Praktik Perdagangan “Gelap” Jadi Subur Karena Jauh dari Jangkauan Hukum

pusaka-benda1
SALAH SATU KESEMPATAN : Pentas seni pakeliran untuk ritual 10 Sura atau peringatan hari-hari khusus bagi Keraton Surakarta, adalah salah satu kesempatan mengeluarkan segala kelengkapan benda seni budaya bernilai sejarah kepada publik, sebaliknya juga kesempatan baik bagi publik untuk mengenal simbol peradaban nenek-moyangnya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kisah Benda-benda Bernilai Sejarah yang ”Lari” ke Luar Negeri (6-habis)

MENGINVETARISASI kasus-kasus tindak kejahatan dengan objek/sasaran benda-benda seni budaya bernilai sejarah nan-antik, sejak tiga sampai empat dekade terakhir sebenarnya sangatlah banyak jumlahnya. Karena, Nusantara ini punya latarbelakang sejarah panjang sejak ribuan tahun lalu, mengingat ada 250-an keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat sebelum NKRI lahir.

Banyaknya peradaban itu tentu meninggalkan barang-barang seni budaya bernilai sejarah yang tak luput dari tindak kejahatan, yang kemudian diperjualbelikan di pasar gelap.

Karena praktik perdagangan di ”pasar gelap” ternyata memberi penghasilan lumayan, tindak kejahatan terhadap benda-benda seni budaya bernilai sejarah sepertinya terus berjalan sepanjang waktu.

Dan beberapa faktor yang membuat ”pasar gelap” benda-benda seni budaya hasil tindak kejahatan tetap subur, di antaranya karena selalu bekerjasama dengan orang dalam dan tidak pernah terjangkau hukum atau tingkat penegakan hukum yang sangat rendah.

pusaka-benda2
KOLEKSI GAMELAN : Sepasang gamelan Kiai Mangunharja dan Kiai Harjabinangun yang digunakan untuk konser di Sitinggil Lor, beberapa waktu lalu, setiap hari selalu menghias Pendapa Sasana Sewaka dan bisa dipandang secara jelas oleh publik wisatawan pengunjung. Bagaimana nasib koleksi benda seni budaya itu?, tak banyak yang tahu. Karena sejak April 2017 kawasan itu ditutup Sinuhun PB XIII dan jaringan CCTV juga dilepas. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Faktor yang terakhir itu, belakangan menjadi indikator daya tarik publik yang selalu menempatkan berita-berita paling heboh yang dijadikan perbincangan.

Karena kasus-kasus kejahatan benda-benda seni budaya tak pernah menjadi berita utama yang heboh, maka seakan-akan tindak kejahatan jenis itu tidak ada atau menurun jumlah dan kualitasnya.

Namun, boleh jadi kasus-kasus tindak kejahatan benda-benda seni dan budaya itu jauh kalah hebat dengan kasus-kasus OTT tersangka korupsi milyaran rupiah, kasus-kasus politik sekitar Pilkada/Pilpres dan terorisme/radikalisme, misalnya.

Atau karena aparat penegak hukum energinya sudah terkuras habis untuk mengurus kasus-kasus kejahatan yang masuk kategori papan atas itu, namun bisa juga karena frekuensi pengungkapan yang kecil atau kualitas kasusnya terlalu kecil sehingga tak diblow-up atau luput dari sasaran publikasi.

pusaka-benda3
SANGAT DETIL : Pendataan ulang koleksi wayang dengan metode yang agak rumit dan detil seperti yang berlangsung di Pendapa Magangan, sebelum 2017, merupakan salah satu cara menginventarisasi secara lengkap, sekaligus menghindari tindak kejahatan atau memudahkan tahu jika ada yang hilang. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tak Sesuai Paham Radikal

Dari beberapa faktor di atas, masih ada satu lagi yang bisa berpengaruh pada faktor-faktor lain yang membuat kasus kejahatan terhadap benda-benda seni budaya bernilai sejarah tidak muncul ke permukaan atau tidak menjadi perhatian publik secara luas.

Yaitu faktor menurunnya tingkat apresiasi publik karena memang tidak tahu makna dan pentingnya benda-benda itu, atau karena publik tidak suka dengan benda-benda itu karena berkait dengan sejarah masa lampau yang dianggapnya tidak berguna atau tidak sesuai dengan paham-paham ekstrem/radikal yang berkembang dalam dua dekade ini.

Oleh sebab itu, publik di zaman milenial atau bahkan yang sudah ”terpengaruh” paham-paham ekstrem/radikal sekarang ini, tentu tidak akan tertarik ketika mendengar berita bahwa Keraton Surakarta pernah kehilangan sejumlah rebab gading.

Apalagi, di situ diceritakan kronologi cara mengeluarkan barang itu dari dalam keraton, yaitu dengan cara dihanyutkan melalui selokan yang airnya mengalir ke luar keraton di saat hujan deras tiba.

pusaka-benda4
GEDHONG LEMBISANA : Tidak semua wayang kategori pusaka yang berjumlah 17 kotak itu, bisa disimpan di dalam ruang penyimpanan yang bernama gedhong Lembisana. Selain tidak bisa menampung, ada beberapa kotak wayang yang levelnya sudah ”Kanjeng Kiai’ (KK), misalnya KK Kanyut yang digunakan untuk pentas ”tutupan Sura” yang bikin heboh beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Selain prosesnya merupakan bagian dari skenario yang diduga disusun dan melibatkan orang dalam sekelas ”putradalem” bergelar ”pangeran”, barang-barang yang dikeluarkan dari keraton dilukiskan bisa sampai ke pasar gelap, bahkan cepat ”lari” jauh ke luar negeri.

Bahkan dipublikasikan, benda-benda hasil tindak kejahatan itu bisa menjadi seakan-akan resmi melalui transaksi yang memenuhi syarat legal-formal, seperti yang dikoleksi di Jerman itu, misalnya.

Banyak Jenis dan Modusnya

Tidak hanya rebab gading yang (sekarang) tentu bernilai ratusan juta bahkan milyaran rupiah, sangat banyak benda-benda seni budaya bernilai sejarah koleksi Keraton Surakarta yang bisa ”lari” ke luar negeri karena ada ”kerjasama yang baik” dengan orang dalam kalau tidak elok disebut skenario.

Sebagai ilustrasi, ketika Pengageng Sasana Wilapa mendata ulang dan mendokumentasi (foto dan video) terhadap seisi 17 kotak wayang kategori pusaka koleksi keraton antara tahun 2015-2016, didapati jumlah anak wayang di bawah rata-rata tiap kotak yang biasanya berisi 300 anak wayang.

Koleksi keraton yang berupa benda-benda seni budaya bernilai sejarah yang antik, banyak sekali jenisnya, mungkin belasan bahkan ratusan item bila diidentifikasi sesuai kategori menurut bidang atau departemennya.

Dari satu departemen Mandra Budaya saja, bisa banyak sekali item barang seni budaya yang raib dan ”lari” jauh ke luar negeri, karena seni wayang kulit saja terdiri dari gamelan, anak wayang, kelir, blencong, keprak dan sebagainya yang semuanya kualitas nomer satu dan antik.

bendabuda4
MUSEUM KERATON : Bila dihitung, Keraton Surakarta memang paling banyak mengalami kehilangan aset-aset koleksi benda-benda budayanya yang bernilai sejarah dan antik. Bila tidak menyulitkan cara membawanya, koleksi kereta berkuda yang begitu banyak dan di antaranya sedang diteliti ahli dari Belanda, Arie de Jager itu bisa jadi juga akan hilang dicuri atau dibawa ”lari” ke luar negeri.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com yang mencatat peristiwa-peristiwa hilangnya benda-benda seni budaya bernilai sejarah koleksi keraton sejak tahun 1980-an, kemudian banyak mengikuti proses pendataan ulang 17 kotak wayang itu.

Dari 17 kotak, dari kotak Kiai Pramukanya didapati ada 23 tokoh wayang yang hilang, tetapi sekitar sebulan kemudian bisa ditemukan bersama”oknum yang akan menjualnya”.

Begitu pula ketika tim yang dipimpin KGPH Puger beranggotakan Ki Dr bambang Suwarno, Ki Sigit Purnomo, Ki Suluh Juniarsah, Ki Rudy Wiratama dengan beberapa abdidalem Kantor Mandra Budaya seperti KRT Sihantodipuro mendataulang kotak wayang Kiai Kidang Emas. Di situ tim tidak melihat tokoh Gatutkaca ”wanda thathit” yang beberapa waktu sebelumnya dilaporkan dipinjam untuk pentas wayang yang digelar ”orang dalam” tersebut.

Barang Titipan Juga Hilang

Dipinjam untuk pentas misalnya ritual ”tutupan Sura”, atau saat diesis atau diangin-anginkan dalam ritual ngesis wayang Anggara Kasih yang jadwalnya tiap 35 hari sekali itu, bisa dimanfaatkan ”orang dalam” jadi modus tindak kejahatan.

Artinya, dari satu kotak yang dikeluarkan dalam ritual bisa berkurang 23 anak wayang, bisa dibayangkan apabila 17 kotak itu tiap 35 hari bergilir dikeluarkan dan bisa ”dipinjam” untuk ritual, meskipun yang bisa ”pinjam” hanya orang-orang tertentu atau ”orang dalam”.

Di awal tahun 1990-an, sejumlah tokoh terkenal macam Ki Anom Suroto mendirikan komunitas pecinta wayang di Solo bernama Paguyuban Sutresna Kagunan Wayang (Panakawan) dan diketuai dr Tundjung Sulaksono Soeharso (alm), mencatat ada inventaris paguyuban berupa sekotak wayang, gamelan dan 1 set sound system.

benda-budaya1
RAWAN DICURI : Benda budaya berupa komponen gamelan koleksi Keraton Surakarta saat dijamas di tempat penympanannya, Bangsal Bale Bang, beberapa waktu lalu. Aset koleksi yang memiliki nilai sejarah dan sudah dianggap sebagai pusaka, sangat rawan dicuri. Karena di pasar gelap, per komponen barang-barang itu bisa laku sangat mahal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tetapi, organisasi itu bubar dan inventaris organisasi itu dititipkan salah seorang pangeran di Keraton Surakarta yang juga pengurus, tetapi barang-barang itu tak ada kabarnya entah di mana dan tidak ada pertanggungjawabannya.

”Saya juga pernah dengar ada yang tanya soal itu. Tetapi karena saya tidak ikut mengurusi kegiatan seperti itu, apalagi di luar keraton, jadi ya tidak tahu jelasnya bagaimana. Dan kalaulah ada persepsi publik bahwa hilangnya barang-barang keraton karena keterlibatan orang dalam, bisa saja. Tetapi itu tidak mencerminkan tindakan semua kerabat atau putra-putradalem. Itu hanya oknum. Masih banyak orang-orang baik yang berhati mulia dan peduli nasib keraton,” tegas Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta GKR Wandansari Koes Moertijah yang akrab disapa Gusti Moeng. (Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun