Tim Pengabdian UNS Mendampingi Pembuatan Motif Batik Khas Ngawi

tim-pengabdian-uns-ngawi2

NGAWI,suaramerdekasolo.com – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang diketuai oleh Dra Nunung Sri Mulyani, M.Si dari Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB UNS dan beranggotakan Dr. Izza Mafruhah, SE., M.Si; Drs. Kresno Sarosa Pribadi, M.Si; Nurul Istiqomah, SE., M.Si dan Dewi Ismoyowati, SE., M.Ec. Dev melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Ngawi Jawa Timur dengan judul “Implementasi Warisan Budaya dalam Pengembangan Industri Batik di Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur.”

Nunung Sri Mulyani dalam rilis yang diterima suaramerdekasolo.com,Senin (11/11) menerangkan, kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk perhatian dan kontribusi nyata UNS terhadap UMKM batik di Kabupaten Ngawi.

” Motif batik yang berasal dari Ngawi belum begitu beragam. Moyif batik yang sudah ada di Ngawi adalah motif padi, bambu dan manusia purba,” katanya.

tim-pengabdian-uns-ngawi1

Pengabdian yang dilakukan dengan mengembangkan design motif batik Ngawi sebagai hasil alkuturasi budaya masyarakatnya, sehingga dapat menjadi aset untuk cultural herritage. Beberapa motif batik yang dikembangkan adalah motif Benteng Pendem/ Benteng Van den Bosch serta Waduk Pondok.

Kedua motif tersebut merupakan gambaran kekayaan budaya dan alam yang hanya terdapat di Ngawi, dan diharapkan menjadi salah satu motif batik ciri khas Ngawi yang bisa diterima pada pasar yang lebih luas.

Motif Batik Waduk Pondok

Diharapkan dengan adanya motif batik khas Ngawi yang terbaru, maka bisa menambah kekhasan motif batik yang ada di Ngawi serta dapat memperluas pangsa pasar.

Dikatakan, selama ini, batik dari Ngawi masih kalah pemasarannya dengan batik-batik yang berasal dari sekitar Ngawi, misalkan saja batik dari Magetan atau Sragen.

“Tim pengabdi juga melakukan pembinaan kepada UMKM mitra pengabdi untuk memberikan pelatihan metode membatik dengan malam dingin,” imbuhnya.

tim-pengabdian-uns-ngawi3

Sistem membatik dengan metode malam/ lilin dingin merupakan salah satu metode yang menggunakan malam yang sudah didinginkan, serta ditambah dengan formula tertentu supaya malam/ lilin tersebut tetap bisa menempel pada kain walaupun dalam kondisi dingin.

Biasanya proses membatik menggunakan malam/ lilin yang dipanaskan supaya bisa menempel pada kain. Metode tersebut mempersingkat pembuatan batik, karena menggunakan screen yang sudah ada motif batiknya sebelum pada proses pewarnaan, sehingga hanya membutuhkan waktu yang relative singkat untuk membuat pola batik tersebut.

Tim pengabdi juga memberikan bantuan berupa screen motif batik, meja cetak serta beberapa bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan batik dengan metode tersebut. (*)

Editor : Budi Sarmun