Tetap Menjaga Wibawa, Pantang Minta Belas Kasihan

putra-putri-keraton-surakarta4
PUNYA MILITANSI : GKR Galuh Kencana yang terlahir sebagai anak perempuan tertua kedua tetapi banyak menyaksikan pengorbanan sang ayah (Sinuhun PB XII) dan pengorbanan keraton untuk republik, tidak aneh kalau punya militansi yang tinggi ketika ketidakadilan makin dirasakannya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Nasib Putra-Putri Sinuhun PB XII Setelah di Alam Republik (2-habis)

MENGENAI nasib 35 putra-putri Sinuhun PB XII yang terlahir dari enam istri yang kini rata-rata sudah berusia antara 55-70-an tahun, jelas merupakan konsekuensi atas keputusan Sinuhun PB XII mendukung lahirnya NKRI. Banyak sekali yang sudah ”dikorbankan” untuk sebuah kesepakatan bersama lahirnya sebuah negara, tidak sekadar ”memberikan kepada negara”, termasuk keluarga kecilnya sendiri, saudara-saudaranya putra/putri Sinuhun PB XI, bahkan seluruh keluarga besarnya trah Dinasti Mataram.

”Tetapi, bapak Sinuhun tidak pernah threthekan minta belas kasihan kepada siapapun (termasuk pemerintah-Red). Seorang raja Jawa, tidak seperti itu. Beliau masih menjaga wibawa dan martabatnya. Beliau sadar betul, itu sebuah konsekuensi dari keputusan yang telah diambil. Beliau juga tidak pernah merengek-rengek minta pemerintah atau swasta, agar menerima anak-anaknya menjadi pegawai. Sinuhun hanya ngendika, kurang lebih :’….wis, saiki sak karepmu, padha goleka urip dhewe-dhewe. Kahanane wis dadi kaya ngene…..,” ujar GKR Galuh Kencana yang kini berusia sekitar 70-an tahun, ketika mengisahkan pengalaman hidupnya sebagai putridalem menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, belum lama ini.

Ibu yang dikaruniai anak tunggal dari suami pertama yang mendahului meninggal, dan dikaruniai dua anak dari suami kedua (almarhum KPH Satryo Hadinagoro) itu, bisa bercerita banyak tentang nasib putra-putri Sinuhun PB XII. Selain dari sisi usia termasuk ketiga paling tua setelah kakak kandungnya (Sinuhun PB XIII), GKR Galuh Kencana tergolong paling dekat dengan sang ayah, karena menjadi wanita paling dewasa dari saudara sekandung termasuk Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertijah) atau dari lain ibu.

Baca : Konsekuensi atau Harus Diurus Negara ?

Tak Hanya Soal Keluarga

Tak hanya tahu soal nasib dua kakak dan adik-adiknya yang berjumlah 35 orang, juga nasib masing-masing keluarga keluarga kecil Sinuhun PB XII yang jumlahnya menjadi seratusan itu, Pengageng Keputren yang akrab disapa Gusti Galuh itu juga banyak tahu bagaimana riwayat sang ayah sampai akhir hayat di tahun 2004. Walau hanya sedikit, tetapi dia juga tahu hal-hal yang menyangkut nasib Keraton Surakarta, terutama yang berkait dengan keputusan sang ayah setelah menggabungkan keraton ke dalam NKRI.

putra-putri-keraton-surakarta5
LEBIH BERUNTUNG : Keluarga kecil yang dibangun Gusti Moeng bersama sang suami (KPH Edy Wirabhumi) dan dua puterinya, memang lebih beruntung di antara 35 putra/putri Sinuhun PB XII. Karena, punya kehidupan lebih mapan di luar keraton walau hampir sepanjang hidupnya hingga kini hanya untuk keraton. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dan karena sudah menjadi keputusan raja/adat, apalagi sangat menjaga wibawanya oleh batas-batas birokrasi (lembaga Kepatihan) yang membuat sang raja menjadi ”The King can do no wrong”, langsung atau tidak langsung 35 putra/putrinya telah menjadi korban. Bahkan tak hanya 35 putra/putri itu, tetapi juga istri/suami dan anak-anak mereka, meskipun dari jumlah 35 itu ada 30-an persen yang bisa hidup layak dari hasil keringatnya sendiri di luar keraton, misalnya Gusti Galuh, apalagi Gusti Moeng yang sejak menikah ikut sang suami, KPH Edy Wirabhumi dan tinggal di luar keraton bersama dua puterinya.

Baca : Praktik Perdagangan “Gelap” Jadi Subur Karena Jauh dari Jangkauan Hukum

Dari 35 putra/putri Sinuhun itu, hanya seorang yang bisa dianggap terpandang karena jadi menjadi perwira (kini pensiunan) TNI, dua pegawai negeri, dua wartawan majalah dan sebagian besar sisanya mengais rezeki di berbagai pekerjaan swasta, yang tinggal bersama keluarganya berpencar di berbagai daerah di luar Solo, utamanya di Jakarta. Tetapi, banyak di antara mereka terutama yang cewek, ikut suami dan kebanyakan juga hidup sebagai pegawai swasta atau menjadi wiraswasta kecil-kecilan.

”Jadi, jangan mengira anak-anak seorang raja hidupnya pasti serba kepenak, turah duit, uripe mubra-mubru. Karena, keraton dan seisinya adalah harta milik seluruh Dinasti. Bukan milik pribadi ayah saya, juga bukan milik pribadi Sinuhun yang sekarang (PB XIII). Tetapi memang, seharusnya pemerintah tahu dan memahami persoalan ini sejak dulu,” jelas GKR Galuh yang mengaku selalu mendampingi sampai ajal menjemput sang ayah (Sinuhun PB XII) di rumah peristirahatan, Tawangmangu, 2004.

Goleka Urip Dhewe-dhewe

Dari cerita GKR Galuh itu, jelas sekali bahwa 35 putra/putri Sinuhun PB XII langsung atau tidak langsung telah ikut berkorban untuk nusa dan bangsa, untuk NKRI. Karena akibat itu, rata-rata hidup mereka dan keluarganya hanya pas-pasan saja, bahkan di bawah standar layak. Banyak yang tidak kuat membeli rumah, karena tidak berpenghasilan tetap, misalnya GPH Nur Cahyaningrat dan beberapa saudaranya yang lahir dari garwadalem RAy Mandayaningrum itu, sampai sekarang belum punya rumah.

Baca : Diserahkan kepada Negara, Diberi Ganti Rumah?

putra-putri-keraton-surakarta6
BERKUMPUL BERSAMA : Gusti Galuh bersama kalangan saudaranya, termasuk Sinuhun PB XIII, saat berkumpul bersama dalam suatu tahapan rekonsiliasi yang akhirnya gagal total, beberapa waktu lalu sebelum 2017. Mereka itu belum genap 35 putr/putri Sinuhun PB XII, karena sudah ada tiga yang meninggal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mungkin karena serba tidak siap ketika zaman berubah, sehingga tak ada seorangpun di antara 35 putra/putri itu berinisiatif dan bisa sukses sebagai wiraswasta. Persoalannya sangat jauh berbeda, ketika dibandingkan dengan Gusti Moeng. Selain pernah dua periode jadi anggota DPR RI, rumahtangganya bisa mandiri sukses di luar keraton karena usaha yang dirintis sang suami, KPH Edy, sejak awal berumahtangga. Atau kehidupan yang termasuk lumayan yang dinikmati adik kandung Gusti Moeng, yaitu GKR Ayu Koes Indriyah, karena selain punya usaha di Jakarta, juga pernah jadi anggota DPD RI dua periode.

Karena ketidaksiapan Sinuhun PB XII bersama keluarga kecil dan keluarga besar trah Dinasti Mataram yang melegitimasi Keraton Mataram Surakarta itu, sangat dimaklumi jika tidak ada transfer pengetahuan apalagi pengalaman di bidang lain selain tentang bagaimana menjaga, menjalankan dan melestarikan keraton sebagai pusat dna sumber peradaban Jawa. Oleh sebab itu tidak mungkin ada transfer pengetahuan/pengalaman berwiraswasta kepada 35 putra/putrinya atau kerabat lain, karena sektor/pengetahuan enterpreneur baru berkembang di Indonesia mulai tahun 1980-an.

Baca : Ternyata Pura Mangkunegaran Juga Pernah Kehilangan ”Badhong”

”Jadi, ya saya tidak pernah mendengar bapak Sinuhun menasihati atau menganjurkan anak-anaknya untuk berwiraswasta. Kami tidak diperkenalkan dan tidak pernah mengenal istilah itu. Kami hanya dibesarkan dan dididik di lingkungan yang sudah terbingkai seperti itu sejak lama. Mungkin ya ada perkembangan yang diadopsi keraton. Tetapi, yang namanya putra/putridalem yang besar dengan lingkungan adat dan budaya yang ada di keraton itu saja,” papar Gusti Galuh yang ditinggal suami pertamanya, pejabat Gubernur Kalimantan Barat, sebelum diperistri KPH Satryo Hadinagoro itu.

Sikap Sportif dan Jujur

Nasib 35 putra/putridalem beserta seluruh keluarga masing-masing, juga seluruh kerabat keluarga besar trah Dinasti Mataram yang bisa disebut kurang beruntung itu, bisa jadi karena tidak sekadar akibat sebuah konsekuensi. Tetapi bisa karena semua itu di luar dugaan/perkiraan Sinuhun PB XII, atas adanya pasal 18 UUD 45, Perpres No 29/1964 dan banyak lagi peraturan yang ”seolah-olah menjanjikan jaminan hidup/kelangsungan hidup” bagi keraton.

Baca : Ki Seno Nugroho, Titisan Ki Narto Sabdho itu Telah Lahir

putra-putri-keraton-surakarta7
AGAR LEBIH BAIK : Sebagian besar dari 35 putra/putri Sinuhun PB XII, termasuk Sinuhun PB XIII, berkumpul bersama di Sasana Handrawina untuk berekonsiliasi, berupaya mencari solusi untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi akhirnya malah gagal total, karena negara/pemerintah tidak berperan positif di tengah-tengah mereka. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bila dikembalikan lagi pada sikap sportivitas dan kejujuran Sinuhun PB XII yang hanya nglungguhi klasa kang gumelar, di tingkat internal memang tidak ada yang bisa disalahkan kalau 35 putra/putri beserta keluarganya rata-rata bernasib kurang beruntung. Tetapi, sebuah negara yang memegang teguh ideologi Pancasila, sangat menghargai kebhinekaan dan berjalan sesuai UUD 45 apakah tega membiarkan 35 putra/putri dan keluarganya yang notabene anak-anak bangsa ini, sampai hidupnya kurang layak atau tidak mendapatkan perlakuan setimpal dengan yang dikorbankan?.

Kisah perjalanan hidup Keraton Surakarta dan nasib 35 putra/putri Sinuhun PB XII, bisa menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan bangsa secara luas, kini dan mendatang. Nasib Keraton Surakarta yang kurang beruntung karena perlakuan tidak setimpal yang diterima republik ini, akan terus dikenang dan dipahami bangsa ini dari generasi ke generasi. Apakah memang keteladanan buruk seperti itu yang ingin diwariskan negara/pemerintah republik ini? Wajah Indonesia baru seperti apa yang dicita-citakan, kalau negara/pemerintah pendahulu dan sekarang selalu mewariskan perlakuan-perlakuan seperti yang dialami 35 putra/putri Sinuhun PB XII itu?. (Won Poerwono-habis)

Baca : LDA Berharap Penyelesaian, Karena Kabinet Baru Sudah Terbentuk