”Jangan Biarkan Keraton Terkesan tak Terawat”

galuh-kencana6
MENGHORMATI ADAT : Gusti Galuh (almh) adalah sosok anak perempuan tertua kedua Sinuhun PB XII sangat menghormati adat yang digariskan pendiri Dinasti Mataram. Meski telapak kakinya kepanasan, tetap saja dilakukan karena aturan adat berziarah di makam leluhur harus bertelanjang kaki, seperti yang dilakukannya di makam Sinuhun Amangkurat di Slawi/Tegal, beberapa bulan sebelum meninggal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Gusti Galuh, Pejuang Penegak Paugeran Telah Tiada (4-habis)

SEPENGGAL kalimat terakhir yang diucapkan Gusti Galuh (almh) saat bertemu dengan dua adik (GKR Retno Dumilah dan GKR Wandansari Koes Moertijah) di kantor Badan Pengelola, kira-kira seminggu sebelum masuk rumah sakit, seakan menjadi sebuah pesan terakhir yang berkonotasi peringatan. Kalimat terakhir berbunyi ”……Hati-hati, jangan biarkan keraton terkesan tak terawat. Itu bisa menjadi alasan (pemerintah) untuk mengambil-alih keraton…….”, yang diucapkan sambil berjalan mengejar GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng, sang sambil bercanda keluar pintu kantor untuk mengajak kedua kakaknya segera mengisi perut karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 13.00 WIB hari itu.

Kalimat yang dilontarkan itu seakan hanya bagian dari senda-gurau antara ketiga kakak-beradik yang tampak sudah biasa mereka lakukan, karena sang kakak perempuan tertua yaitu Gusti Galuh, juga menangkap isyarat ajakan makan itu dengan bergegas melangkah sambil berkata ”…asem tenan ki… padune selak luwe…..,”.

Baca : Mengibaratkan Sinuhun, ”Mrucut Saka Gendhongan, Luput Saka Kekudangan”

GKR Retno Dumilah yang juga paham isyarat itu juga lekas beranjak dari tempat duduk dan mengejar dua saudaranya yang sudah menuju mobil yang diparkir di halaman depan kantor Badan Pengelola (BP), tempat beberapa bebadan atau kabinet pengikut Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sekaligus Pengageng Sasana Wilapa berkantor.

galuh-kencana7
MINUS SI BUNGSU : Gusti Galuh dan saudaranya perempuan dari garwadalem KRAy Pradapaningrum termasuk Gusti Moeng, sedang menikmati kereta kuda yang membawanya kirab keliling Kota Madiun, beberapa waktu lalu. Ke mana-mana, mereka sering minus si bungsu yaitu GKR Ayu Koes Indriyah yang sibuk di Jakarta, karena dua periode jadi anggota DPD RI. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Pertemuan singkat di kantor BP di saat jam makan siang itupun bubar. Tetapi suaramerdekasolo.com yang sempatmelakukan wawancara khususnya dengan Gusti Galuh, mendapat beberapa pernyataan dan bumbu-bumbu cerita bernuansa senda-gurau. Tetapi kalimat terakhir yang penggalannya seperti tertulis di atas, cukup jelas dan sempat diberi nada ”stressing” pembenaran oleh Gusti Moeng ketika sambil berlari keluar meninggalkan pertemuan yang juga disaksikan seorang abdidalem itu.

”…… Hati-hati, jangan biarkan keraton terkesan tak terawat. Itu bisa menjadi alasan (pemerintah) untuk mengambil-alih keraton……”. Penggalan paling akhir yang menutup pernyataannya sebelum meninggalkan ruang kantor ”untuk selamanya” adalah, ”….Yang sudah-sudah ‘kan begitu. Banyak peninggalan sejarah di banyak tempat yang akhirnya begitu. Lihat saja……,” sebut Gusti Galuh. Lalu terdengar kata :”…Betul sekali…. kita harus berhati-hati. Walau situasi dan kondisinya begini, kita harus merawat (keraton) sebisanya….,” sahut sang adik, Gusti Moeng yang seakan dibenarkan Gusti Retno (GKR Retno Dumilah) dengan kata : ”…Iya…bener..,” sambil bangkit dari duduk dan bergegas menyusul ke mobil.

Baca : Tampilnya Calon Putra Mahkota Sebagai Adipati Lampah

Tak Banyak yang Tahu

Kalimat yang diucapkan terkesan sambil bercanda itu, ternyata menjadi kalimat pesan peringatan yang paling berharga bagi semua, meskipun tak banyak yang mendengar dan tak banyak yang ”ngeh” atau memahami maksud dan tujuan serta makna tersembunyi sebagai kalimat perpisahan untuk selamanya. Sebab, sejumlah kerabat yang dimintai penjelasan suaramerdekasolo.com rata-rata mengaku tidak mendapat pesan khusus soal apapun di saat-saat atau menit-menit terakhir sebelum Gusti Galuh menghembuskan nafas terakhir pukul 09.30 WIB Kamis pagi (31/10) itu.

Mulai dari sesepuh di keraton KPH Broto Adiningrat (Wakil Pengageng Kusuma Wandawa), calon putra mahkota (KGPH Mangkubumi), putridalem Sinuhun PB XIII yaitu GKR Rumbai Kusumodewayani hingga KGPH Puger (Pengageng Kusuma Wandawa), semua mengaku tidak mendapat pesan apa-apa di saat-saat terakhir Gusti Galuh. Memang beda dengan Gusti Moeng dan mungkin Gusti Retno, meskipun posisinya juga sama, tetapi masih mengingat jelas candaan di kantor siang itulah sebenarnya yang menjadi pesan terakhir sangat penting, bahkan bisa dianggap peringatan atau ”warning” bagi semua kerabat institusi masyarakat adat penerus Dinasti Mataram.

galuh-kencana8
PENDEKAR PUTRI : Gusti Galuh dalam barisan Lima Pendekar Putri Penegak Adat, dalam suatu kesempatan berfoto bersama adik seibu (KGPH Puger) dan adik lain ibu (GPH Nur Cahyaningrat) di Sitinggil Lor, seusai melepas prosesi gunungan Garebeg Mulud, beberapa waktu lalu sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Kecewa Sangat Dalam, Karena Sinuhun ”Membelot”

”Kita semua tahu, banyak peninggalan bersejarah masa lalu yang hilang begitu saja karena perubahan situasi politik. Juga bisa sengaja dimusnakan. Tetapi ada juga yang digunakan begitu saja oleh pihak lain. La modus yang terakhir, seperti ada kesengajaan atau diciptakan proses yang akhirnya membuat bangunan peninggalan sejarah tidak terawat atau tidak terurus. Karena alasan itu, pemerintah/negara kemudian mengambil alih. La, keraton sekarang ini jangan sampai mengikuti permainan seperti itu. Jadi, betul sekali pesan peringatan Gusti Galuh,” tandas Gusti Moeng menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com yang mengubunginya tadi pagi.

Bagian dari Lelakon

Selain kalimat peringatan itu yang dianggap di urutan pertama pesan terpenting almarhumah, Gusti Moeng juga sangat setuju dengan pernyataan Gusti Galuh yang mengibaratkan Sinuhun PB XIII dengan kalimat :”Mrucut saka gendhongan, luput saka kekudangan” seperti bunyi janturan yang sering diucapkan dalang legendaris Ki Nartosabdo di depan kelir, untuk melukiskan sikap Prabu Duryudana yang mengingkari harapan keluarga darah ”kuru” (keturunan Abiyasa) dalam lakon ”Kresna Duta” atau sejenisnya.

Namun, walau Sinuhun PB XIII ”membelot” dari keluarga yang mendukung jumemengnya dan bergabung dengan kelompok yang dulu berusaha ”njongkeng kawibawannya”, KPH Broto Adiningrat yang ditemui secara terpisah (SMS.Com, 4/11) mengaku kurang setuju dengan istilah Gusti Galuh itu. Salah seorang cucu Sinuhun PB X itu menyatakan lebih tepat menyebut sikap Sinuhun PB XIII itu sebagai bagian dari lelakon, atau bagian dari perjalanan sejarah keraton yang harus diterima, dijalankan dengan sabar.

Baca : Tetap Menjaga Wibawa, Pantang Minta Belas Kasihan

galuh-kencana9
BERCANDA AKRAB : GKR Timoer Rumbai (putridalem Sinuhun PB XIII) tampak bercanda akrab dengan bibinya, Gusti Galuh, dan tiga bibi lainnya (minus GKR Ayu Koes Indriyah), saat melepas iring-iringan prosesi hajaddalem gunungan Garebeg Besar di halaman Pendapa Sasana Sewaka, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Pun ta, dilakoni mawon. Niku kabeh lelakon, lelakune kabeh kerabat sing kudu dilakoni. Lakune sejarah pancen kudu ngono. Kula kabeh kudu sabar. Mudah-mudahan menjadi awal yang baik untuk kerukunan semua putra/putridalem. Karena yang saya harapkan begitu. Wis ta…., mangke lak eneng dalan. (KGPH) Mangkubumi kula jaluk dadi Adipati Lampah, muga-muga dadi dalane keraton dadi rampung bebendune, dadi padang wusanane,” sebut KPH Broto yang selalu memunculkan sikap transendentalnya ketika keraton menghadapi masalah besar

Patuh Aturan Adat

Sekalipun sering diterima jauh-jauh sebelum Gusti Galuh meninggal, dua putra/putridalem Sinuhun PB XIII mengaku ingat saran dan pesan penting dari sang bibi. KGPH Mangkubumi sebagai calon putra mahkota, teringat pesan sang bibi agar tetap sabar, harus ingat sebagai putradalem yang patuh menjaga/menjalankan aturan adat. Menjadi seorang putradalem yang notabene bangsawan, harus senantiasa menjaga diri untuk tetap menjadi orang yang santun dan selalu rukun dengan semua saudaranya.

galuh-kencana10
MENARI BERSAMA : Maklumat Sinuhun PB XII 1 September, selalu diperingati Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, di antaranya diekspresikan dengan menari bersama di panggung Sendratari Ramayana, kompleks Candi Prambanan. Gusti Moeng, Gusti Galuh, Gusti Retno, Gusti Ayu dan Gusti Timoer terlibat semua sebagai penari, dan ketika sedang berlatih di Pendapa Sasanamulya, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Konsekuensi atau Harus Diurus Negara ?

”Saya diminta tetap eling lan waspada dalam hidup dan menghadapi kehidupan. Itu yang saya ingat-ingat terus. Patuh pada aturan adat. Itu yang akan selalu saya pegang teguh. Di sisi lain, saya selalu ingat teguran-tegurannya saat kami semua berlatih menari dan karawitan. Karena beliau tahu betul seni budaya keraton,” tunjuk putradalem yang akrab disapa Gusti Mangku itu.

Pesan yang berspirit mendorong ke arah kepemimpinan yang baik, ternyata tidak terasa banyak diterima GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani, kakak kandung KGPH Mangkubumi. Anak tertua Sinuhun PB XIII itu selalu dipesan agar menjadi teladan dan pandai-pandai ”ngemong”, karena posisinya sebagai anak (cucu perempuan) tertua baik dari sisi usia maupun dari urutan keluarga ayahnya. Gusti Galuh diakui selalu mendorongnya agar menguasai berbagai seni budaya dan aturan adat, karena dialah yang akan dituakan di antara generasi ketiga dari kakeknya, yaitu Sinuhun PB XII, yang akan menjadi generasi penerus pelestari Keraton Surakarta. (Won Poerwono-habis)

Baca : Ki Seno Nugroho, Titisan Ki Narto Sabdho itu Telah Lahir

Editor : Budi Sarmun