Kecewa Sangat Dalam, Karena Sinuhun ”Membelot”

gkr-galuh-kencana1
TELAH TIADA : GKR Galuh Kencana ketika nyekar (berziarah) ke makam leluhur KP Tjakradiningrat V di makam raja-raja Keraton Sumenep, beberapa waktu lalu. Putri pejuang adat itu kini telah tiada, menyusul sang suami, KPH Satryo Hadinagoro yang meninggal sekitar 5 bulan lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Gusti Galuh, Pejuang Penegak Paugeran Telah Tiada (1-bersambung)

TERNYATA, GKR Galuh Kencana yang bernama kecil GRAy Koes Soepijah itu adalah satu di antara 10 bersaudara kandung seibu yang begitu mendalam atau nandhes kecewanya, akibat Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII ”membelot” ke kelompok yang pernah dianggap ”merongrong” ”kawibawan adeging ratu” pada mulai 2004 dan pincaknya 2017. Kekecewaan yang begitu dalam itu, sampai dibawa saat ajal menjemjput anak tertua ketiga dari 35 putra-putri Sinuhun PB XII, Kamis Kliwon pagi tadi, pukul 09.30 WIB.

Putridalem yang masih menjabat Pengageng Keputren, tertua kedua setelah GKR Alit dari semua anak perempuan Sinuhun PB XII itu, menghembuskan nafas terakhir di usia 69 tahun, beberapa jam setelah menjalani operasi usus di RS Kasih Ibu (Solo). Praktis, belum genap tiga hari setelah datang di rumah sakit yang awalnya hanya ingin memeriksakan keluhannya sakit di perut, tetapi setelah dicek secara tetiliti lalu dokter memutuskan untuk mengoperasinya.

”Habis dioperasi sudah baik. Malah sudah sadar dan bisa diajak bicara, lancar. Bahkan sudah boleh makan. Intinya tinggal menunggu pemulihan dan segera pulang. Tapi…., ya seperti itulah kehendak Yang Maha Kuasa. Sementara, kami yang sehari-hari hampir tidak pernah berpisah, selalu bersama-sama menghadapi setiap persoalan di keraton, kini sudah ditinggalkan. Kami semua yang sedang ‘berjuang’, merasa terpukul,” papar KPH Edy Wirabhumi yang ingin berusaha tetap tegar, ketika menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi siang.

gkr-galuh-kencana1
BERSAMA ANAK-CUCU : GKR Galuh Kencana ketika merayakan ulangtahunnya masih saat bersama sang suami, KPH Satryo Hadinagoro dan disaksikan anak-anak dan cucunya di ndalem Kayonan, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jenazah putridalem yang akrab disapa Gusti Galuh itu, tadi siang sekitar pukul 12.00 tiba di Pendapa Sasanamulya, lalu disemayamkan di bangunan dalam kompleks Keraton Surakarta, yang berhadap-hadapan dengan tempat tinggal keluarga kecil Sinuhun PB XIII, kompleks Sasana Putra itu. Kursi yang segera ditata memenuhi ruang pendapa, segera terisi para pelayat yang datang-pergi dari berbagai tempat, terutama keluarga besar saudara seibu garwadalem KRAy Pradapaningrum dan para kerabat dari berbagai daerah, terutama warga Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta atau Pakasa.

Seperti tertulis dalam lembar lelayu, jenazah Gusti Galuh akan dimakamkan di kompleks Makam Raja-raja Mataram Astana Pajimatan Imogiri, Bantul, DIY yang dilepas dengan upacara adat di Pendapa Sasanamulya, Jumat besok (1/11) pukul 10.00 WIB. Almarhumah yang sering disebut sebagai Pendekar Putri Pejuang Adat bersama empat adik-adik perempuan sekandungnya itu, meninggalkan empat (bukan tiga-Red) anak dan empat cucu, dari dua suami yang semuanya sudah mendahului meninggal, yaitu Gubernur Kalimantan Barat tahun 1970-an dan KPH Satryo Hadinagoro yang baru meninggal sekitar 5 bulan lalu.

Perihal meninggalnya satu di antara lima Pendekar Putri Pejuang Adat itu, sudah disampaikan secara langsung melalui berbagai cara kepada kakak kandungnya yang tidak lain adalah Sinuhun PB XIII. Bahkan, putradalem atau anak kedua Sinuhun yang juga calon putra mahkota, KGPH Mangkubumi, langsung meyakinkan sampainya kabar duka itu ketika sowan ke kamar ayahandanya di Sasana Putra, sekitar pukul 10.00 dan langsung bisa bertemu sang ayah atau Sinuhun PB XIII.

gkr-galuh-kencana3
MEMBACA SUMPAH : GKR Galuh Kencana memimpin membacakan sumpah dan janji sebagai anggota kabinet baru, setelah bersama-sama Lembaga Dewan Adat (LDA) mendukung kakak kandungnya yaitu KGPH Hangabehi untuk jumeneng nata sebagai Sinuhun PB XIII, di tahun 2004. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Beliau tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk. Sebenarnya saya ingin berbicara lebih banyak sebagai seorang anak kepada ayahnya, tetapi saya khawatir akan mengundang reaksi dari orang-orang sekitar Sinuhun. Saya cepat mohon pamit dan pergi untuk menghindari kata-kata berkepanjangan yang tidak enak didengar,” aku KGPH Mangkubumi yang ditemui di tempat terpisah.

Tak hanya KGPH Mangkubumi, hampir semua saudara-saudara sekandung almarhumah dan anak cucu mereka, siang tadi tampak berkumpul di tempat persemayaman Pendapa Sasanamulya. Sedang kakaknya, Sinuhun PB XIII, kelihatan melayat di Sasanamulya sore tadi sekitar pukul 16.00, setelah 30 menit  langsung meninggalkan tempat. Namun belum kelihatan putra/putridalem Sinuhun PB XII lainnya yang lahir dari lima garwadalem lain, termasuk KGPH Benowo dan GPH Madukusumo yang lahir dari KRAy Pradapaningrum, karena ikut Sinuhun PB XII ”membelot” dan bergabung kelompok yang pernah ingin ”merebut kekuasaan” di tahun 2004 dan 2017.

Dari gardwadalem KRAy Pradapaningrum, Sinuhun PB XII memiliki 10 anak dan KGPH Hangabehi (Sinuhun PB XIII) adalah anak lelaki tertua yang memiliki adik kandung perempuan (anak kedua), yaitu GKR Galuh Kencana. Anak ketiga adalah KGPH Kusumoyudo yang meninggal sekitar 5 tahun lalu, kemudian GKR Sekar Kencana, GKR Retno Dumilah, KGPH Puger, KGPH Benowo, GPH Madu Kusumo, GKR Wandansari Koes Moertijah (Gusti Moeng) dan GKR Ayu Koes Indriyah.

gkr-galuh-kencana4
LIMA PENDEKAR : GKR Galuh Kencana adalah perempuan tertua di antara deretan lima pendekar putri pejuang adat yang kukuh memegang teguh adat ketika kakak tertuanya jumeneng nata sebagai Sinuhun PB XIII, tetapi pagi tadi mendahului dipanggil Sang Khalik. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Adik-adik almarhumah di dalam, kira-kira masih nelum bisa diajak ngobrol. Tentu sangat terpukul. La wong setiap hari runtang-runtung untuk ngurusi berbagai hal, yang tentu saja ya masalah nasib keraton yang sedang prihatin dalam tiga tahun ini. Karena, Gusti Galuh yang bersama saya saat menghadapi persoalan-persoalan keraton. Seakan-akan menggantikan peran mas Satryo (KPH Satyo Hadinagoro). Keduanya sama-sama militan, pemberani untuk menghadapi siapa saja yang merusak paugeran/adat,” sebut KPH Edy Wirabhumi yang mengaku hanya bersama Gusti Galuh, saat menghadapi petugas yang datang malam-malam hendak menutup kantor Badan Pengelola (BP) Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu. (Won Poerwono-bersambung)

gkr-galuh-kencana5
BERSAMA SANG SUAMI : GKR Galuh Kencana ketika masih bersama sang suami, KPH Satyo Hadinagoro, ikut menyemarakkan pesta kecil yang digelar keluarga adaiknya pasangan KPH Edy Wirabhumi-GKR Wandansari Koes Moertijah yang sedang merayakan ulang tahun, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun