Bertahan Hidup dengan ”Tabungan” Kanvas dan Kain Sutra

kanvas-rembrant-mbah-ning1
SATU JAGONG : Tabungan kain kanvas merk Rembrant yang ditemukan kembali mbah Ning, sudah diisi lukisan wayang beber satu jagong (adegan), meski ukurannya kecil tetapi tampak kontras ngejreng dan mahal, ketika diperlihatkan kemarin. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Juga Sisa Pembelian Lukisan yang Belum Dibayar

MENJALANI hari-hari berat untuk menjaga stamina agar tensi dan kadar gulanya tidak naik, sangatlah berat bagi wanita pelukis yang dalam usia 68 tahun sudah tiga kali keluar-masuk rumah sakit, tetapi dituntut harus terus berkarya untuk sekadar bertahan hidup. Itulah yang dijalani Hermin Istiariningsih atau yang akrab disapa mbah Ning, yang sehar-hari lebih banyak menghabiskan waktunya di atas bangku risban, sedangkan sang suami, mbah Tris atau Sutrisna (80), sibuk membantu melayani kebutuhan melukis, mengurus kebutuhan rumah-tangga dan sebagainya.

”La pripun, kahanane nggih kados ngeten. Cah-cah (2 anak dan 2 cucu) niku mpun mboten saget dijagakne baune. Kula kalih mbahe kakung nggih tesih pengin nyambung urip. Nggih mpun, sak kuate tenagane terus produksi. Terus melukis. Yen payu ya nggo mangan. Kalih nggo nyukupi kebutuhan. Yen durung payu ya sabar sik,” gumam mbah Ning yang sesekali dibenarkan mbah Tris, ketika dikunjungi suaramerdekasolo.com, kemarin.

Hampir genap setahun ini, pasangan suami-istri perupa Mbah Tris-Mbah Ning melewati waktu sejak kediamannya di Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, Solo dikunjungi Gubernur Ganjar Pranowo, akhir Oktober 2018. Kunjungan itu konon karena gubernur mendapat kabar dari jajaran Kemendikbud di Provinsi Jateng, karena Dirjen Kebudayaan Kemendikbud memberikan anugerah seni kepada beberapa tokoh di Jateng, salah satunya mbah Ning yang mendapat piagam dan pin emas sebagai pelestari seni lukis wayang beber.

Kedatangan gubernur itu, membuat mbah Tris menguras energinya, karena hampir selama sebulan sering keluar rumah mengurus balik nama sertifikat hak milik (SHM) atas tanah seluas kurang lebih 150 meter persegi, dari nama ibunya Nyonya Kanoyo Rumekso menjadi nama mbah Tris dan kedua adiknya. Balik nama SHM itu dimaksudkan untuk persyaratan proses pembuatan izin mendirikan bangunan (IMB), sebagai syarat untuk menerima hibah bantuan pemugaran.

kanvas-rembrant-mbah-ning2
AGAK KESAL : Sambil melipat kain lukisannya, Mbah Ning terlihat agak kesal karena lukisan wayang beber yang baru selesai separo itu, ada kesalahan warna saat mbah Tris membantu proses pewarnaan, tetapi penglihatannya terganggu akibat usianya yang sudah uzur. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono

Tetap Buruk Rupa

Selain lelah fisik mondar-mandir mengurus balik-nama, biaya juga banyak dikeluarkan, bahkan sampai menguras hampir seluruh tabungan cadangan untuk makan sehari-hari. Jerih-payah pelukis uzur yang sudah lama gantung kuas itu, ternyata belum membuahkan hasil. Karena bantuan pemugaran rumah yang dijanjikan Gubernur Jateng itu, hingga kini tak ada wujudnya, sedang adik mbah Tris yang bernama Suprayitno di Banjarnegara yang diminta tandatangannya sudah keburu meninggal, kira-kira sebulan lalu.

”Janji kosong” yang membuat mbah Ning benar-benar kecewa, sedikit demi sedikit bisa dilupakan, dan rumah seluas kira-kira 8 X 5 meter berdinding ”gebyog kotangan” yang ditinggali berdua, juga nyaris tak ada perubahan apapun, tetap buruk rupa, buruk sanitasi dan tidak layak huni jika dilihat dari luar. Jika dilihat dari dalam, mungkin hanya separo ruang bagian timur yang berubah, karena yang sebelumnya dapur disulap jadi ruang tamu, juga tempat menyimpan barang-barang terutama peralatan seni rupa dan lukisan yang sudah jadi, sedangkan separo sisanya menjadi ruang privasi mbah Ning.

Ruang privasi itu bukan berupa kamar tidur, ruang melukis dengan segala kelengkapan yang memadai serta nyaman. Tetapi hanya bangku risban panjang tempat mbah Ning melukis, menaruh peralatan melukis, menumpuk lukisan, menyimpan bahan, menyiapkan makanan, tempat obat-obatan dan sekaligus tempatnya merebahkan diri untuk istirahat apabila sudah sangat lelah dan ngantuk. Dua almari ukuran sedang, seakan menjadi dinding penyekat ruangnya, walau hanya berisi pakaian berdua dan tempat menyimpan lukisan yang sudah jadi.

Semua di Bangku Risban

Mengisi hari-harinya yang nyaris tak pernah dibiarkan menganggur, rutinitas melukis wayang beber tetap dipertahankan terus berlanjut, karena urusan dapur sudah tidak ”disegel” mbah Tris. Dalam usianya yang terus bertambah dan menderita gangguan kesehatan akibat tensi tinggi dan kadar gula tinggi, mbah Ning harus banyak berada di bangku risban, untuk tetap berproduksi melukis, atau sekadar rebahan melepas lelah sambil menonton acara televisi.

”Pokoke enggih terus nglukis mawon. Mboten sah nggagas ajeng enten sing tumbas napa mboten. La njing yen sida ken pameran? Yen sithik-sithik dirampungke, mengke lak nglumpuk kathah, kenging ngge pameran kalih ngge tumbas obat,” ujar mbah Ning sambil memperlihatkan dua lukisan yang belum jadi, ketika ingat kabar ada seseorang di Semarang yang berencana memamerkan koleksi wayang beber karyanya.

kanvas-rembrant-mbah-ning2
KAIN SUTRA : Lukisan tradisional klasik seperti wayang beber yang ditekuni secara profesional oleh Mbah Ning, ternyata juga memerlukan media klasik seperti kain sutra kelas prima asal India, yang harganya sangat mahal. ”Tabungan” yang bisa untuk sekadar bertahan hidup itu kemarin diperlihatkan mbah Ning dan sang suami, mbah Tris. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sambil menanyakan rencana pameran di Semarang itu, mbah Ning juga menyinggung undangan warga Desa Kedungsari, Sumobito, Kabupaten Jombang (Jatim) yang terpaksa tidak bisa dipenuhinya. Undangan hadir untuk menjadi pembicara dalam workshop dalam event Kenduri Seni Rupa Wayang Beber Indonesia, 5-6 Oktober lalu, terpaksa tidak dihadiri karena pertimbangan kesehatannya yang sangat tidak memungkinkan.

Banyak yang Utang

Karena hampir semua undangan yang tentu disertai jaminan akomodasi dan honor itu terpaksa ditolak, mbah Ning dan juga mbah Tris selama ini nyaris tak berpenghasilan tetap. Untuk bertahan dan menyambung hidup, misalnya kebutuhan biaya periksa kesehatan dan membeli obat, hanya bisa diharapkan dari sisa-sisa pembayaran sejumlah pembeli lukisan wayang bebernya yang belum lunas alias masih utang.

Pendapatan yang lain, hanya bergantung jika ada yang datang membeli, dan selama setahun ini bisa dikatakan hanya ada satu atau dua pembeli, yang juga masih utang atau belum lunas. Tetapi, berapapun jumlah uang di tangan, keduanya tetap merasa bersyukur, apalagi masih ada sisa ”tabungan” walau masih berupa tiga lembar kain kanvas Rembrant dan selembar kain sutra India yang semuanya bernilai Rp 10 juta.

kanvas-rembrant-mbah-ning3
17jrembran2-won-slo = KANVAS REMBRANT : Dalam suasana keprihatinannya karena gangguan sakit di usia tua, mbah Ning masih bisa bersyukur karena memiliki tabungan untuk sekadar bertahan hidup. Walau tabungan itu masih berupa kain kanvas rembrant, yang perlu dihiasi lukisan wayang beber agar bernilai mahal, seperti diperlihatkan kemarin. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”La pripun, kula kalih mbahe putri nggih pun lalen, tenagane nggih mpun kurang. Yen pun kesel, wegah bongkar-bongkar. Padahal, yen ndeleh barang, nggih mpun ditumpuk-tumpuk ngoten thok. La, bareng wingi bongkar-bongkar, nemu kain kanvas Rembrant kalih sutra India. Wah, kaya mbukak tabungan wae. La niku, bahane thok mawon yen rega sakniki, sak meter kira-kira Rp 1 juta. La yen mpun dilukisi wayang beber kaya niki, lak nggih regane tambah,” ketus mbah Tris sambil memperlihatkan kain sutra sepanjang 2 meter yang dibeli tahun 2015 di Jakarta, kini sudah berisi sketsa wayang beber dua jagong (adegan). (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun