Kaya Potensi Tetapi Canggung Manjadikan Jati Diri

kota-solo1
DIPINJAM PEMDA NGAWI : Barisan prajurit Keraton Surakarta yang dipandu bregada musik, tentu menarik perhatian warga dan para pengguna jalan seperti ketika dipinjam pemda untuk dilibatkan dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi (Jatim), beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Surakarta, Kota yang kini Sedang Latah Menggelar Prosesi (1-bersambung)

DALAM lima tahunan ini, nyaris di setiap kelurahan di wilayah Kota Solo seakan bergairah dalam mengekspresikan kegembiraannya beraktivitas seni budaya untuk memanfaatkan bantuan dana kelurahan yang besarnya Rp 125 juta/tahun.

Karena terkesan seakan-akan muncul secara spontanitas, event yang melibatkan banyak orang dan gegap gempita di wilayah lebih kecil itu lebih mengesankan sebagai artikulasi dan menduplikasi terhadap event sejenis yang berukuran lebih besar yang hanya ada di level kota, yang sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya. Event itu misalnya Solo Batik Carnival, peringatan Hari Tari Nasional dan event-event lain yang sifatnya kolosal, mengesankan pencitraan kota dan mudah menjadi isi memori kolektif publik secara luas.

Karena terkesan spontanitas, rata-rata wujud fisik event yang disajikan tiap-tiap kalurahan, nyaris sama satu dengan yang lain. Rata-rata menyajikan bentuk-bentuk keramaian yang melibatkan orang banyak, menggunakan fasilitas jalan yang selalu sibuk dan padat lalu-lintas dan berlangsung di siang hari, dalam waktu singkat atau tidak terlalu lama.

Baca : Jaga Budaya Adiluhung, Pengurus Yayasan Forum Budaya Mataram Dibentuk

Jenis-jenis kegiatan itu misalnya karnaval atau kirab, tetapi banyak yang memadukan dengan bazar atau kegiatan dagang dan sajian berbagai jenis seni di panggung hiburan yang biasa disajikan di tengah keramaian pasar malam rakyat.

Namun, di antara sejumlah kelurahan yang ”berekspresi spontan” itu, ada satu kelurahan yaitu Bibis (Kecamatan Jebres) yang tidak masuk kategori itu. Karena kelurahan ini, sudah punya aktivitas seni budaya yang digelar rutin tiap tahun sejak belasan tahun lalu.

Aktivitas itu berupa ritual bersih desa di sumur mbah Meyek, yang dilakukan setiap menyambut Tahun Baru Jawa tanggal 1 Sura, dalam bentuk keramaian pasar dan hiburan sampai beberapa hari yang ditutup dengan pentas wayang kulit semalam suntuk.

Akar Budaya Jelas

Aktivitas di Kelurahan Bibis ini, tentu merasa beruntung diberi bantuan dana Rp 125 juta, karena yang sudah berjalan sebelumnya adalah murni urunan swadaya warga setempat untuk membiayai event itu. Selain sudah mandiri, kelurahan ini memiliki agenda event yang sumber gagasannya sangat jelas, yaitu tradisi bersih desa di petilasan seorang tokoh yang punya peran kesejarahan sangat kuat, sehingga jelas akar budaya yang dijadikan dasar gagasan aktivitasnya.

Baca : Ki Seno Nugroho, Titisan Ki Narto Sabdho itu Telah Lahir



kota-solo2
MENGUNDANG PERHATIAN : Hadirnya prajurit Keraton Surakarta dalam event-event yang digelar di level Pemkot atau pemerintahan wilayah, selalu mengundang perhatian karena citra visualnya yang unik dan spesifik. Karena, tidak setiap warga kota tahu atau bahkan pernah melihat, seperti pemandangan saat berlangsung event kirab budaya yang digelar Kelurahan Tipes (Kecamatan Serengan), beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bila di Kelurahan Bibis sudah jelas ide dasar yang dijadikan pedoman penyelengggaraan eventnya, lalu bagaimana dengan kelurahan yang lain? Bila yang dimaksud hanya sekadar ada bentuk-bentuk keramaian dengan citra visual heboh karena banyak orang terlibat, pertanyaan itu sudah terjawab ketika melihat atraksi karnaval atau kirab yang disertai bazar dan panggung-panggung kesenian, bahkan disajikan pentas ketoprak seperti yang dikerjakan Wibowo (pekerja seni) di Kelurahan Serengan, beberapa waktu lalu.

”Seandainya mau melakukan kajian dulu, atau cari referensi yang benar dan tepat, pasti akan lebih berbobot. Tetapi, harus ada sosialisasi yang baik, kemudian kosepnya disusun dengan berbagai pertimbangan aspek. Terutama aspek kepariwisataan, ekonomi kreatif dan tidak lepas dari akar budayanya sebagai ide dasarnya yang memperkuat nilai jual kepariwisataan itu,” tunjuk Darmadi (55), seorang pekerja seni asal Kelurahan Baluwarti yang banyak membantu persiapan peserta karnaval di Kelurahan Jayengan, saat dimintai konfirmasi suaramerdekasolo.com, belum lama ini.

Baca : Jabatan Ketum MAKN Dibiarkan Kosong, Pura Pakualaman Jogja Utus KPH Indro Kusumo

Multi Fungsi Ketoprak

Di Kalurahan Baluwarti, Kecamatan Pasakliwon misalnya, bantuan kelurahan itu dimanfaatkan untuk pentas seni dan kegiatan bazar yang dipadukan dengan program kerja Pokdarwis setempat, karena posisi Baluwarti ditempatkan sebagai desa wisata di tahun 2017 lalu sebagai daya dukung objek wisata Keraton Surakarta.

Agak berbeda dengan Kelurahan Serengan (Kecamatan Serengan) yang mempersiapkan aktivitasnya dengan konsep lebih matang, karena ada unsur eksploratif meski masih perlu didalami dan dikembangkan lagi.

Yaitu ketika menyajikan perpaduan antara mengakomodasi potensi seni kalangan warga dan sekolah (SD) setempat, pemberdayaan sanggar seni pedalangan, potensi musik (keroncong) dan mengeksplorasi latarbelakang sejarah wilayah Serengan ke dalam pentas ketoprak.

Ketoprak yang digarap pekerja seni Wibowo SSen itu, selain sebagai sarana ekspresi seni tetar Jawa, sekaligus bisa menjadi sarana sosialisasi informasi pengetahuan tentang kesejarahan dan transfer nilai-nilai budaya.

Baca : Benda Bernilai Tinggi Yang Masuk Pasar Gelap, Rata-rata Hasil Tindak Kejahatan

Dalam kemasan yang hampir sama, event serupa juga digelar Kelurahan Kratonan (Kecamatan Serengan) tahun lalu. Selain kirab keliling wilayah, juga disajikan panggung kesenian yang nyaris total menjadi ajang ekspresi seni beberapa SD di wilayah itu, misalnya SDN 3 Kratonan yang memiliki basis seni karawitan begitu kuat, waktu itu.

Berbeda lagi dengan Kelurahan Sriwedari (Kecamatan Laweyan), yang membelanjakan bantuan itu dengan kegiatan kirab atau karnaval budaya berkeliling lingkungan wilayah kelurahan setempat. Meski format karnaval itu juga hampir sama dengan kelurahan yang lain, tetapi ada hal yang membedakan yaitu keterlibatan beberapa bregada prajurit dari Keraton Surakarta.

kota-solo3
CIRIKHAS MEMBANGGAKAN : Beberapa bregada prajurit Keraton Keraton yang dilibatkan dalam kirab budaya yang digelar Kelurahan Sriwedari, beberapa waktu lalu, memiliki cirikhas unik dan spesifik yang tampak membanggakan serta menonjol ketika melewati perempatan Pasar Kembang. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Daya Dukung TSTJ

Berbeda lagi ketika dibandingkan dengan event Grebeg Sudiro di Kelurahan Sudiroprajan (Kecamatan Pasarkliwon) dan Grebeg Kepatihan di Kelurahan Kepatihan (Kecamatan Jebres), beberapa tahun lalu. Dua kelurahan itu terkesan latah karena ”ambisi” ingin menyaingi prosesi ”gunungan” yang digelar Keraton Surakarta tiap bulan Mulud, Syawal atau Besar.

Baca : Siswa SMP 5 Wonogiri Juara Festival Dalang Bocah Nasional

Lain lagi kirab budaya warga Pucangsawit yang dipadukan dengan Pekan Syawalan Larung Gethek Joko Tingkir yang diselenggarakan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) tiap Lebaran, event itu layak dikembangkan lebih jauh karena sangat menjadi daya dukung Kota Solo.

Tercatat ada tiga kelurahan yang melibatkan beberapa bregada prajurit Keraton Surakarta, yaitu Kelurahan Sriwedari, Kelurahan Jayengan serta Kelurahan Tipes. Pelibatan prajurit keraton di event karnaval yang digelar beberap kelurahan itu diapresiasi Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA).

Selain dianggap ”nguwongke”, pelibatan itu dinilai sebagai tanda-tanda lahirnya kesadaran kolektif warga terhadap asal-usul dan latarbelakang sejarah kota yang ditinggali, tempatnya mencari makan dan lahir hingga tutup usia di Kota Solo atau Kutha Sala atau Kota Surakarta itu.

Baca : MAKN Bentuk Dewan Pimpinan Wilayah Bali Tebentuk

”Hal positif yang saya tangkap adalah bentuk kesadaran dan sikap realistis warga. Sebenarnya waktu itu, (Kelurahan Sriwedari) hanya minta prajurit korp musik saja. Tetapi karena (saya) agak jengkel dengan yang di Semarang itu, Kelurahan Sriwedari malah saya beri lima bregada prajurit, termasuk musik.

Gimana enggak jengkel dan malu, la wong keraton dimintai partisipasi HUT Bhayangkara (di Semarang-Red), Juli lalu, kok hanya dikirim prajurit 5 atau tujuh orang. Apalagi tanpa vandel dan identitas apapun. Bikin malu saja……” ketus Gusti Moeng saat ditanya suaramerdekasolo.com, beberapa waktu lalu. (Won Poerwono-bersambung)

Baca : The Godfather of Broken Heart Meriahkan HUT SMA 1 Wonogiri

Editor : Budi Sarmun