Dalang ”Sepuh” yang Rajin Mencari, Mencipta dan Melengkapi

wayang-keraton1
SANGAT DIKAGUMI : Sejumlah anak wayang kategori pusaka koleksi Keraton Surakarta, yang sangat dikagumi Ki Bambang Suwarno karena kualitas dan ukurannya paling ideal, ketika ikut dilibatkan dalam pendataan kembali koleksi wayang di Pendapa Magangan, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Ki Dr Bambang Suwarno SKar MHum

TIDAK banyak seniman tradisi khususnya dalang wayang kulit purwa yang memiliki nama cemerlang seperti Ki Bambang Suwarno. Walaupun kecemerlangan itu, tidak menjadikan dalang pensiunan PNS ISI Solo bergelar doktor itu kaya-raya, bergelimang uang, hidupnya mubra-mubru serba enak dan laris ditanggap para penggemarnya, apalagi nilai job pentasnya ”sefantastis” yang selama ini diterima Ki Manteb Soedharsono, misalnya.

”Aku ki pada karo kanca-kanca dalang kae, biasa-biasa wae. Aku ya mung seneng kudu pengin ngerti, nggoleki, yen wis ketemu nyoba-nyoba gawe apa sing wis eneng angen-angenku. Eneng apa aku seneng rono? Merga lakuning jagat sing isen-isene urip bebrayan kuwi, kabeh isa ditonton wewayangane, isa diwujudke dadi wayang lan isa diurutke critane. Syukur, ora mung wujud wadag sing ketok, nanging spirit sing handayani isa diwujudke nganggo simbol-simbol,” papar doktor di bidang seni pedalangan saat ditemui suaramerdekasolo.com, kemarin.

Menurut intelektual dalang yang meraih doktornya beberapa saat menjelang pensiun dari PNS ISI Solo, sekitar 5 tahun lalu itu, dari serangkaian penelitian yang dilakukannya selama ini didapat pembenaran bahwa seni pakeliran wayang kulit khususnya sebagai karya seni kriya memang sudah sampai pada puncaknya. Terlebih, sebagai seni pertunjukan dan seni kriya tatah sungging, wayang sudah terbagi lengkap sesuai mazabnya, yaitu wayang kulit purwa (awal), wayang kulit madya dan wayang kulit wasana dan masih disisipi wayang kulit gedhog yang muncul di sela-sela antara wayang kulit madya (tengah) dan wasana (akhir).

master-wayang3
KIAI SEBET : Ki Bambang Suwarno saat diminta menggelar pentas wayang di Pendapa Pura Mangkunegaran, menggunakan sekotak wayang pusaka Kiai Sebet, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena pengaruh kondisi lingkungan alam, pengaruh subkultur, spiritual religi dan sebagainya, karya wayang kulit dari tiga mazab itu berkembang lagi menjadi banyak di daerah-daerah tertentu yang menonjol ciri kondisi lingkungan alamnya, pengaruh subkulturnya, spiritual religinya dan sebagainya. Misalnya, wayang golek yang mirip boneka di wilayah kultur dan subkultur pasundan misalnya sekitar Cirebon dan Brebes/Tegal, wayang klithik dan wayang krucil berbahan kayu di sekitar Blora.

Wayang Rai Wong

Karena menjadi wilayah pengamatannya juga, eksistensi wayang beber yang hanya berupa lukisan para tokoh wayang (Keraton Kediri) di atas lembaran daluwang (kulit kayu/kain/kertas), juga menjadi pelengkap yang fenomenal dalam keragaman kekayaan wayang di Indonesia, hingga mendapat pengakuan Unesco yang diwakili Ki Manteb Soedharsono tahun 2004. Pada perjalanan waktu, dalang lulusan ISI tahun 200-an yaitu Ki Slamet Gundono, pernah menciptakan wayang suket, kemudian muncul wayang kardus dan yang paling fenomenal adalah Ki Enthus Susmono (alm) yang menciptakan wayang rai wong atau wajah (tokoh) manusia.

”Jadi tidak hanya berkembang dalam ragam bahan yang digunakan untuk membuat wayang dan menambah nama jenis wayang, tetapi juga ragam tokoh-tokoh wayang sesuai zamannya yang juga ikut berkembang. Misalnya wayang suluh, wayang wahyu. Tetapi yang saya kembangkan adalah wayang yang berbahan kulit. Misal wayang kebangsaan dan wayang-wayang lain yang belum lengkap, contohnya wayang gedhog dan wasana,” tutur Ki Bambang yang pernah ditemui suaramerdekasolo.com beberapa kali, belum lama ini.

Bila melihat isi sebuah bangunan ukuran sedang di kompleks kediaman Ki Bambang seluas lebih 500 meter persegi di kampung Dadapan, Sangkrah, Pasakliwon, Solo itu, mungkin hampir sama dengan cara-cara dalang profesional kebanyakan menyimpan barang-barang seni alat pendukung profesinya sebagai dalang. Tetapi ada yang berbeda dengan tempat yang dimiliki Ki Bambang Suwarno, selain tempat untuk menyimpan sebagian gamelannya, juga untuk memajang wayang karyanya dan menyimpan jenis-jenis wayang karya kerajinannya menjadi satu dengan wayang yang digunakan untuk pentas.

master-wayang2
KAYON PANCASILA : Ki Bambang Suwarno memperlihatkan kayon Garuda Pancasila ciptaannya, yang digunakan saat diundang untuk mementaskan wayang kebangsaan di Jakarta dan Jogja, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Selain aset koleksi yang tergolong unik itu, Ki Bambang punya pengalaman intelektual seni yang membuatnya pantas disebut sebagai dalang yang rajin mencari referensi di bidangnya, kemudian menciptakan bagian-bagian yang masih bisa dikembangkan dan yang sama sekali belum ada dan selalu berupaya melengkapi yang dirasa kurang berdasar akal sehatnya. Yaitu ketika dirinya lulus dari Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang berkampus di ndalem Sasanamulya Keraton Surakarta, ditantang Gendon Sedyono Humardani selaku Ketua ASKI sekaligus Kepala Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) yang kantornya jadi satu dengan kampus ASKI itu.

Pakeliran Padat

Tantangan itu adalah bagaimana menyajikan lakon ”Alap-alapan Dewi Shinta” atau ”Shinta Ilang” disajikan dalam seni pakeliran yang hanya berdurasi 2 jam. Konsep sajian wayang kulit dengan struktur masih utuh (pathet 6, 9, pathet manyura), tetapi disajikan hanya dalam waktu dua jam. Itu yang disebut konsep pakeliran padat dan para penonton di Eropa ketika digelar safari di beberapa negara di sekitar tahun 1974.

”Penyajiannya tentu menggunakan sinopsis, ditambah prolog dengan alih bahasa. Kemudian ditutup dengan tanya-jawab sekaligus penjelasan dengan alih bahasa. Sehingga para penontonnya merasa tidak terlalu lelah dan memahami lakon yang digelar dua jam itu. Tetapi yang menjadi catatan penting saya, publik pecinta wayang di Eropa lebih suka sajian bentuk bayangan yang dikenal dengan shadow play. Jadi, nontonnya dari bali kelir (layar). Maka, dalang dituntut memahami betul cara menggerakkan wayang yang menimbulkan bayangan seperti sungguh-sungguh hidup,” ujar Ki Bambang menceritakan pengalaman pentasnya yang sangat berharga dan tak akan pernah dilupakan.

master-wayang5
WAYANG KEBANGSAAN : Ki Bambang Suwarno memperlihatkan para tokoh dari jenis wayang kebangsaan yang pernah dibuatnya beberapa tahun lalu, seperti tokoh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan sebagainya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bocara soal pakeliran padat, awalnya banyak dikecam karena ada bagian-bagian penting yang biasanya digunakan dalang untuk beriteraksi dengan penonton, sama sekali hilang. Namun mulai tahun 1980-an, apa yang dirintis Ki Bambang justru banyak diadopsi kalangan dalang lain meskipun tidak sampai memadatkan hingga 2 atau 3 jam, melainkan 4 atau 5 jam dari penyajian konvensional klasik utuh selama 8 jam.

Sistematika dan Logika

Perbincangan soal pemadatan lakon, menjadi kurang menarik untuk mengungkap sisi genius Ki Bambang. Karena menurutnya lebih penting untuk mengurus kualitas sajian pentas wayang kulit, yaitu menggunakan ciri-ciri akademis (sistematika dan logika), untuk mengeksekusi sebuah sajian agar tetap utuh, padat tetapi tersampaikan dengan baik pesan-pesan nilai yang dikirim kepada penontonnya. Satu hal ini yang membedakan dengan pertunjukan wayang sajian dalang nonakademis.

”Konsep sajian dengan sistematika dan logika harus benar-benar digunakan, meskipun dengan cara semu atau tersamar. Termasuk yang terbangun melalui permainan gerak bayangan wayang. Ini justru banyak dicontohkan Ki Narto Sabdo,” jelas dalang yang tiap hari sibuk menatah sungging wayang di sela-sela undangan membimbing dan menguji mahasiswa program S2 dan S3 dari berbagai universitas di Solo, Jogja, Jatim dan Jateng itu.

master-wayang6
KAYON GEDUNG AGUNG : Ki Bambang Suwarno memperlihatkan kayon Gedung Agung bersimbol tugu Jogja yang sedang dikerjakan finishingnya, untuk melengkapi sekotak wayang kebangsaan yang diciptakan beberapa tahun lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kesibukan menatah-sungging wayang, memang bidang pekerjaan seniman penatah/sungging. Tetapi untuk jenis-jenis tokoh dan wayang yang ingin diciptakannya, rasanya tidak puas kalau tidak ditangani sendiri. Maka, di kediaman Ki Bambang, tak aneh ada beberapa kotak wayang bertumpuk dan sejumlah anak wayang dikaitkan bertumpuk di dinding, karena sedang dalam proses kreasi penatahan dan sunggingan (pewarnaan).

Gunungan Seharga Rp 1 M

Ada wayang kulit purwa beberapa kotak, baik tokoh-tokoh Maha Bharata dan Ramayana. Isinya lengkap, rata-rata 300 buah. Ada kotak berisi wayang madya, tokoh-tokohnya anak-cucu Pandawa yang belum lengkap. Ada kotak wayang gedhog, yang tokoh-tokohnya dari Keraton Kediri, juga belum lengkap. Ada wayang wasana yang isinya tokoh-tokoh Keraton Majapahit, juga wayang Dupara tentang sejarah kerajaan Islam, wayang Budha, wayang Bali dan sebagainya. Kotak wayang wahyu, juga wayang kebangsaan yang berisi tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan sebagainya yang pernah dipentaskan di Jakarta dan Museum Jogja kembali, beberapa tahun silam.

Karena begitu banyak wayang diciptakan hasil pengembangan yang sudah ada, tidak aneh kalau Ki Bambang menciptakan koleksi kayon atau gunungan yang menurut keperluannya ada belasan jenis. Misalnya kayon Sekar Jagad yang sebagai pengembangan wayang madya Pura Mangkunegaran, kayon konsep lingkungan hidup yang dikembangkan dari wayang Kiai Pramukanya (Keraton Surakarta) dan Kiai Sebet (Pura Mangkunegaran) di tahun 1970-an. Juga kayon konsep Taman Eden yang diberi nama Wahyu Tumurun tahun 1995, ”Kabut Sutra Ungu” (1985), Ganesha dan Lingga-Yoni (2003).

master-wayang7
MEMBACA LABEL : Semua benda budaya peninggalan sejarah aset Keraton Surakarta misalnya wayang kulit, memiliki label nama dan tahun pembuatannya yang tertulis dalam aksara Jawa di pelemahan atau bagian bawah anak wayang, seperti koleksi wayang Kiai Pramukanya yang sedang diidentifikasi Ki Bambang bersama KGPH Puger dalam pendataan di Pendapa Magangan, sebelum 2017.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Dari semua karyanya khususnya kayon, memang banyak dalang yang berminat. Ada yang membeli, ada yang diberi cuma-cuma. Tetapi, ketika kolektor Wolter Ang (Jerman) kepengin membeli kayon klowongan buatan tahun 1990-an, saya tolak halus. Gunungan itu saya beri harga Rp 1 M, dan orang yang disuruh tidak kembali lagi. Karena niat saya memang untuk menolak. Saya tidak mau bangsa lain merendahkan karya seni kita,” tunjuk Ki Bambang sambil bermain dengan cucu-cucunya di halaman rumah sangat sederhana itu. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Balasan