Mengibaratkan Sinuhun, ”Mrucut Saka Gendhongan, Luput Saka Kekudangan”

galuh-kencana1
SELALU DITELADANI : Gusti Galuh (almh) yang dianggap anak perempuan tertua dan menjadi pengganti sosok ibu (KRAy Pradapaningrum), selalu diteladani adik-adiknya atau ''Pendekar Putri Penegak Adat'' seperti ketika bersama Pakasa Cabang Klaten melihat dari dekat kondisi kagungandalem Pesanggrahan Tegalganda, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Gusti Galuh, Pejuang Penegak Paugeran Telah Tiada (3-bersambung)

BERSEPAKAT dengan beberapa gelintir orang yang tetap konsisten memegang teguh paugeran atau pranata adat, adalah sebuah pilihan GKR Galuh Kencana yang sungguh berat risikonya. Selain dianggap berseberangan dan dimusuhi kalangan saudaranya sendiri (seayah Sinuhun PB XII), juga ikut menanggung konsekuensi mendapat perlakuan yang tidak masuk akal oleh banyak pihak termasuk pemerintah, selain kekecewaan sangat dalam yang dibawa sampai ajal menjemputnya. (kridhamataram.suaramerdekasolo.com, 31/10).

Namun, dianggap berseberangan dan dimusuhi banyak pihak bukan berarti tidak baik, tidak wajar atau salah bila yang dijadikan ukuran adalah komitmen bersama untuk selalu menegakkan paugeran atau menjaga tegaknya pranata adat.

Terlebih, paugeran yang disepakati untuk tetap dijaga tegak untuk tetap dijalankan itu, berada di dalam ruang kehidupan institusi masyarakat adat penerus Dinasti Mataram, sebagai wujud sikap berbhakti kepada leluhur atau ”mikul dhuwur mendhem jero” para pendiri dinasti.

Baca : Tampilnya Calon Putra Mahkota Sebagai Adipati Lampah

Itulah sedikit gambaran untuk memotret profil GKR Galuh Kencana, anak kedua setelah Sinuhun PB XIII yang lahir dari ibu atau garwadalem KRAy Pradapaningrum. Anak perempuan tertua kedua setelah GKR Alit dari keseluruhan 35 putra-putri yang lahir dari enam garwadalem dan dikenal paling dekat dengan sang ayah sampai Sinuhun PB XII wafat di tahun 2004.

galuh-kencana1
ANG DITUAKAN : Gusti Galuh (almh) yang posisinya dituakan, selalu mendapat kesempatan mengawali dalam berbagai acara yang digelar di keraton, sebelum 2017, misalnya ketika menyerahkan penghargaan kepada rombongan kerabat dari Malaysia. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Pilihan yang sungguh berat itu, terjadi pada saat berlangsung proses suksesi alih kepemimpinan dari Sinuhun PB XII ke tangan Sinuhun PB XIII. Karena, hanya Gusti Galuh dan adik-adiknya seibu yang waktu itu masih utuh dan solid berjumlah 9 orang, ditambah seorang adik dari beda ibu, yaitu GPH Nur Cahyaningrat, bersepakat dan memutuskan untuk mendukung kakak lelaki tertuanya yaitu KGPH Hangabehi, jumeneng nata sebagai Sinuhun PB XIII di tahun 2004.

”Keukeuh” Menegakkan Paugeran

Kesepakatan dan keputusan yang diambil Gusti Galuh dan adik-adiknya, langsung mendapat ujian ketika salah seorang adiknya dari beda ibu yaitu KGPH Tedjowulan, dengan dibiayai seorang kerabat mendahului jumeneng nata sebagai Sinuhun PB XIII di luar keraton.

Baca : Kecewa Sangat Dalam, Karena Sinuhun ”Membelot”

Dalam posisi seperti itu, Gusti Moeng yang duduk sebagai Pengageng Sasana Wilapa justru merapatkan barisan bersama saudara perempuan mendukung keputusan Gusti Galuh, yaitu bersepakat memilih menegakkan paugeran hingga pantas disebut ”Lima Pendekar Putri Penegak Adat/Paugeran”.

Munculnya raja tandingan itu bukan hanya atas jaminan seorang kerabat yang menjadi cukongnya, tetapi didukung Pengageng Parentah Keraton GPH Dipokusumo, Pengageng Kasentanan KGPH Hadi Prabowo dan Pengageng Keputren GKR Alit. Mereka masih didukung nyaris semua di antara 35 putra-putri Sinuhun PB XII, yang tidak bersepakat dengan Gusti Galuh bersama 8 adiknya yang mendukung Sinuhun PB XIII (KGPH Hangabehi).

galuh-kencana2
PERAYAAN ULTAH : Dalam sebuah perayaan ultahnya yang berlangsung di gedhong Sasana Handrawina, sebelum 2017, Gusti Galuh tampak melayani cucu-cucunya yang disaksikan para kerabat dan saudaranya. Dia dikenal banyak menularkan dan menginformasikan berbagai hal yang menyangkut paugeran dan sejarah yang diperolehnya dari Sinuhun PB XII. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Keukeuh” memegang teguh tegaknya paugeran yang didukung nyaris semua kerabat trah darah dalem Sinuhun Amangkurat hingga Sinuhun PB XIII yang terwadahi dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan GKR Wandansari Koes Moetijah (Gusti Moeng), mampu memberi arah perjalanan Keraton Surakarta.

Walaupun, struktur kabinet atau bebadan yang terbentuk di tahun 2004 itu, tidak lagi menggunakan lembaga Pengageng Parentah Keraton karena pejabatnya bersama Pengageng Kasentanan dan Pengangeng Keputren memilih mengikuti perjalanan Sinuhun PB XIII ”tandingan” di luar keraton.

Baca : Tetap Menjaga Wibawa, Pantang Minta Belas Kasihan

Namun, ”badai” yang menghadang Gusti Galuh bersama Sinuhun PB XIII yang didukungnya tidak selesai dengan keputusan beberapa pejabat memilih berada di luar keraton bersama Sinuhun PB XIII tandingan yang didukungnya. Waktu terus berjalan, ”badai” itu makin sering datang, baik yang bernama rekonsiliasi, aksi komplain Sinuhun terhadap Pemprov Jateng dan berbagai bentuk upaya membubarkan soliditas kelembagaan pranata adat.

Jadi Titik Kelemahan

Rentetan ”badai” yang menguji kesabaran Gusti Galuh dan adik-adiknya, akhirnya membuahkan hasil juga. Karena setelah 2010, bantuan Pemprov untuk keraton dihentikan, yang segera disusul Pemkot Surakarta. Dan yang benar-benar membuat Gusti Galuh tidak habis pikir, kakak kandungnya yang jumeneng nata Sinuhun PB XIII itu akhirnya ”membelot”, bergabung dengan adik yang telah menyainginya sebagai raja tandingan. Anehnya, dua adiknya sekandung dan seibu malah mendukung dan ikut bergabung. Bahkan didukung Ketua DPR RI Marzuki Ali (waktu itu), dan tentu saja pemerintah.

galuh-kencana4
PENGAGENG KEPUTREN : Meski posisinya sebagai Pengageng Keputren, tetapi karena memiliki pengalaman dan kapasitas yang cukup dalam penguasaan seni budaya dan sejarah keraton, Gusti Galuh (almh) selalu diminta untuk menyerahkan berbagai penghargaan kepada warga Sanggar Pasinaon Pambiwara dan Pakasa, seperti yang dilakukan di Kabupaten Ponorogo (Jatim), beberapa bulan sebelum dia meninggal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Itulah peristiwa terakhir yang benar-benar membuat Gusti Galuh merasa sangat kecewa dan sangat dalam. Dalam sebuah wawancara dengan Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com di Kamar Nyonyah tahun antara 2014-2015, Gusti Galuh sempat melukiskan kekecewaannya dengan mengibaratkan sikap kakaknya itu dengan adagium Jawa yang berbunyi ”Mrucut saka gendhongan, luput saka kekudangan”.

Baca : Konsekuensi atau Harus Diurus Negara ?

”Ya benar juga, kalau diibaratkan seperti itu. Tetapi di sisi lain, sebagai kakak tertua dia telah ingkar dari tanggungjawabnya yang seharusnya mengayomi semua adik-adiknya. Ngayomi dan merangkul semua kerabat. Kenapa tidak bisa begitu?. Ya di sinilah titik kelemahannya. Karena kakak saya (Sinuhun PB XIII) dalam kondisi yang sudah tidak normal (tidak sehat) alias cacat permanen, justru dimanfaatkan orang-orang yang berambisi masuk keraton dengan segala rencananya”.

”Lihat saja serangkaian kejadian setelah itu. Insiden 2017 yang justru didukung pemerintah dengan mengerahkan ribuan polisi dan tentara, misalnya. Itu yang membuat Gusti Galuh bertambah dalam sakit hatinya. Benar-benar nandhes,” sebut Gusti Moeng yang mengaku masih menjabat Pengageng Sasana Wilapa selain Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta dan sejumlah jabatan lain di lingkungan masyarakat adat itu, saat dihubungi di tempat terpisah, kemarin. (Won Poerwono-bersambung)

galuh-kencana5
PUNYA KAPASITAS : Gusti Galuh (almh) punya kapasitas yang cukup pada penguasaan seni budaya misalnya seni karawitan. Sebab itu, di mana-mana sangat tertarik pada seni karawitan, seperti saat bersama rombongan menikmati klenengan sehari sebelum upacara ”Jamasan Makam Sinuhun Amangkurat” di Slawi, kira-kira dua bulan sebelum mneninggal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Praktik Perdagangan “Gelap” Jadi Subur Karena Jauh dari Jangkauan Hukum

Editor : Budi Sarmun