Benda Bernilai Tinggi Yang Masuk Pasar Gelap, Rata-rata Hasil Tindak Kejahatan

benda-budaya-1
ADI KURATOR : Pengageng Sasana Pustaka KGPH Puger, lumayan handal melakukan proses kurasi terhadap benda-benda seni bernilai sejarah dan antik koleksi Keraton Surakarta, karena dia bisa mengidentifikasi wujud visual hingga label yang ada pada wayang kulit koleksi keraton, seperti saat pendataan ulang di Pendapa Magangan, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kisah Benda-benda Bernilai Sejarah yang ”Lari” ke Luar Negeri (2-bersambung)

DALAM ilmu kriminologi ada teori yang menyebutkan bahwa tindak kejahatan pencurian, perampokan dan sejenisnya, selalu melibatkan orang dalam atau setidaknya orang yang mengetahui atau pernah mengetahui situasi rumah atau tempat yang menjadi sasaran tindak kejahatan tersebut.

Teori ini berlaku secara umum dan tidak memandang jenis barang yang menjadi sasaran atau objek tindak kejahatan. Artinya, barang-barang seni bernilai sejarah terutama yang tangible, bisa menjadi objek tindak kejahatan perampokan, pencurian dan sejenisnya.

Teori itulah yang mendasari dan menuntun langkah seandainya ada upaya untuk menelusuri raibnya benda-benda seni bernilai sejarah milik beberapa peradaban di Indonesia, misalnya Jawa, yang diketahui banyak tersimpan di museum-museum pribadi dan milik pemerintah di sejumlah negara misalnya Jerman dan Belanda.

Sebut saja, barang-barang seni termasuk naskah-naskah yang ada di Museum Leiden, Belanda, juga koleksi aneka jenis wayang dan perlengakapan seni pertunjukan pakeliran yang dimiliki secara pribadi oleh Walter Angst (bukan Wolter Ang-Red).

Benda-benda seni budaya bernilai sejarah yang dimiliki secara pribadi di negara-negara lain di Eropa bukannya tidak ada, tetapi dua negara itu yang tergolong paling banyak menyimpan benda-benda seni budaya bernilai sejarah asal Indonesia utamanya dari peradaban Jawa, termasuk naskah-naskah kuno tentang berbagai peristiwa (sejarah) dan karya sastra, mengingat Belanda menjajah Indonesia sampai 350 tahun.

Meskipun Keraton Surakarta yang dulu bernama nagari Mataram Surakarta Hadiningrat, tidak termasuk jajahan Belanda karena ada banyak bukti tentang dokumen perjanjian kontrak sewa tanah antara Belanda dan Nagari Mataram Surakarta.

benda-budaya-2

Kalau yang menyangkut dokumen atau manuskrip termasuk naskah-naskah kuno dan karya sastra menempati urutan bawah dalam ranking perdagangan barang seni budaya bernilai sejarah di pasar gelap, karena memang nilai fungsi dan peruntukannya sangat terbatas. Sangat beda dengan benda-benda seni budaya bernilai sejarah lainnya, semisal keris, wayang, topeng, gamelan, pedang/samurai, patung, batik, pot bunga dan juga lempengan logam segi tiga yang disebut ”badhong” yang pernah menjadi koleksi Museum Pura Mangkunegaran.

Jadi Berita Dunia

Dari sederet benda seni budaya bernilai sejarah di atas, hampir semua laku keras di pasar gelap dan kolektor-kolektor asing terutama di Eropa yang paling tinggi peminatnya. Tetapi karena hampir semua benda kategori bernilai seni budaya, apalagi bernilai sejarah dan antik itu masuk ke pasar gelap melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan prosedur transaksi legal-formal atau justru hasil tindak kejahatan, tidak aneh bila kemudian muncul ke permukaan dalam sebuah kasus besar, misalnya ketika Museum Radya Pustaka jadi berita dunia yang gegap-gempita, beberapa tahun lalu.

Mulanya, yang menjadi objek perkara hanyalah raibnya sejumlah patung yang menjadi koleksi museum yang berada di kompleks Taman Sriwedari eks Kebonraja itu. Namun ketika dilakukan pengusutan lebih dalam, yang diduga hilang atau sudah menjadi barang duplikat atau bukan asli banyak sekali jumlah dan jenisnya, termasuk koleksi wayang kulit yang dipinjamkan Keraton Surakarta agar menjadi koleksi museum, saat Radya Pustaka diresmikan Presiden (pertama) RI Soekarno di tahun 1955.

Kepada Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com (SMS.Com), dalang kondang Ki Manteb Soedarsono yang pernah menjadi kurator koleksi wayang museum untuk keperluan penyidikan kasus itu menyebutkan, dari ratusan tokoh anak wayang koleksi
Museum Radya Pustaka yang diteliti banyak yang sudah bukan asli. Artinya, wayang kulit asli yang dipinjamkan Keraton Surakarta hampir semuanya memiliki label identitas tahun pembuatan dan logo ”produsen” macam ”PB X” yang artinya dibuat di masa Sinuhun Paku Buwono (PB) X.

benda-budaya-3
BATIK TULIS : Batik tulis seperti yang sedang dikerjakan seorang abdidalem di depan KGPH Puger dan para tamunya dari Jepang, beberapa waktu lalu itu, adalah salah satu karya seni (kerajinan) yang bisa menjadi incaran para kolektor di pasar gelap, apabila memenuhi unsur antik, terlebih koleksi Keraton Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Banyak yang Tidak Asli

Dari kesimpulan sementara Ki Manteb, koleksi wayang yang ada saat dilakukan proses kurasional untuk pendataan ulang aset museum, didapati ada yang masih memiliki tulisan tahun pembuatan dan logo asli produk semasa Sinuhun PB X (1893-1939). Tetapi juga ada yang tertera tahun dan logo, namun diduga sudah diduplikasi atau bukan asli. Bahkan banyak pula yang sama sekali tidak mencantumkan label itu alias produk sama sekali baru, atau setidaknya produk setelah tahun 1990-an.

”Tetapi, apanya dikurasi pak Manteb (Ki Manteb-Red), ya bukan jaminan. Saya belum yakin semua yang dikurasi memiliki tingkat akurasi kebenaran sempurna. Akurasi kebenaran yang kurang sempurna ini, tidak bisa menjamin yang diakurasi adalah barang-barang sama sekali baru atau yang dikatakan asli,” jelas Dr Bambang Suwarno (70), pensiunan dosen jurusan pedalangan ISI Solo, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Tarlepas asli atau tidak hasil kurasional itu, yang jelas benda-benda seni budaya bernilai sejarah produk peradaban sampai yang sudah memenuhi unsur antik, dalam jumlah dan jenisnya sangat banyak, nyaris tak mendapat tempat yang layak di negeri ini. Negara atau pemerintah yang dipersepsikan sebagai pihak paling berwenang memelihara aset-aset dan nilai-nilai budaya produk peradaban yang menjadi embrio bangsa di Nusantara ini, juga terkesan sangat lemah bahkan lebih banyak dipersepsikan membiarkan harta tak tenilai itu tidak terurus.

Dibiarkan Agar Musnah

Dalam banyak penelitian sejumlah intelektual kampus, ditambah curah informasi yang dikumpulkan pada setiap pertemuan anggota FKIKN sejak 1995, justru menunjukkan sebuah kesimpulan yang membenarkan terjadi sikap pembiaran. Karena dengan dibiarkan, masyarakat adat peroduk peradaban yang menyimpan aset-aset benda seni budaya bernilai sejarah nan-antik itu, akan tercerai-berai dan bubar dengan sendirinya bersama atau tanpa aset-asetnya, sehingga Indonesia modern yang dipersepsikan beberapa kreatornya di masa lalu benar-benar terwujud tanpa bersusah-susah mengurus benda-benda seni budaya peninggalan sejarah.

benda-budaya3
TIDAK DIJUAL : Meski tidak terlihat ada keterangan sama sekali, tetapi gunungan atau kayon buatan Dr Bambang Suwarno tahun 1990-an itu, tak ingin dijual atau dibeli berapapun nilainya, apalagi oleh kolektor asing. Karena, kayon jenis itu tiada duanya, murni kreasi dalang profesional itu sendiri. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Analisis terhadap berbagai variabel yang muncul dari berbagai pihak dalam kurun waktu yang panjang selama ini, juga bisa menjadi pembenaran atau alasan mengapa banyak benda seni budaya bernilai sejarah nan-antik, ”lari” keluar negeri. Terhadap persoalan seperti ini, Dr Bambang Suwarno yang juga dalang wayang purwa hingga aneka ragam gaya wayang itu semula menyatakan setuju apabila negara/pemerintah yang wajib mengurus benda-benda seni budaya bernilai sejarah apalagi antik itu, tetapi ketika mendengar kabar Belanda akan mengembalikan semua barang bersejarah asal Indonesia, menjadi tampak terperangah.

Wah…, ngono ya…. Yen ngono ya wis embuh kono. Ning apike, kudu dienengke rembugan, golek solusi sing apik lan tepat. Ning arep piye wae, negara sing kudu bertanggungjawab. Mosok ora gelem….?,” ujar kreator berbagai ragam gunungan atau kayon itu menyarankan dalam bahasa Jawa ngoko, sambil mengernyitkan alis. (Won Poerwono-bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini