Habis Didata, Instalasi CCTV Dibredel, Pintu Ditutup

benda-pusaka1
TITIHANDALEM PB X : Termasuk mobil Fiat tahun 1907 titihandalem Sinuhun Paku Buwono (PB) X yang diberi nama diberi nama Kyai Wimonosoro (Kiai Wimanasara-Red) ini, bisa saja ''lari'' ke luar negeri atau justru dijual sebagai barang rongsokan, karena sebagian besar kerabat di Keraton Surakarta sekarang ini tidak begitu peduli dengan nilai dan makna benda budaya bernilai sejarah itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kisah Benda-benda Bernilai Sejarah yang ”Lari” ke Luar Negeri (4-bersambung)

PRESEDEN buruk evakuasi semua orang yang berkantor di semua bebadan di Keraton Surakarta yang dilakukan ribuan personel Brimob dan ratusan militer, lalu dilanjutkan dengan menutup semua pintu kantor, akses pintu masuk museum dan pintu masuk menuju kawasan kedhaton dan keprabon di bulan April 2017, lebih banyak menuai ekses negatif dari pada positifnya.

Selain memperburuk citra keluarga besar masyarakat adat Keraton Surakarta di mata publik secara luas, suasana kosong, pasif dan sepi dari aktivitas rutin kehidupan adat yang ada, justru bisa mempertegas stampel negatif yang sejak lama disandang keraton sebagai lembaga penerus peradaban yang tidak bisa menghargai simbol-simbol peradabannya.

Meskipun beberapa bulan setelah layanan publik di museum dibuka kembali, tetapi wilayah kedhaton dan keprabon yang semula bisa dilihat publik di seputar halaman Pendapa Sasana Sewaka, hingga kini masih tertutup rapat untuk publik secara luas.

benda-pusaka2
SETELAH DIKONSERVASI : Kereta kuda antik yang habis dikonservasi dan sebagian dicat warna orange ngejreng, punya daya pikat luar biasa untuk dicermati sebagai objek kunjungan dan objek penelitian edukasi di Keraton Surakarta. Itu adalah salah satu contoh fungsi manfaat bagi kemaslahatan publik secara luas, jangan sampai dijadikan komoditas di pasar gelap. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Suasana yang selalu sepi, lengang, pasif dan nyaris tidak ada kehidupan dari batas halaman Pendapa Sasana Sewaka selama hampir tiga tahun ini, bisa dipersepsikan publik memberi peluang yang leluasa terhadap pihak-pihak tertentu yang pernah melakukan tindak kejahatan dengan sasaran/objek benda-benda seni budaya bernilai sejarah, yang rata-rata antik itu.

Kahilangan Besar-besaran

Selain peluangnya sangat besar karena suasananya memungkinkan, juga bisa melahirkan persepsi publik tentang adanya skenario besar untuk mengambil benda-benda seni budaya bernilai sejarah itu.

Karena, tidak lama setelah ribuan Brimob dan ratusan militer menyapu bersih orang-orang di dalam dan menduduki keraton, diduga ada sekelompok orang dari kalangan kerabat melanjutkan ”preseden buruk” itu dengan membredel jaringan instalasi CCTV yang terpasang di sejumlah tempat yang menyimpan aset-aset koleksi benda-benda seni budaya dimaksud.

”Saya tidak tahu logika bagaimana yang digunakan, kok jaringan CCTV malah dibredeli. Logika umum, ada CCTV ‘kan sebagai alat bantu untuk mengawasi dan memantau situasi, agar bisa dilihat seandainya ada orang asing yang masuk ke situ, apa lagi jika hendak melakukan tindak kejahatan yang membahayakan. La, yang ini kok malah terkesan tidak suka atau tidak bebas. Jangan-jangan mereka itu kerjasama dan punya rencana….. Jangan-jangan mereka itu bagian dari skenario besar itu….,” papar GKR Wandansari Koes Moertijah saat menceritakan riwayat buruk yang menimpa keluarga besar kerabatnya di Keraton Surakarta, sejak dulu hingga kini, saat dihubungi suaramerdekasolo.com, tadi padi.

benda-pusaka3
GERAKAN KEBERSIHAN : Gerakan kebersihan yang dibangkitkan dari manapun dalam rangka perawatan dan pelestarian benda-benda seni budaya bernilai sejarah koleksi Keraton Surakarta seperti yang dilakukan di Museum Art Gallery, beberapa waktu lalu, bisa menjadi bagian dari sistem yang baik untuk menghindari pencurian. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jaringan instalasi CCTV yang dipasang GKR Wandansari Koes Moertijah setelah dirinya dipercaya sebagai Pengageng Sasana Wilapa setelah kakak sulungnya atau putra tertua Sinuhun Paku Buwono XII itu didukung untuk jumeneng nata menjadi Sinuhun Paku Buwono XIII mulai 2004, tentu berangkat dari kesadaran bersama bahwa proses ”kehilangan besar-besaran” yang dialami Keraton Surakarta harus dihentikan.

Atau setidaknya untuk mencegah dan menghindari kerugian yang lebih besar lagi, karena keasadaran yang lahir dan hendak dibangun bersama itu bahwa Keraton Surakarta dan seisinya yang tersisa sekarang ini adalah milik seluruh dinasti alias bukan milik perorangan, yang manfaatnya untuk kemaslahatan bersama bangsa dan negara, dari generasi ke generasi.

Untuk itu, ketika preseden buruk keraton ditutup dan seluruh bebadan dengan berbagai aktivitasnya justru ”diusir” ke luar keraton mulai April 2017, kekhawatiran akan berlanjutnya proses ”kehilangan besar-besaran” itu sangat mungkin terjadi.

Terlebih, ketika semua jaringan instalasi CCTV yang bisa merekam setiap aktivitas di dalam ruang di wilayah kedhaton dan keprabon itu dibredel alias dicopot, apalagi dan berapa lagi yang akan hilang?

benda-pusaka4
KOLEKSI KERETA ANTIK : Koleksi kereta kuda antik yang tampak sedang ditata di sebagian ruang Bale Rata Keraton Surakarta yang tak ternilai harganya ini, bisa saja ”dirusak” atau dijual begitu saja seperti nasib benda-benda seni budaya bernilai sejarah lainnya, karena sebagian besar kerabat dan publik secara luas seakan merasa sudah tidak butuh atau bukan hal penting dalam kehidupan kini, bahkan mendatang. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

139 Pabrik Gula Juga ”Hilang”?

Kalau Keraton Surakarta disebut sebagai insitusi penerus sekaligus pemelihara peradaban Jawa atau Mataram yang paling banyak kehilangan aset-aset, terutama koleksi benda-benda seni budaya bernilai sejarah, sangat bisa dibenarkan. Sebab, Keraton Surakarta adalah satu di antara empat lembaga masyarakat adat yang paling besar dan paling kaya saat NKRI lahir 17 Agustus 1945. Keraton Surakarta adalah ”nagari” yang paling besar dan belum pernah dijajah (Belanda) serta tidak pernah kalah perang dari siapa saja, sampai saat Sinuhun Paku Buwono XII menyatakan diri menggabungkan wilayah ke dalam NKRI alias melepaskan kedaulatan politiknya.

Dalam posisi sampai saat lahirnya NKRI, Keraton Surakarta memiliki segalanya seperti yang dimiliki sebuah bangsa atau negara, termasuk industri pangan bahkan produksi komoditas ekspor, yaitu produk gula dari 139 pabrik gula (PG) yang dimiliki dan tersebar di wilayah Jatim dan Jateng.

benda-pusaka5
PERNAH DICURI : Seperangkat gamelan unik sumbangan dari Raja Thailand (Putri Champa) kepada Sinuhun Paku Buwono X, dalam kondisi utuh sedang diidentifikasi dan didata ulang, setelah dikembalikan lembaga kepolisian karena penadah dan pencuri yang bekerjasama dengan orang dalam keraton tertangkap, beberapa waktu lalu sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Aset industri itu menjadi contoh untuk melukiskan bagaimana Keraton Surakarta yang begitu kaya dan manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat luas saat itu, tetapi setelah berada di dalam NKRI hingga kini, nyaris hanya berupa bangunan kosong, tak menghasilkan apa-apa, tak memiliki aset koleksi yang bisa menjamin kelangsungannya secara lahir dan batin.

Sangat mungkin, hanya karena ada perbedaan gaya dan pola, tetapi kehilangan yang dialami Keraton Surakarta diduga sudah terjadi sebelum memasuki alam kemerdekaan.

Namun, seiring dengan lepasnya kedaulatan politik, mungkin saja diartikan atau dipersepsikan sebagai aset publik yang bebas diambil kapan saja, bebas dimusnakan dan bebas digunakan untuk keperluan apa saja oleh pihak-pihak yang merasa telah menguasai atau menduduki.

benda-pusaka6
GERAKAN CINTA BUDAYA : Beberapa orang yang sedang membersihkan patung konser karawitan yang menghiasi salah satu ruang Museum Art Gallery Keraton Surakarta itu, adalah bagian dari sebuah gerakan kecil cinta budaya untuk merawat sekaligus menjadi bentuk pengawasan terhadap koleksi benda seni budaya bernilai sejarah yang tersimpan di situ. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Oleh sebab itu, bila dari waktu ke waktu selalu muncul berita bahwa ada benda-benda seni budaya bernilai sejarah yang raib dari berbagai tempat di wilayah Keraton Surakarta yang kawasannya tinggal 90 hektare itu, tentu bukan berita baru.

Bentuk peristiwa yang kemudian masuk kategori tindak kejahatan itu, seakan terus berulang, nyaris tak ada yang bisa diatasi atau diselesaikan menurut hukum positif yang berlaku, dan dianggap hal yang biasa ketika ada benda-benda seni budaya koleksi yang hilang, karena mungkin saja dianggap terlalu kecil atau sepele dibandingkan dengan hilangnya 139 PG, perusahaan kereta api, perusahaan listrik dan sebagainya. (Won Poerwono-bersambung)