Merintis Sejarah Baru, Lepas dari Masa Lalu?

kota-solo4
APEL PRAJURIT : Defile prajurit Keraton Surakarta di pelataran Kamandungan depan pintu masuk, saat menjalani apel prajurit tiap hari Minggu, sebelum keraton ditutup mulai 2017. Inilah salah satu aset yang memperkuat citra Kota Solo sebagai Kota Heritage Dunia. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Surakarta, Kota yang kini Sedang Latah Menggelar Prosesi (2-habis)

BANYAKNYA permintaan pinjam prajurit untuk memeriahkan selebrasi dari berbagai daerah di Jateng dan Jatim, termasuk yang justru membuat malu institusi di HUT Bhayangkara di Semarang, secara umum bisa dipersepsikan sebagai tanda-tanda lahirnya kesadaran kolektif di kalangan masyarakat secara luas masa kini. Yaitu, kesadaran terhadap potensi seni budaya yang sangat kaya, mengingat Kota Surakarta memiliki dua lembaga masyarakat adat, yaitu Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta, yang sampai kini masih menjadi sumber dan pusat pelestarian peradaban (Jawa).

Tetapi melihat gejala-gejala yang secara khusus muncul di Kota Surakarta, setidaknya dalam dua dekade akhir-akhir ini, melahirkan beberapa pertanyaan. Apakah aktivitas yang muncul nyaris di tiap kelurahan yang hampir semuanya bertema ”Gelar Budaya” yang begitu gegap-gempita hanya sekadar reaksi latah sebagai gejala embrio untuk mengukir sejarah baru?

Atau memang betul-betul ada kesadaran kolektif tetapi belum sempat dilakukan proses pendahuluan? Misalnya berupa kajian eksploratif latarbelakangan kesejarahan, sosialisasi proporsional dan menggunakan konsep yang matang dan terarah.

Baca : Gelar Kidung Macapatan Buat Jokowi Jelang Pelantikan

Keterlibatan sentanadalem KPH Sangkoyo Mangunkusumo beserta istri, yang melengkapi hadirnya prajurit Jayengastra di event kirab budaya Kelurahan Jayengan, mengesankan adanya referensi ke arah kajian eksploratif latarbelakang kesejarahannya. Terlebih, hadirnya prajurit Jayengastra yang bercirikhas warna seragam biru, cukup mencolok dengan seragam warna seragamnya yang sesuai asal-usulnya, meskipun hanya berkekuatan 8 orang, dan ”terjepit” di tengah-tengah aneka kelompok peserta kirab dengan berbagai atribut kekinian.

kota-solo3
TERJEPIT DI TENGAH : Formasi prajurit Jayengastra yang berkekuatan 8 orang, seakan terjepit di tengah–tengah barisan peserta kirab budaya Kelurahan Jayengan (Serangan), beberapa waktu lalu, yang terkesan ingin mengekspresikan potensi Kota Solo masa kini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Benda Bernilai Tinggi Yang Masuk Pasar Gelap, Rata-rata Hasil Tindak Kejahatan

Lahirnya Kesadaran Kolektif

”Kalau yang dijadikan ukuran adalah kehadiran prajurit Keraton Surakarta di tengah-tengah event yang diinisiasi kalangan warga Solo, yang di event gelar budaya Kelurahan Sriwedari itu yang paling lengkap. Terasa sekali nuansa tradisi keratonnya,” ujar KRT Arwanto Darponagoro, abdidalem yang ditugasi ”menggembala” para prajurit keraton di berbagai event di dalam dan jauh di luar Kota Solo, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, belum lama ini.

D satu sisi, munculnya ekspresi di berbagai kelurahan yang dibiayai dengan dana APBD itu, bisa menjadi jawaban atas pertanyaaan kedua tentang lahirnya kesadaran kolektif tentang eksistensi Keraton Surakarta yang menyambung dengan kehidupan warga Kota Solo masa kini. Bahkan, akan lebih bermakna dalam segala aspek kehidupan warga secara luas apabila event itu didahului dengan persiapan-persiapan yang cukup, karena event itu bisa memantabkan peran dan fungsinya sebagai daya dukung pengembangan objek wisata Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Fakta bahwa segala aspek yang berkembang sekarang ini, karena ada ide dasar eksistensi dua objek wisata bernilai sejarah itu, itu tidak bisa dipungkiri. Plus dan minus dalam sejarah yang melatatbelakangi eksistensi Kota Budaya ini, tak perlu membuat canggung untuk diakui sebagai jatidiri warga, karena faktanya Kota Solo kaya potensi objek wisata peninggalan sejarah, hingga namanya saja lebih dari satu, mulai dari asalnya bernama Kutha Sala, menjadi ”sebuah negara” dengan nama Surakarta Hadiningrat, lalu ”diplesetkan” menjadi Kota Solo itu.

Baca : Ternyata Pura Mangkunegaran Juga Pernah Kehilangan ”Badhong”

Fungsi dan Jumlah Berkurang

Di sisi lain, dalam perkembangannya Kota Solo ternyata tidak seperti logika atau harapan banyak orang yang sangat sadar dan menghargai jasa-jasa leluhur, baik pendiri Kutha Sala, pendiri Dinasti Mataram sampai Surakarta dan pendiri peradaban Jawa. Karena, perkembangan kota ini yang diukur dari saat lahirnya NKRI 17 Agustus 1945, justru makin menyimpang jauh dari fakta dan materi yang ada yaitu Kota Heritage Dunia seperti yang diakui Unesco.

Kota yang memiliki struktur hiasan jejak-jejak peradaban masa silam, justru berkurang sedikit demi sedikit, baik fungsi, jumlah dan kepemilikan, seiring dengan perubahan zaman dan kemauan penguasa. Berkurangnya tidak hanya pada soal kepemilikan yang sebelumnya adalah aset-aset properti Keraton Surakarta, tetapi berkurang karena sengaja dirobohkan atau dihancurkan yang kesannya untuk menghilangkan jejak-jejak (sejarah) masa lalu.

Baca : Jaga Budaya Adiluhung, Pengurus Yayasan Forum Budaya Mataram Dibentuk

Bila menyimak kalimat di atas, terkesan menjadi jawaban atas pertanyaan pertama tentang reaksi latah sebagai gejala embrio ”lahirnya” sejarah baru Kota Solo, yang ingin sama sekali lepas dari masa lalu. Benarkah begitu? Untuk menjawab pertanyaan ini, sepertinya bisa menyimak sepak-terjang Joko Widodo atau Jokowi sejak menjadi Wali Kota Solo (2005-2010) hingga Presiden RI periode kedua (2019-2024) ini.

kota-solo4
BERUBAH FUNGSI : Sebagian tata ruang di kawasan Keraton Surakarta yang sudah berubah fungsi dan makna sebagai pusat dagang sandang, karena disiapkan untuk membangun kembali kios-kios Pasar Klewer di bagian timur.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Masih Ada UUD 45

Dalam salah satu kalimat pidatonya ketika pelantikan kebinet barunya, kemudian dibahas dalam diskusi di sebuah TV terkenal di Jakarta, sepenggal kalimat ”….saya tidak mau sesuatu yang rutinitas, berhenti pada satu titik itu saja. Saya ingin mendobrak, agar menjadi suatu hal yang baru dan selalu berubah menjadi baru dan berbeda dari sebelumnya…….”.

Baca : Ngalap Berkah di Makam Ki Ageng Pantaran

Ini adalah kata-kata narasi dari yang pernah diwujudkan secara visual di Solo ketika menjabat Wali Kota, yaitu munculnya beberapa event (misal Solo Batik Carnival) dan perubahan fungsi tata-ruang Taman Sriwedari eks Kebon Raja, yang seakan mendobrak batas-batas semua hal yang berkait dengan heritage yang ada di dalam Kota Solo. Bahkan terkesan, Jokowi ingin membuat sejarah baru bagi Kota Solo.

”Bila benar ada skenario besar di belakang itu semua, berarti benar juga telah menjadi tangan panjang rezim-rezim atau tokoh-tokoh dari rezim masa lalu. Tetapi, saya kira masih ada orang yang tidak rela Kota Solo sebagai heritage dunia dirusak begitu saja. Kalau skenario itu juga berarti ingin lepas dari masa lalu, ya buat apa ada UU BCB No.10/2011.”

”Yang jelas, selama pasal 18 UUD 45 belum dihapus atau selama UUD 45 masih dipakai, saya masih optimis Keraton Surakarta akan tetap eksis, diakui dan akan tetap berperan karena manfaatnya masih dirasakan bangsa ini,” tegas GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sekaligus sebagai Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, yang dihubungi terpisah. (Won Poerwono-habis)

Baca : Ratusan Seniman Ramaikan Grebeg Lawu “Etnis Manis”

Editor : Budi Sarmun