Kepindahan Melalui Jual Beli Sah

0
115
benda-budaya1
RAWAN DICURI : Benda budaya berupa komponen gamelan koleksi Keraton Surakarta saat dijamas di tempat penympanannya, Bangsal Bale Bang, beberapa waktu lalu. Aset koleksi yang memiliki nilai sejarah dan sudah dianggap sebagai pusaka, sangat rawan dicuri. Karena di pasar gelap, per komponen barang-barang itu bisa laku sangat mahal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kisah Benda-benda Bernilai Sejarah yang ”Lari” ke Luar Negeri (1-bersambung)

HUBUNGAN dagang antara orang-orang Indonesia dengan orang-orang di luar negeri atau pasar dunia, ternyata tidak hanya yang menyangkut hubungan dagang resmi yang merupakan kebijakan resmi antar pemerintah dan menyangkut komoditas-komoditas yang resmi diekspor.

Melainkan, ada pula hubungan dagang antara orang perorang atau kelompok dengan kelompok dari dalam negeri dengan luar negeri, terhadap barang atau benda-benda komoditas yang menjadi kebutuhan manusia, melainkan barang atau benda yang bernilai seni, antik bahkan bernilai sejarah peradaban masa lalu.

Perdagangan benda-benda seni, antik dan bernilai sejarah itu, bahkan bukan hal baru yang dalam aktivitas perdagangan, melainkan juga sudah lama terjadi, bahkan seiring dengan perjalanan berbagai peradaban di dunia.

benda-budaya2
REBAB GADING : Instrumen musik karawitan yang bernama rebab yang tangkainya terbuat dari gading gajah seperti yang tergantung di tiang Bangsal Bale Bang, harganya akan semakin mahal kalau asalnya dari koleksi benda sejarah Keraton Surakarta. Tetapi, kini sudah tidak terlihat di keraton, selain sederet instrumen gong Kiai Surak. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebab itu, bila dalam tiga sampai empat dekade lalu banyak negara termasuk Indonesia heboh memperbincangkan perdagangan guci-guci kuno asal Tiongkok, itu karena memang banyak komoditas jenis itu diperdagangkan dan banyak pula peminatnya, sampai-sampai bermunculan pabrik atau industri rumah-tangga yang memproduksi varang sejenis tetapi menggunakan bahan-bahan tertentu agar tampak seperti kuno.

Bila guci berasal dari Tiongkok, orang-orang Indonesia yang terlibat paling banyak menjadi bagian dari pasar, tetapi termasuk banyak yang memiliki, mengingat dari 250-an juta penduduk Indonesia, banyak orang kaya yang belanja barang-barang seni seperti itu sebagai simbol kemapanan.

Tetapi, bagaimana apabila barang-barang seni, antik dan bernilai sejarah itu asli produk bangsa Indonesia, apalagi produk peradaban masa lalu seperti keris, wayang, topeng, batik, gamelan dan barang-barang yang mengisi museum seni-budaya semisal patung, pot bunga, pedang/samurai dan lempengan logam bernama ”badhong”?

Ki Manteb Pernah Lihat

Di Jerman, ada seorang kolektor barang-barang seni bernama Wolter Ang, dan 70 persen koleksinya adalah wayang kulit dari berbagai gaya dan hampir semuanya antik, bahkan produk peradaban masa lalu yang sebelumnya hanya dikoleksi museum-museum tertentu di Indonesia semisal Keraton Surakarta.

bendabudaya3
COBA MENGIDENTIFIKASI : KGPH Puger dan adiknya, Gusti Moeng, mencoba mengidentifikasi tahun pembuatan sebuah anak wayang dari sekotak koleksi wayang pusaka Keraton Surakarta. Kegiatan itu adalah rangkaian pendataan ulang dan pendokumentasian semua aset wayang, setelah kembalinya 23 anak wayang sudah raib beberapa bulan, sebelum keraton ditutup, April 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalang terkenal asal Doplang, Karangpandan, Karanganyar Ki Manteb Soedharsono (71) mengaku pernah diundang berkunjung ke rumah kolektor seni itu, tetapi sayang, saat ditemui suaramerdekasolo.com tidak ingat nama kota tempat tinggal Wolter Ang itu.

Dari cerita Ki Manteb berkunjung di museum pribadi Wolter Ang itu, melukiskan ragam koleksi barang seni seperti di atas, bahkan disebutkan barang antik bagian apa saja yang berkait dengan seni pakeliran ada di museum itu.

Bahkan, banyak sekali koleksi-koleksi dari tempat-tempat bersejarah misalnya Keraton Surakarta dan lembaga-lembaga sejenis di Surakarta, Jogja dan di kota-kota lain di Indonesia yang pernah menjadi pusat-pusat peradaban masa lalu.

”Wayang yang kategori pusaka, ada banyak di sana. Tulisan aksara Jawa di pelemahan (bagian bawah anak wayang) ‘kan bisa dibaca. Di situ tertulis tahun pembuatan, nama lembaganya. La, kalau simbolnya ‘PB X’ itu artinya apa? Kalau di situ tertulis dengan bilangan Jawa yang artinya 1800-an, terus maksudnya apa kalau bukan menunjuk tahun pembuatan”.

”Kalau ada petunjuk tahunnya, kan bisa dilacak keratonnya di mana? Yang pantas punya koleksi sebagus itu apalagi termasuk pusaka, kira-kira siapa? Mosok Woltrer Ang datang ke sini sendiri mengambil itu? Mosok dia sendiri yang ke sini membeli?,” ujar Ki Manteb bertanya-tanya, karena dirinya sama sekali tidak tahu mengapa barang-barang seni yang seharusnya dirawat di museum-museum di Tanah Air itu bisa ”lari” ke luar negeri, misalnya ada yang pindah di museum pribadi milik Wolter Ang.

benda-budaya4
WAYANG PUSAKA : Semua wayang dari 17 kotak milik/koleksi Keraton Surakarta yang tiap weton Selasa Kliwon atau Anggara Kasih diesis (digelar) di gedhong Sasana Handrawina, adalah wayang pusaka yang nyaris sempurna dari berbagai persyaratan estetika, ukuran proporsional, fisik dan non fisik yang sangat dicari dengan harga sangat mahal di pasar gelap. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tidak Ingin Bermasalah

Sebagai seorang kolektor yang tidak ingin bermasalah dengan koleksinya, ternyata Wolter Ang mempunyai cara yang aman untuk mendapatkan barang-barang seni sejauh yang diketahui Ki Manteb Soedharsono, yaitu melalui proses jual-beli yang sah.

Barang-barang koleksi terutama anak wayang antik yang jumlahnya lebih dari 10 kotak itu, semua berlabel dan dilengkapi kuitansi pembelian/pembayaran, dan ada tanda tangan antara yang menjual maupun membeli barang.

Memang, di luar unsur-unsur aktivitas perdagangan, ada faktor lain yang sangat memungkinkan barang-barang seni budaya, antik dan produk peradaban itu sampai ”lari” ke luar negeri.

Sebab, di Museum Leiden, Belanda, di sana tersimpan sebilah keris Kiai Nagasasra yang lengkap dengan warangka (sarung), padahal dari dokumen sejarahnya keris buatan empu di zaman Keraton Mataram tersebut hanya ada dua.

Lebih dari 5 tahun lalu, pemerintah Belanda mengumumkan hendak mengembalikan keris bersama ratusan item barang seni budaya lain asal Indonesia pada saat pemerintahan Presiden SBY, karena pemerintah Belanda merasa semakin berat menyediakan biaya untuk pemeliharaannya.

”Khusus soal ini terus bagaimana kelanjutannya, saya tidak tahu. Di antara ratusan item koleksi museum itu, keris dan naskah-naskah kuno adalah milik Keraton Surakarta. Saya tidak tahu persisnya bagaimana, tetapi barang-barang itu sudah ada di Belanda sebelum Indonesia sana,” sebut GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta ketika dimintai tanggapannya soal itu, di tempat terpisah, tadi pagi. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini