Ternyata Pura Mangkunegaran Juga Pernah Kehilangan ”Badhong”

bendabuda1
BADHONG PALSU : Beberapa saat setelah ditemukan di etalase Museum Pura Mangkunegaran, ''badhong'' palsu yang diperlihatkan salah seorang abdidalem setempat dilaporkan ke aparat kepolisian setempat, beberapa waktu lalu. Tetapi barang itu dibungkus plastik dan tidak dibawa sebagai barang bukti dugaan pemalsuan dan pencurian. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

KIRA-KIRA 15 tahun silam, Pura Mangkunegaran juga sempat gempar karena KGPAA Mangkunagoro IX melaporkan ke institusi kepolisian setempat, karena salah satu benda seni budaya bernilai sejarah tidak terlihat di etalase tempat menyimpan koleksi di museum setempat. Benda yang dimaksud adalah ”badhong”, berupa lempengan logam yang aslinya setebal 3 mm, berbentuk segitiga yang terbuat dari logam yang berlapis emas.

Benda segitiga yang panjang sisinya sekitar 12 cm dan seberat kurang lebih 0,25 Kg itu, tak meninggalkan catatan yang menjelaskan tentang asal-usul, tahun pembuatan dan siapa yang membuat. Tetapi KGPAA Mangkunagoro IX yakin, benda yang sangat langka itu peninggalan leluhurnya semasa Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunagoro I bertahta sebagai ”Adipati”, dan fungsi benda itu adalah mirip sabuk pengaman organ wanita yang wajib dikenakan saat ditinggal pergi sang suami.

Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com yang waktu itu mendapat penjelasan KRMT Tranggono semasa berdinas sebagai Kepala Museum dan Pariwisata Pura Mangkunegaran, ”badhong” yang pernah dimiliki Pura Mangkunegaran adalah alat pengaman yang dilengkapi gembok, untuk seorang istri-istri raja yang sedang ditinggal pergi sang suami yang tak lain adalah raja. Badhong yang terpasang dalam keadaan terkunci di organ wanita, merupakan bagian dari sistem pengamanan ”ruang pribadi” wanita karena biasanya ditinggal pergi sang suami lebih dari sehari.

bendabuda2
WUJUD PALSU : Entah siapa yang menjadi kuratornya, lempengan plat logam yang ”dibentuk” menyerupai alat pengaman organ pribadi wanita yang disebut ”badhong” itu dinyatakan palsu. Barang tiruan itu baru diketahui setelah beberapa waktu berada di etalase Museum Pura Mangkunegaran, yang diduga untuk mengganti ”badhong” asli yang dicuri, belasan tahun lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Kepindahan Melalui Jual Beli Sah

Bagaimana kisah sesungguhnya terutama mengenai fungsi gembok yang disebut ”badhong” itu, sepertinya belum ada peneliti yang secara khusus menginvestigasi soal itu. Yang jelas, barang aslinya sudah tidak di tempat, tetapi ditukar lempengan logam kuningan yang juga berukir, besarnya sama, warnanya hampir sama dengan warna dasar ”badhong” aslinya, tetapi sangat ringan mengingat yang tertinggal di etalase itu adalah palsu, yang diduga untuk mengelabuhi petugas jaga museum.

Badhong dan Wayang Beber

Selain latar belakang cerita ”badhong” yang sangat langka itu buntu, hasil laporan KGPAA Mangkunagoro IXpun juga tidak ada kabarnya, apakah benar-benar dilacak atau sudah dilacak tetapi tidak membuahkan hasil. Hingga kini, belum ada informasi sedikitpun soal keberadaan ”badhong” itu terdengar, tetapi sangat berbeda dengan lukisan wayang beber yang panjangnya lebih 4 meter yang pernah dilihat Dr Bambang Suwarno menghias Museum Pura Mangkunegaran, tetapi beberapa waktu kemudian tidak lagi tampak.

Baca : Sultan Agung adalah Narindra Sekaligus Wali

”Soal wayang beber yang berasal dari Pura Mangkunegaran, saya tidak pernah melihat di museum pribadi Mr Walter Angst. Mungkin masih disimpan di ruang ‘rahasia’ di suatu tempat di Pura Mangkunegaran,” tulis Lydia Kieven dalam komentar lewat whatsapp (WA)nya yang dikirim ke HP Dr Bambang Suwarno, lalu diteruskan ke suaramerdekasolo.com, kemarin.

bendabuda3
MUSTAHIL DICURI : Patung singa yang menghias beberapa sudut sekitar Pendapa Agung Pura Mangkunegaran itu, menjadi satu di antara sejumlah aset yang menjadi cirikhas dan ikon situs bangunan bersejarah itu. Tiap waktu, secara rutin dirawat, dicuci agar bersih, terawat serta bisa menjauhkan dari tindak kejahatan, meskipun melihat posisi dan besarnya, mustahil bisa dicuri. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Lydia Kieven adalah seorang peneliti seni yang pernah berkunjung ke rumah Dr bambang Suwarno tahun 2017. Peneliti seni tradisional termasuk wayang kulit itu, menyebutkan mendapat kiriman berita berjudul lain (SMS.Com, 13/9) dari pensiunan dosen jurusan pedalangan ISI Solo itu. Di situ disebutkan, Pura Mangkunegaran punya koleksi wayang beber panjangnya lebih 4 meter. Wayang bebera dari bahan daluwang (kertas) itu adalah duplikasi yang dilakukan semasa KGPAA Mangkunagoro VII, terhadap wayang beber yang terbawa lari ke daerah Gunungkidul (Jogja) saat Keraton Mataram Kartasura porak-poranda (1677-1745) akibat pemberontakan Mas Garendi.

Baca : Cungkup Makam Amangkurat Perlu Bangunan Pelindung

Sudah Pindah Tangan

Dalam suaramerdekasolo.com (13/9) itu, Dr Bambang Suwarno menyebutkan sudah tidak melihat koleksi wayang beber tersebut menghias ruang museum Pura Mangkunegaran. Tetapi diduga sudah ”lari” ke luar negeri, misalnya menjadi salah satu koleksi museum pribadi Walter Angst. Menerima kiriman artikel soal wayang beber itu, Lydia Kieven mengucapkan terima kasih kepada Dr Bambang, tetapi dia menjelaskan bahwa wayang beber dimaksud tidak terlihat di museum pribadi Walter Angst.

”Mohon maaf, Mr Walter Angst justru sudah meninggal pada tahun 2014. Semua koleksinya dibawa ke University Gallery (Yale University) pada tahun 2016. Dan saat ini sedang diiventarisasi untuk didokumentasi dengan perangkat digital oleh Matthew Cohen. Mudah-mudahan tulisan saya ini berguna,” tulis Lydia lagi, menjawab percakapan dengan Ki Bambang Suwarno, dalang segala jenis wayang itu.

Sebagai ilustrasi, hampir semua koleksi Walter Angst yang kini sedang ”diselamatkan” atau pindah ke tangan Matthew Cohen itu, sebelumnya disebutkan Ki Manteb memiliki dokumen jual-beli yang sah (SMS.Com, 9/10) . Bahkan, Ki Bambang Suwarno menyatakan banyak yang kenal nama-nama yang tertulis dalam kuitansi jual-beli benda-benda seni budaya koleksi Walter Angst, khususnya wayang kulit.

bendabuda4
MUSEUM KERATON : Bila dihitung, Keraton Surakarta memang paling banyak mengalami kehilangan aset-aset koleksi benda-benda budayanya yang bernilai sejarah dan antik. Bila tidak menyulitkan cara membawanya, koleksi kereta berkuda yang begitu banyak dan di antaranya sedang diteliti ahli dari Belanda, Arie de Jager itu bisa jadi juga akan hilang dicuri atau dibawa ”lari” ke luar negeri.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Makam Sinuhun Amangkurat Biarlah Jadi Sumber Manfaat

Menjadi Rahasia Umum

Namun Ki Bambang mengaku tidak akan mengungkap nama-nama yang dikenal dalam urusan jual-beli benda-benda seni budaya yang tergolong antik, bernilai sejarah dan milik beberapa institusi, termasuk Keraton Surakarta itu. Selain bukan kapasitas dan kewenangannya menyebutkan, penolakannya menyebut nama-nama itu karena nama-nama pedagang/penjual/ perantaranya itu diyakini sudah menjadi rahasia umum.

”Aku pancen kenal karo jeneng-jeneng sing tertulis neng kuitansi jual-beli (benda-benda seni) kuwi. Ning aku emoh melu urusan soal kuwi. Merga aku kenal karo jeneng-jeneng sing eneng kuitansi kuwi. Ora etislah. Karo, ya dudu urusanku. Sing genah, jenengku ora bakal eneng kono (kuitansi). Dadi, jenengku resik. Tak tanggung resik. Merga aku ora tau adol barange wong liya, apa meneh koleksi keraton. Yen adol, ya barang gaweanku dewe. Kuwi wae, ora akeh sing tak dol. Merga aku jane ora seneng adol barang-barang karyaku dewe,” tegas Ki Bambang yang ditemui suaramerdekasolo.com kemarin, saat sedang memasang desain gunungan super jumbo untuk pengisi bingkai sekat atau ”rana”.

Yang jelas-jelas bisa disebut jenis barangnya yang raib, itu baru ”badhong” dan wayang beber. Padahal, diduga masih banyak lagi jenis dan jumlah barang lain yang sudah raib dari tempatnya lebih dulu, dan mungkin masih di dalam pasar gelap, atau sudah ikut ”lari” jauh ke luar negeri, tetapi tidak pernah terdeteksi dari sini. Seandainya, aset bernilai sejarah yang berupa tanah bisa dibawa ke pasar gelap atau nisa ”lari” ke luar negeri, tentu akan sulit dilacak, meskipun rata-rata di atasnya berdiri bangunan kompleks rumah seperti yang dulu ada di sekitar perempatan Pasar Pon, tanah-tanah milik institusi adat di Tawangmangu (Karanganyar) dan di banyak tempat yang berkait dengan sejarah Keraton Surakarta. (Won Poerwono-bersambung)

bendabuda5
MELACAK ASET : Kedatangan rombongan misi kesenian Keraton Surakarta yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertijah menggelar pentas seni khas keraton di Amsterdam, Belanda, 2005, juga dimanfaatkan KPH Raditya Lintang Sasangka yang datang ke Museum Leiden untuk melacak aset-aset manuskrip milik keraton yang banyak tersimpan di situ. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Ki Seno Nugroho, Titisan Ki Narto Sabdho itu Telah Lahir

Editor : Budi Sarmun

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini