Keturunan Ziarah ke Makam Gubernur Jateng Pertama di Astana Kendaran Sukoharjo

WhatsApp Image 2019-10-02 at 00.15.59-ziarah-krmt-wongsonagoro
ZIARAH : Sejumlah keturunan KRMT Wongsonagoro saat berziarah dan berdoa di makam Astana Kendaran, Gatak, Sukoharjo.(suaramerdekasolo.com/Ari Welianto)

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Puluhan keturunan berziarah ke makam Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Wongsonagoro yang merupakan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) di Astana Kendaran, Gatak, Sukoharjo, Minggu (29/9). Mereka menggelar doa bersama dengan warga sekitar makam dan menaburkan bunga ke makam Gubernur Jateng periode 1945-1948 dan anggota keluarga lain.

Disini juga dimakamkan Gubernur Jateng ketiga, R Soekardji Mangoenkoesoemo yang merupakan ada dari KRMT Wongsonagoro. Selain itu beberapa anggota lainnya juga.

“Kami rutin mengelar ziarah ke makam leluhur kami. Biasanya itu setiap tanggal 29 September, seperti haulnya,” ujar keturunan KRMT Wongsonagoro, Bambang Haryo Sukartono disela-sela ziarah, kemarin.

Ziarah ini untuk mengenang dan mendoakan eyang-eyang yang sudah dimakamkan ini. Apalagi beliau juga salah satu pahlawan yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Selain itu juga untuk ajang silahturahmi antar keluarga, karena disini juga dimakamkan putra Soekardji Mangoenkoesoemo, yaitu Sukarno.

“Kami ingin mendoakan eyang-eyang kami dan ajang silahturahmi. Biasanya itu ada 100 rombongan yang ikut ziarah tiap tahunnya,” ungkap dia.

Sebenarnya banyak juga masyarakat yang ziarah kesini dan itu tidak masalah. Malah bagus dan bisa mengenal Gubernur Jateng pertama dan ketiga. “Silahkan saja jika masyarakat ingin berziarah dan mendoakan. Banyak masyarakat yang datang kesini,” imbuh dia.

Punya Kharisma

Sementara itu cucu dari Soekardji Mangoenkoesoemo, Bambang Edy Soeprapto mengatakan sebagai keturunan atau penerus dari eyang akan meneruskan cita-cita perjuangan. Semasa hidupnya, beliau ikut berjuang dalam melawan penjajah.

“Apa yang sudah dilakukan oleh beliau akan kami teruskan. Semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sudah dilakukan, semoga menjadi panutan buat keturunannya diberbagai bidang yang ditekuni dan masyarakat luas,” papar dia.

Dia, menilai sosok eyang-eyang sudah meninggal dan dimakamkan disini masing-masing punya kharisma, maupun berwibawa. Pastinya sebagai keturunan dan masyarakat bisa mengikuti segala apa yang sudah diperbuat. “Punya kharisma dan berwibawa eyang itu. Kami rutin melakukan ziarah kesini,” sambungnya.

Makam Kendaran yang berada di Dukuh Jetis, Desa Kagokan, Kecamatan Gatak ini merupakan makam keluarga. Masyarakat banyak yang datang untuk berziarah, kalau dari keluarga atau keturunannya sering. “Tidak hanya dari keluarga yang sering datang. Dari Pemerintah provinsi atau kabupaten juga sering nyekar, biasanya saat hari-hari tertentu,” pungkas Juru Kunci Astana Kendaran, Sugeng Santoso. (Ari Welianto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Balasan