjadi pengantin, sekaligus menceritakan pengetahuan yang didapat dari dokumen-dokumen yang ada di Sasana Pustaka Keraton Surakarta.

pengantin-jawa3
PROSES DIKERIK : Gusti Moeng ketika menjadi pengantin di tahun 1990-an, ketika masih menjalani proses dikerik bagian dari proses paes atau rias wajah, sebelum didandani dengan busana adat pengantin Keraton Surakarta yang kemudian diadopsi menjadi gaya Solo. Proses paes dilakukan di dalam Bangsal Keputren keraton, ditunggui oleh dua abdidalem yang melayani proses persiapan pengantin putri. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sudah Ada Hiburan

Dalam sesi tanya-jawab tentang warna kain cinde yang benar dikenakan pengantin putri saat berkebaya, kemudian jenis cunduk mentul, warna dodotan, tatacara adat balang-balangan gantal, dulang-dulangan dan sebagainya. Sejauh yang diketahui dari dokumemn upacara pernikahan di zaman Sinuhun PB IX, X dan XI, termasuk dokumen ketika Rektor pertama UNS Prof Dr Haryo Mataram menikah di tahun 1950-an, semua tata cara adat yang dilakukan nyaris sama persis yang dialaminya ketika dinikahkan dengan KPH Edy di tahun 1990-an.

Baca : LDA Berharap Penyelesaian, Karena Kabinet Baru Sudah Terbentuk

Pernikahan GPH Haryo Mataram putradalem Sinuhun PB X itu di Pendapa Sasanamulya, karena tempat itu untuk menerima semua tamu secara umum, bukan saja kalangan kerabat. Dari dokumen perkawinan itu, ada suguhan sendratari ”Keong Mas” yang melukiskan ksah dari Keraton Kediri. Sebelum Sinuhun PB XI, suguhan tari atau hiburan tidak diketemukan dokumentasinya, sehingga belum bisa diketahui apakah dulunya sudah ada atau memang baru setelah abad 20 saja baru berkembang ada hiburan dalam pesta perkawinan.

”Yang perlu diperhatikan, kalaupun ada hiburan. Diyakini tidak digelar di kawasan kedaton, apalagi kawasan sakral kedaton. Maka ada gedung pertemuan. Kalau di sini ya Pendapa Sasanamulya itu. Ubarampe tuwuhan, di keraton saja sedikitnya ada 8 pasang. Belum lagi di Pendapa Sasanamulya. Ini jelas tidak untuk ditiru masyarakat luas,” papar Pengageng Sasana Wilapa itu.

Baca : Disorientasi atau Koncatan Kawicaksanan?

Bukan Asal Melempar

Banyaknya tuwuhan di keraton atau tempat Sinuhun memberi dawuh dan mendapat sungkeman pengantin, dipastikan sama banyaknya dengan sesajen yang cukup banyak pula item ragamnya. Tetapi sekali lagi, sesaji atau sesajen yang isinya bermacam ragam makanan masak sampai yang berupa masih mentah itu, hanya terjadi atau harus terwujud di upacara perkawinan adat keraton.

Baca : Mulai Hari Ini, ASN Klaten Pakai Selendang Lurik

Hal lain yang mencolok, adalah jalannya upacara perkawinan dari tahap demi tahap, yang berlangsung di keraton memang baik dan bisa ditiru masyarakat luas, apalagi dijadikan hal yang baku. Namun, harus diketahui benar makna dan fungsi masing-masing tatacara adat atau ubarampe (perlengkapan)nya.

pengantin-jawa4
NAIK JOLI JEMPANA : Tandu atau joli jempana yang dipakai untuk mengangkut Gusti Moeng dari Bangsal Keputren Keraton Surakarta menuju tempat upacara panggih di Pendapa Sasanamulya di tahun 1990-an, adalah bagian dari upacara adat perkawinan di keraton, yang tentu sudah tidak ada urgensinya untuk ditiru publik secara luas, yang kini ingin serba praktis, singkat waktu dan serba hemat biaya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Misalnya, ada tatacara balang-balangan gantal atau saling lempar gulungan sirih antara mempelai lelaki dengan pasangannya di tatacara panggih. Yang diperhatikan adalah mempelai lelai yang lebih dulu melempar dari arah atas ke bawah, sedangkan mempelai perempuan membalas melempar dari arah bawah ke atas.

”Jadi, bukan asal melempar dari arah yang sama, apalagi mempelai perempaun terkesan emosi hingga mirip seperti tawuran. Ada aturannya, karena tatacara itu melukiskan atau simbol pertemuan biologis. Sedangkan tatacara dulang-dulangan, kalau di keraton tidak diperlihatakan kepada publik atau di pesta perkawinan itu. Karena itu lebih tertutup lagi privasinya.

Baca : Ajak Mahasiswa Internasional Selami Kearifan Lokal

Sama halnya upacara siraman, sebenarnya bukan untuk konsumsi publik. Hanya dilakukan tokoh sesepuh, di dalam kamar mandi. Bagi publik yang ingin segalanya dipublikasikan karena punya duit, ya terserah. Mangga saja. Di keraton etika adatnya begitu,” tunjuk Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun