Tradisi Sadranan di Hari Pahlawan

tradisi-sadranan-musuk-boyolali
TENONG: Warga datang ke makam sembari membawa tenong berisi makanan dalam tradisi sadranan di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali. (suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Ratusan warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk mengikuti tradisi sadranan di pemakaman umum dukuh setempat, Minggu (10/11). Selain untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad, sadranan kali ini sekaligus memperingati Hari Pahlawan.

Warga pun berdatangan ke makam semabri membawa tenong maupun wadah lainnya yang berisi berbagai makanan. Mereka berasal dari sejumlah dukuh di Desa Sruni dan sekitarnya, antara lain dari Dukuh Mlambong, Gedongsari, Rejosari, Magersari, Tegalsari dan Wonodadi.

“Bahkan, warga dari daerah lain pun ikut datang pula karena memiliki leluhur yang dimakamkan di sini,” ujar salah seorang tokoh masyarakat, Zaini.

Acara diawali dengan kegiatan bubak atau bersih-bersih makam, yang telah dilakukan sehari sebelumnya atau Sabtu (9/11) pagi. Kemudian hari Minggu dilaksanakan tradisi tinggalan nenek moyang tersebut.

“Tradisi diawali dengan pembacaan dzikir tahlil.”

Setelah doa bersama, kemudian makanan yang dibawa dan dimasukkan tenong itu dimakan bersama-sama. Mereka juga saling tukar makanan. Bahkan, yang tidak membawa makanan pun tak bakal lapar karena ada saja warga yang menawarkan makanannya.

Hari Pahlawan

Sementara itu sesepuh warga setempat dan juga Ketua RW 04 Desa Sruni, Hadi Sutarno, mengatakan tradisi sadranan di bulan Mulud (penanggalan Jawa) itu sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang.

“Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang, yang terus dilestarikan hingga sekarang.”

Tujuannya antara lain untuk mendoakan kepada para leluhur dan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia, agar diampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat yang layak disisi Tuhan. Selain itu juga sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rejeki yang telah dilimpahkan.

Sadranan dilaksanakan setiap bulan Mulud (penanggalan jawa), sehingga oleh warga biasa disebut Muludan. Selain itu juga dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad. Di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, tradisi sadranan berlangsung dua kali dalam setiap tahun. “Selain di bulan Mulud, juga dilaksanakan di bulan Ruwah.”

Dijelaskan, tradisi sadranan kali ini termasuk unik karena juga bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Maka selain untuk mendoakan para leluhur juga untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun