Ki Seno Nugroho, Titisan Ki Narto Sabdho itu Telah Lahir

ki-seno-nugroho
Ki Seno Nugroho saat akan memulai wapakeliran di Karanganyar. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

HARUS  diakui, kepiawaian dalang kondang Ki Seno Nugroho yang asli Yogyakarta saat ini, memang tiada banding. Kelucuan, keterampilannya dalam olah sabet, keberaniannya mendobrak pakem, pokoknya serba semau gue dalam dunia pakeliran wayang kulit purwa, ada padanya.

Kalau boleh menyamakan, titisan dalang empu wayang Ki Narto Sabdho dari Semarang yang sudah murud kasidan jati, muncul dan ada pada diri Ki Seno Nugroho.

Kesamaannya, mungkin karena Ki Narto Sabdho lahir dan muncul saat wayang masih berbalut dengan dunia yang seharusnya, sehingga kepiawaian dalam urusan sanggit menjadi tuntutan.

Ki Seno Nugroho muncul saat wayang harus kreatif agar tetap lestari. Maka urusan pakem mungkin menjadi nomor sekian yang penting wayang harus digemari. Ditunjang zaman teknologi informasi dan komunikasi, maka dia berani membentuk tim khusus untuk menggarap streaming agar kipraghnya diikuti terus oleh penggemarnya. Dan itu benar-benar kejadian.

Tapi tanpa kepiawaian Ki Seno yang memang bak Ki Narto Sabdho di zamannya dulu, sulit baginya untuk tetap menjadi dalang idola bagi masyarakat, dan imbasnya menjadikan wayang tetap mendapatkan penggemar.

Satu hal kelebihan Ki Seno dalam ulah boneka dari kulit sapi itu adalah hal antawecana yang nyaris sempurna, sehingga satu tokoh dengan tokoh lain menjadi betul-betul beda suaranya. Harus diakui ini kelebihan Ki Narto Sabdho yang menjadikan empu wayang itu melegenda sampai sekarang dan belum menemukan penggantinya.

Kedua, soal dramatisasi yang menjadikan suasana pakeliran menjadi hidup. Dengan paduan yang apik antara antawecana, dhodhokan, keprak, menjadikan dramatisasi wayang serasa hidup dan menyenangkan. Imajinasi penonton menjadi liar seakan menyaksikan kehidupan sebenarnya di antara wayang itu.

Suasana Humor

Ketiga suasana humor yang terus menerus terekspos dan muncul di setiap adegan, menjadikan penonton ngakak tiada henti. Di tangan Ki Seno, hampir tidak ada tokoh wayang yang tidak ikut larut melucu. Termasuk tokoh sakral yang mestinya serius, seperti Bathara Guru, Prabu Puntadewa, Bimasena, Arjuna, yang mestinya termasuk tokoh wayang serius bisa larut dalam humor.

Dan ini harus diakui menjadi keunggulan Ki Seno Nugroho. Suasana pakeliran menjadi banyak mengundang tawa, sehingga mengaduk-aduk perut penonton. Tawa dalam candaan yang sebetulnya wajar karena memang seharusnya. Bayangkan komentar Prabu Puntadewa yang ingin ikut gara-gara karena semua tokoh melucu.

Belum lagi ekspos yang mendalam tokoh Nagong yang selalu tampil menjadi roll sehingga hampir setiap lakon yang digelar mesti selalu penonton meminta tokoh Bagong untuk tampil. Seban dengan gayanya yang khas perwatakannya yang selalu menjadi manifestasi rakyat kecil yang berani mengingatkan orang besar seakan menjadi idola. Dan inilah kelebihan Ki Seno yang selalu dirindukan.

Dan ini pula yang menjadikan Ki Narto Sabdho berjaya di eranya dulu, yang juga mirip-mirip dan menitis ke Ki Seno dalam hal kelucuan. Hanya era Ki Narto pakeliran belum seterbuka sekarang, masih diliputi semu, sehingga saat itu tokoh yang lucu sedikit saja sudah luar biasa.

Kelebihan lain pemakaian bahasa campur aduk dalam pakeliran. Ini bisa disebut sebagai kelemahan karena bahasa pakeliran sudah memiliki pakem sendiri. Namun harus diingat ini zaman milenial yang harus disesuaikan dengan pemahaman penonton yang semakin tipis dengan bahasa pewayangan yang memiliki kaidah sendiri. Ki Seno dengan cepat menangkap itu sehingga pakelirannya disukai.

Terakhir masalah pakem. Ki Enthus dulu sudah menjadi tokoh yang dijuluki ngobrak-abrik pakem. Sekarang Ki Seno lebih lagi. Pakem yang penting dibagi tiga, pathet nem, pathet sanga, dan manyura. Itu saja yang tersisa. Selebihnya pengaturan itu disesuaikan dengan suasana pakeliran. Yang paling akhir, ini juga kelebihan Ki Seno.

Kalau zaman Ki Nrto dia sukses menggabungkan cirikhas wayang gaya Surakartan dengan Ngayogyakartan, maka Ki Seno sebaliknya. Dia sukses menggabungkan gaya wayang gagrak Ngayogyakartan dengan Surakartan.

Dasarnya wayang yogyakartan, namun dalam penampilannya terutama saat manyura dia selalu menampilkan pakeliran dan gamelan gaya Surakartan. Berbalik dengan Ki Narto Sabdho.

Apapun, dia sudah menjadi dalang idola, dengan pentas tiada henti dan wayang menjadi hiburan yang ditunggu, tak lagi peduli itu wayang yogyakartan atau gagrak surakartan. Yang penting bisa dinikmati dan lestari.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun


Tinggalkan Balasan