Disorientasi atau Koncatan Kawicaksanan?

mangayubagya1
HANYA MENYAMBUT : Baliho berukuran sedang yang terpampang di pojok perempatan Gladag sampai Minggu (10/11), adalah papan publikasi yang mengumumkan Sinuhun PB XIII dan Keraton Surakarta sedang menggelar hajadalem gunungan Garabeg Mulud. Tetapi anehnya, di situ keduanya malah hanya menyambut gembira upacara adat Sekaten 2019 itu. Aneh dan lucu sekali. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Aneh, Sinuhun dan Keraton Mangayubagya ”Hajadnya” Sendiri (1-bersambung)

SUDAH berjalan tiga tahun sejak April 2017, atau setidaknya dua kali sampai tahun ini, setiap berlangsung upacara adat di Keraton Surakarta selalu terlihat spanduk dan baliho publikasi yang isinya gambar Sinuhun PB XIII dan logo Keraton Surakarta serta kata-kata ucapan serta susunan acaranya secara singkat. Anehnya, sebuah kata yang tertulis berukuran paling besar justru berbunyi ”Mangayubagya” yang artinya menyambut gembira.

suaramerdekasolo.com mencatat, setidaknya ada dua kali pemasangan atribut publikasi tentang tingalan jumenengandalem atau ulang tahun tahta (2018 dan 2019) dan dua kali hajaddalem gunungan Garebeg Syawal, Garebeg Besar dan Garebeg Mulud atau Sekaten yang baru saja lewat, terpasang di beberapa titik, misalnya di pojok perempatan Gladag dan tembok samping pintu timur halaman Kamandungan. Sekilas institusi keraton itu bermaksud menunjukkan kepada publik tentang aktivitas adatnya, tetapi tanpa disadari atau tidak, ada hal-hal yang menunjukkan keanehan atau menjadi lucu ketika papan publikasi itu dicermati dengan sungguh-sungguh.

Apabila mencermati seluruh simbol dan kata-kata dalam papan publikasi itu, pesan yang hendak disampaikan kurang lebih Sinuhun PB XIII dan institusi Keraton Surakarta menyambut gembira (mangayubagya) hajaddalem gunungan Garebeg Mulud pada waktu dan tempat seperti disebutkan dalam papan publikasi itu. Ketika mencermati secara keseluruhan isi papan publikasi itu, muncul pertanyaan apakah masuk akal jika Sinuhun PB XIII yang merupakan simbol representatif dan institusi keraton, justru menempatkan diri sebagai pihak yang menyambut gembira hajadalem gunungan Garebeg Mulud atau Sekaten itu?

Mengidentifikasi Caranya Berkomunikasi

Masih ada banyak pertanyaan yang muncul kemudian jika mencermati berbagai hal yang berkait dengan cara-caramua berkomunikasi atau menyampaikan pesan lewat papan publikasi itu. Juga akan banyak pertanyaan ketika mencermati tatacara penyelenggaraan upacara adat Garebeg Mulud atau Sekaten, bahkan beberapa jenis upacara adat yang digelar selama ini, atau setidaknya sejak April 2017.

Dalam terminologi spiritual kebatinan Jawa, orang atau institusi yang mengalami disorientasi karena telah ”koncatan” (kehilangan) ”kawicaksanan” (kebijaksanaan). Karena konteksnya adalah mirip yang dialami Sinuhun PB XIII dan dalam institusi Keraton Surakarta, maka disorientasi itu disebabkan karena ”koncatan wahyu”. Hal-hal yang sulit ditangkap dengan mata telanjang atau tidak kasat mata ini memang belum ada testimoni dari hasil penelitian ilmiah, atau hasil olah ahli spiritual kebatinan apabila metode deteksi atau uji khusus untuk itu dipandang lebih pas.

Tetapi, dari buku berjudul ”Satrio Pinandito” (membawa Jaman Edan Menuju Jaman Kencono Rukmi) yang ditulis Purwadi, Agus Subagyo dan Imam Samroni dan diterbitkan Omah Tani Sleman tahun 2012, banyak hal yang bisa dijadikan pendekatan untuk mengidentifikasi gejala-gejala sikap spiritual kebatinan seorang tokoh pada zamannya. Banyaknya prasyarat yang tidak bisa terpenuhi karena hilang atau ”oncat”, sekan tepat untuk melukiskan situasi dan kondisi yang dialami Sinuhun PB XIII dan institusi yang sedang mereka ”kuasai” kini.

mangayubagya1
TAK PAHAM : Gejala-gejala disorientasi atau koncatan kawicaksanan menjadi sangat jelas dan lengkap, ketika orang atau lembaga di dalam Keraton Surakarta tidak memahami apa yang dilakukan telah mengaburkan esensi makna dan fungsinya. Termasuk memenuhi halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa yang dipenuhi aneka sarana mainan selama Sekaten 2019 berlangsung hingga Minggu (10/11) lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tak Paham yang Dilakukan

Ketika melihat pesan yang terdapat pada sarana publikasi di atas, sudah mengesankan bahwa dalam bentuk dan cara-caranya berkomunikasi yang dilakukan Sinuhun PB XIII dan orang-orang di sekitarnya sudah mengalami disorientasi, atau (nyaris) kehilangan orientasi dalam menjalankan manajemen institusi keraton. Terlebih, institusi itu hingga kini masih memiliki label kuat yaitu sebagai intitusi adat, yang penanganannya (manajerial) sangat beda jauh dengan institusi ormas, atau komunitas warga desa atau wilayah atau lainnya yang tanpa label adat.

Pada akhirnya, seseorang atau kelompok yang sedang mengelola sebuah lembaga, tetapi kehilangan orientasi, gejala-gejala dan ciri-ciri yang tampak kemudian adalah tidak lagi bisa mengenali jatidirinya (dan institusinya) siapa dan tidak tahu tempatnya yang paling tepat ada di mana?. Karena mengalami disorientasi, apapun yang dikerjakan sangat mungkin tidak bisa dipahami untuk keperluan apa dan maksudnya apa?

Setelah suaramerdekasolo.com berdiskusi dengan Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) yang notabene Ketua Majelis Adat Keraton se-Nusantara (MAKN) dan KRT Yusdianto Budayaningrat salah seorang dwija (guru) Sanggar Pawiyatan Pambiwara, sampailah pada kesimpulan sementara bahwa Keraton Surakarta yang terkesan ”koncatan kawicaksanan” atau disorientasi itu, karena memang tidak memiliki lembaga paranparanata atau lembaga Kapujanggan.

”Setelah jumenengan nata tahun 2004, sudah sempat diusulkan, dibahas dan hendak dibentuk. Tetapi mungkin banyak pertimbangan atau kesibukannya tercurah ke hal yang lebih penting, lembaga paranpara nata atau lembaga Kapunjanggan itu menjadi bagian dari Lembaga Dewan Adat (LDA) tang ternyata menjadi payung bagi semuanya. Karena LDA tidak dipakai bahkan disingkirkan, ya sudah, kurang lebih seperti ini jadinya,” tegas KRAT Yusdianto Budayaningrat yang dibenarkan KPH Edy Wirabhumi.

Diperbincangkan Publik

Banyak hal yang dianggap telah menyimpang dalam menjalankan roda pelestarian adat baik sebelum 2017 ketika Sinuhun PB XIII masih dalam situasi konfrontasi dengan kabinetnya di satu sisi, dan dengan LDA yang diketuai GKR Wandansari Koes Moertijah di sisi lain. Apalagi mulai April 2017 ketika lembaga Sinuhun PB XIII benar-benar terpisah oleh garis ”perseteruan” dengan kabinetnya yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa.

Penyimpangan dalam menjalankan adat, memang nyaris tidak dipahami publik di luar keraton, karena memang hanya diberlakukan di internal masyarakat adat penerus Dinasti Mataram itu. Tetapi, penyimpangan melalui simbol-simbol institusi keraton dalam kehidupan sehari-hari seperti munculnya kata-kata aneh di papan publikasi yang dipasang di ruang-ruang publik, tentu menjadi tanda-tanya besar dan perbincangan masyarakat yang masih memiliki referensi cukup tentang kaidah bahasa Jawa yang benar.

”Di berbagai pertemuan yang membahas budaya Jawa mulai dari tingkat kelurahan sampai perkumpulan-perkumpulan lintas sanggar dari berbagai daerah, banyak mempertanyakan kata-kata itu. Saya sampai kebingungan menjawabnya. Karena mereka semua tahu, kesalahan fatal itu justru terjadi di Keraton Surakarta yang selama ini diyakini sebagai pusat dan sumbernya budaya Jawa. Salah satu pertanyaan yang sulit saya jawab, ‘…keraton ‘kan yang memiliki dan menggelar upacara adat (Garebeg Mulud), mengapa Sinuhun dan keraton malah mangayubagya…?,” tiru KRT Yusdianto Budayaningrat sambil geleng-geleng kepala menyebutkan satu di antara pertanyaan masyarakat luas yang dianggapnya masih peduli dengan keraton dan Budaya Jawa. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun