Tampilnya Calon Putra Mahkota Sebagai Adipati Lampah

gkr-galuh-kencana2
MELAPOR SINUHUN : Calon putra mahkota KGPH Mangkubumi melapor sekaligus minta izin untuk membawa jenazah menuju mobil yang akan mengangkut ke makam raja-raja Mataram, Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), tadi siang. Karena dia adalah ditunjuk sebagai Adipati Lampah oleh Pengageng Kusuma Wandawa, sebagai pemimpin prosesi dari rumah duka ke tempat peristirahatan terakhir. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Gusti Galuh, Pejuang Penegak Paugeran Telah Tiada (2-bersambung)

MENGAPA almarhumah GKR Galuh Kencana begitu kecewa dan sampai-sampai, gangguan kesehatan yang dideritanya itu diindikasikan salah satunya akibat tertekan?

Tak perlu dipersoalkan siapa yang memiliki kesimpulan seperti itu, tetapi faktanya banyak orang yang bersangkut-paut dengan persoalan friksi di Keraton Surakarta yang berlarut-larut tanpa berkesudahan sejak 2004 hingga kini, sangatlah wajar sampai menguras energi, termasuk karena kerasnya berfikir hingga menyebabkan tertekan atau semacam stres.

Efek psikologis dari memikirkan persoalan friksi di antara keluarga besar putra-putri Sinuhun Paku Buwono (PB) XII di satu sisi, kemudian memikirkan nasib Keraton Surakarta di mata pergaulan sosial kemasyarakatan dan di mata negara/pemerintah di sisi lain, pasti dirasakan siapa saja yang berada di lembaga masyarakat adat penerus Dinasti Mataram itu. Tidak hanya sejak peristiwa suksesi 2004 hingga insiden 2017 itu saja, tetapi mungkin saja malah sudah merasakan situasi dan kondisi akibat perubahan yang tergolong ”ekstrem” sejak Keraton Surakarta berada di alam republik.

Baca : Kecewa Sangat Dalam, Karena Sinuhun ”Membelot”

Kepastian dari efek psikologis itu, memang perlu dikaji lagi secara medis atau secara ilmiah, misalnya untuk kebutuhan penulisan sejarah keraton di alam republik secara lengkap. Karena, sosok kehidupan Gusti Galuh pasti menarik untuk digali latarbelakang ketokohannya. Tetapi, pernyataan Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) KPH Edy Wirabhumi saat ngobrol dengan suaramerdekasolo.com, kemarin (SMS.Com/31/10), bisa menjadi indikator kuat adanya korelasi antara situasi dan kondisi keraton dengan kekecewaan Gusti Galuh yang dibawa sampai akhir hayatnya.

gkr-galuh-kencana2

”Kami semua selalu bersama-sama seperjuangan, tidak kurang-kurang menghibur dan memberi saran/masukan kepada Gusti Galuh. Kami selalu meminta beliau untuk mengendorkan perasaan itu sedikit demi sedikit. Setidaknya, meminta beliau untuk tidak terus-menerus menyesali peristiwa-peritstiwa itu. Kami selalu mengajaknya tetap sabar dan selalu menatap masa depan, generasi anak-cucu yang akan meneruskan pelestarian keraton perlu mendesak dipersiapkan.”

Baca : Tetap Menjaga Wibawa, Pantang Minta Belas Kasihan

”Karena beliau yang kami tuakan, dan sudah dianggap sebagai pengganti ibu dari adik-adiknya. Beliau yang paling kelihatan merasa memendam kecewa sangat dalam, atas segala persoalan yang terjadi di keraton. Baik sejak 2004, maupun rentetan peristiwa lanjutannya, yang hingga kini belum terselesaikan,” jelas adik ipar almarhumah di Pendapa Sasanamulya, kemarin sore, di sela-sela mengatur kesibukan rencana pemakaman jenazah almarhumah.

Akte Kematian Diserahkan Langsung

Seperti yang sudah dirancang, jenazah Gusti Galuh pagi tadi dilepas dalam sebuah upacara adat yang berlangsung di Pendapa Sasanamulya antara lain tatacara ”brobosan”, serta mendapat uca[an dukacita dari Pemkot yang diwakili Wawali Kota Drs Achmad Purnomo. Pada kesempatan itu juga diserahkan langsung akte kematian yang diterima anak kedua almarhumah, yaitu Ginda Ferachtriawan (anggota FPDIP DPRD Solo) untuk mewakili keluarga.

gkr-galuh-kencana8
MATA SEMBAB : Dengan kedua mata masih tampak sembab karena meratapi kepergian almarhumah (Dusti Galuh), Gusti Moeng mengiring peti jenazah yang akan dibawa masuk ke mobil dan seterusnya menuju ke Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), tadi siang. Sementara suaminya, KPH Edy Wirabhumi mengikuti dari belakang. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Peristiwa penyerahan itu disaksikan kakak sulung almarhumah yang juga Sinuhun Paku Buwono XIII, GKR Alit (kakak perempuan lain ibu) dan sejumlah adik-adik sekandung bersama keluarga masing-masing dan kerabat serta para pelayat lain. Di antara para pelayat itu tidak tampak ”mahamentri” KGPH Panembahan Tedjowulan, adik almarhumah lain ibu yang pernah menyaingi dengan jememeng nata Sinuhun PB XIII pada tahun 2004.

Isak-tangis tentu tak bisa ditahan, begitu calon putra mahkota KGPH Mangkubumi selaku Adipati Lampah seusai meminta izin ayahandanya (Sinuhun PB XIII), begitu gending ”Pegatsih” dikumandangkan untuk mengiringi langkah barisan abdidalem penbawa dan pengiring jenazah, dari dalam ndalem Sasanamulya menuju ke mobil jenazah. Seperti peristiwa lelayu lazimnya di keraton, apabila ada kerabat raja yang meninggal, prosesi membawa peti jenazah menuju mobil jenazah selalu diiringi gending ”Pegatsih”, gending yang melukiskan putusnya hubungan kasih sayang antara almarhumah dengan semua yang ditinggal.

Baca : Praktik Perdagangan “Gelap” Jadi Subur Karena Jauh dari Jangkauan Hukum

Meski juru pranatacara (MC) Jawa sudah mempersilakan jenazah untuk dibawa menuju mobil jenazah, tatacara adat megharuskan sang Adipati Lampah untuk melaporkan prosesi itu kepada KGPH Puger selaku Pengageng Kusuma Wandawa yang tidak lain adalah pamannya. Begitu sampai di halaman ndalem pendapa dan jenazah masuk mobil, sekitar pukul 10.00 WIB iring-iringan bergerak meninggalkan pendapa.

Sinuhun Antar ke Liang Lahat

Tiba di makam Raja-raja Mataram di Astana Pajimatan, Imogiri, Bantul (DIY) sekitar pukul 12.00, jenazah langsung dishalatkan di Masjid Giri Cipto dan sekitar 30 menit kemudian prosesi berjalan menuju liang lahat, di kompleks pemakaman putra-putri Sinuhun PB XII atau kompleks Pakubuwanan atau Keraton ”Kasunanan” Surakarta. Ada sejumlah abdidalem perempuan pembawa kembang dan ubarampe pemakaman berjalan di depan peti jenazah, yang diikuti kalangan keluarga kecil almarhumah dan para kerabat.

Hampir semua keluarga kecil almarhumah dan keluarga seibu yaitu dari garwadalem KRAy Pradapaningrum yang berbusana adat serba hitam mengantar sampai ke liang lahat, begitu pula banyak di antara kerabat yang mengikuti upacara memasukkan peti jenazah di liang lahat. Bahkan, Sinuhun PB XIII yang dikawal sejumlah pasukan pengawal sipil dan polisi juga tampak di situ.

gkr-galuh-kencana3
DI ATAS KURSI RODA : Sinuhun PB XIII yang menderita sakit dan sudah p cacat permanen, berada di atas kursi roda seusai mengantar jenazah sang adik, Gusti Galuh, sampai di liang lahat, tampak turun untuk meninggalkan Astana Pajimatan Imogiri, Bantul, DIY, tadi siang. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Didanai APBD Surakarta, 20 SMP Di Solo Dibantu Seprangkat Gamelan

Kedatangan Sinuhun ditemani GKR Alit, KGPH Puspo Hadinoto, GRAy Koes Sapardiyah, KGPH Dipokusumo. Tetapi dua adik lelaki kandung yang juga adik almarhumah seibu yaitu KGPH Benowo dan GPH Madu Kusumo tidak kelihatan melayat. Adik lain ibu yaitu KGPH Hadi Prabowo berikut ”mahamentri” KGPH Panembahan Tedjowulan juga tidak kelihatan di antara pelayat di makam.

Tidak sampai dua jam, proses pemakaman selesai tetapi masih banyak yang tinggal dan pulang belakangan, misalnya tiga adik perempuannya yaitu GKR Sekar Kencana, GKR Retno Dumilah, GKR Wandansari Koes Moertijah (Gusti Moeng) dan GKR Ayu Koes Indriyah yang merupakan Pendekar Pejuang Penegak Adat. Adik lelaki seibu yang kelihatan hanyalah KGPH Puger, yang diikuti sejumlah anak-cucu keluarga seibu yang ikut mengantar sampai liang lahat.

gkr-galuh-kencana4
CIRI ADAT BERDUKA : Barisan abdidalem wanita pembawa baki berisi bunga dan berbagai ubarampe perlengkapan upacara pemakaman, adalah salah satu pemandangan upacara adat ciri khas Keraton Surakarta yang tampak dalam upacara pemakaman jenazah Gusti Galuh di Astana Pajimatan Imogiri, Bantul, DIY, tadi siang.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Ya sudah, kami semua harus ikhlas melepaskan (Gusti Galuh). Walau sedih, tetap ada hikmahnya juga. Terutama untuk memberi kesempatan KGPH Mangkubumi tampil memimpin upacara seperti ini. Karena saya yang memintanya untuk jadi Adipati Lampah. Karena saya yang dituakan dan tahu soal itu. Dia ‘kan calon putra mahkota. Jadi, harus mulai berlatih tampil memimpin,” ujar KPH Broto Adiningrat, salah seorang sesepuh yang juga Wakil Pengageng Kusumo Wandawa, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com seusai upacara pemakaman. (Won Poerwono-bersambung)

Baca : MAKN Bentuk Dewan Pimpinan Wilayah Bali Tebentuk

Editor : Budi Sarmun