Sultan Agung adalah Narindra Sekaligus Wali

sultan-agung1
BERI TAUSIYAH : Canggah Sinuhun Paku Buwono V Prof Dr KPP Noer Nasyroh Hadiningrat asal Tuban, saat memberi tausiyah pada ritual religi khol Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma yang digelar Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Selasa sore (1/10). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)
  • Haul ke-386 Disumbang 16 Reog dan Jathilan

CITA-CITA segenap kerabat besar darahdalem trah Dinasti Mataram yang terhimpun dalam Lembaga Dewan Adat (LDA), akhirnya kesampaian juga. Keinginan memuliakan leluhur yang juga pendiri dinasti sekaligus raja Mataram Islam dalam wujud upacara doa, tahlil dan dzikir untuk memperingati wafat atau haul atau khol Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, akhirnya terwujud di kagungandalem Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa Keraton Surakarta, Selasa Wage, 1 Sapar Tahun Be 1953 (1/10).

Satu demi satu, cita-cita luhur para warga trah dinasti itu terwujud, di antara sejumlah impian dan harapan yang semuanya tertuju pada kebaikan dan kepentingan banyak orang. Karena, ketokohan, keteladanan dan perjuangan Sang Pahlawan Nasional yang tak lain Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma itu, adalah untuk semua kehidupan di tanah Jawa (waktu itu), tetapi jasa-jasanya bisa dirasakan oleh kehidupan secara luas segenap bangsa Indonesia, bahkan bangsa-bangsa lain sekarang ini.

Baru terwujud kali pertama yang terhitung setelah 386 tahun wafat Sang Pahlawan Nasional, tak perlu jadi masalah karena itu bukan hal yang esensial dalam semangat LDA untuk mewujudkannya. Kesuksesan event ritual keagamaan itu seakan membuktikan uji coba yang dilakukan Gusti Moeng saat menggelar khol Sinuhun Paku Buwono X di kagungandalem Masjid Agung Keraton Surakarta (SMS.com, 23/9).

Sukses itu seakan menjadi lengkap karena ada kesinambungannya dengan peristiwa sebelumnya, yaitu event jamasan makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum di Kabupaten Slawi (SMS.com, 29/9), karena tokoh itu adalah anak Sultan Agung. Mungkin saja, dalam rentang waktu antara Sinuhun Amangkurat Agung hingga Sinuhun Paku Buwono I juga ada sukses dalam bentuk-bentuk ritual semacam haul atau khol, tetapi belum terlacak/terjangkau oleh kemampuan ilmu sejarah antropologi.

sultan-agung2
KETUA PANITIA : Calon putra mahkota KGPH Mangkubumi yang didampingi Gusti Moeng selaku Ketua LDA, memberi sambutan selaku Ketua Panitia Khol ke-386 Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma pada pembukaan ritual keagamaan yang digelar LDA Keraton Surakarta di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Selasa sore (1/10). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Yang jelas, apa yang dilakukan LDA di bawah kepemimpinan GKR Wandansari Koes Moertijah yang juga Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, seakan ingin menggenapi dan melengkapi bentuk syukurnya kepada Sang Khalik ya Sang Maha Pencipta, serta bentuk kesadarannya sebagai salah satu penerusnya untuk menjalankan kewajiban ”mikul dhuwur, mendhem jero” terhadap nenek-moyang leluhurnya. Cara-cara pendekatan seperti itu lebih elegan dan masuk akal dibanding sebuah resepsi mewah yang digelar Sinuhun Paku Buwono XIII di sebuah restoran mewah di Semarang, untuk merayakan ultah ke-17 ”anaknya” terckecil GRM Aryo Mustiko (17), belum lama ini.

Kira-kira kesadaran kolektif seperti itulah yang ingin dibangun GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng, yang hingga kini sudah 15-an tahun berkeliling di sejumlah tempat yang berkait dengan sejarah Mataram Islam.

”Eyang Sultan Agung atau raja Mataram Islam, adalah kerajaan pertama yang mengislamkan tanah Jawa dengan caranya tersendiri, yaitu melalui budaya (Jawa). Dari situ, lalu menyebar ke luar Jawa, jauh sekali. Berskala nasional (ukuran sekarang), bahkan internasional. Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Kalau sekarang para pemimpin bangsa ini (Indonesia) tidak mau mengakui dan menghormati itu, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya,” ujar Gusti Moeng menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com tadi padi, menandaskan apa yang dijelaskan saat ditanya para awak media di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, kemarin sore.

Dalam sebuah diskusi budaya di sebuah TV nasional beberapa waktu lalu, budayawan asal Betawi, Ridwan Saidi sempat menyinggung sifat-sifat kebesaran tokoh Sultan Agung, baik dalam penyebaran Islam yang moderat maupun nilai-nilai nasionalisme. Oleh sebab itu, Sultan Agung bukan hanya tokoh lokal di tanah Jawa, tetapi tokoh nasional bahkan internasional.

sultan-agung5
SIMBOL TRAH DINASTI : Tiga belas rakit sesaji sebagai simbol trah Dinasti Mataram dibawa masuk dalam sebuah prosesi, untuk didoakan dalam wilujengan dan khol ke-386 Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Selasa sore (1/10). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena itulah, doa wilujengan yang diteruskan dengan tahlil dan dzikir itu dimaksudkan juga untuk kawilujengan atau kesalamatan nagari RI atau NKRI, serta lebih luas lagi. Apalagi, kondisi dan situasi negara akhir-akhir ini disebutkan sedang panas oleh berbagai sebab, sehingga membahayakan terhadap keutuhan bangsa.

Pernyataan Gusti Moeng itu dibenarkan seorang Prof Dr KPP Noer Nasyroh Hadiningrat dari Tuban (Jatim), ketika memberi tausiyah pada haul yang dihadiri sekitar 4 ribu jamaah yang digelar LDA Keraton Surakarta itu. Intelektual sekaligus ulama yang masih canggah atau generasi keempat Sinuhun Paku Buwono V itu, melukiskan leluhurnya yaitu Sang Pahlawan Nasional sebagai ”narindra” (raja) sekaligus wali penyebar agama di tanah Jawa selama tahtanya (1953-1645).

Melukiskan Citra Islam

Dalam tausiyah yang durasinya hanya 30-an menit karena segera diteruskan KH Syarif Rahmat RA, dosen di Universitas Sunan Bonang (Tuban) dan mengajar di sebuah universitas di Malaysia dan Brunei Darussalam itu menyebut bahwa Islam yang diajarkan Sultan Agung adalah Islam yang moderat (tidak radikal). Karena raja yang satu ini bisa disebut Wali, mengingat dirinya adalah keturunan Wali, saat bertahta dan menyebarkan Islampun bersama-sama dengan para Wali.

”Jadi, cara-cara penyebarannya sudah sangat beda dengan sebelumnya (Demak). Semasa hidup dan menjalankan tugas pemerintahan keprabonnya, bersamaan dengan masa para Wali aktif menyebarkan Islam. Jadi, ya sifat dan caranya hampir sama. Moderat. Karena, agama yang disebarkan melalui budaya (Jawa). Dan itu rata se-tanah Jawa, bahkan sampai ke luar Jawa dan jauh lebih luas lagi,” tandas Prof Noer.

sultan-agung4
ARI PAKASA CABANG : Sebanyak 4 ribuan jemaah yang datang dari cabang-cabang Pakasa di Jateng, DIY dan Jatim mengikuti ritual keagamaan khol ke-386 Sultan Agung Prabu Hanykrakusuma yang digelar LDA Keraton Surakarta di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Selasa sore (1/10). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena memiliki sifat dan prinsip dasar sebagai seorang trah keturunan Sinuhun Paku Buwono V, kerabat yang satu itu seakan menjadi contoh figur seorang intelektual yang agamis sekaligus budayawan (Jawa) dalam menirukan bagaimana ketokohan Sang Pahlawan Nasional dalam menyebarkan agama dan bergaul dengan warga bangsa di masa kini. Setidaknya, kehadiran tokoh-tokoh seperti Prof Noer dan KH Syarif di tengah 4 ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah siang itu, seakan mulai membangun sebuah keasadaran bersama untuk memuliakan dan menghargai peran dan jasa-jasa para leluhur, agar warga bangsa ini tidak gampang tercerai-berai oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bikin sesat.

Untuk tujuan itulah, Gusti Moeng selaku Ketua LDA mempercayakan kepada calon putra mahkota KGPH Mangkubumi duduk sebagai ketua khol ke-386 Sultan Agung. Seperti disebutkan dalam sambutannya, rasa syukur dan doa-doa yang dikirimkan untuk Sang Pahlawan Nasional, wilujengan untuk NKRI, diwujudkan dalam 13 tumpeng beserta uba-rampenya yang dibawa masuk dalam sebuah prosesi, sebelum abdidalem juru donga KRA Pujo Setiyonodipuro memimpin doa wilujengan, tahlil dan dzikir.

Simbol Penerus Dinasti

Tiga belas rakit (unit) sesaji yang didoakan, masing-masing terdiri dari nasi tumpeng dan ingkung, jajan pasar, pisang raja yang diarak dan dilindungi 13 payung dari Sitinggil Lor menuju tempat upacara, Pendapa Pagelaran. Masuknya 13 rakit sesaji yang dinaungi 13 songsong (payung) untuk melukiskan jumlah trah darah dalem (Amangkurat/Paku Buwono I hingga XIII) penerus Dinasti Mataram, dikawal prajurit dan korp musik keraton.

sultan-agung3
KELILING SUPITURANG : Beberapa bregada prajurit Keraton Surakarta termasuk korp musik yang diikuti 16 grup reog sumbangan Pakasa cabang Ponorogo (Jatim), kirab sambil beratraksi keliling jalan Supiturang dan Alun-alun Lor sebelum memasuki tempat khol ke-386 Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Selasa sore (1/10). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Wujud syukur dan simbol khol berupa 13 rakit sesaji dan songsongnya, seakan melukiskan semangat 4 ribuan jamaah yang hadir mengikuti doa, tahlil dan dzikir sore itu. Karena, sesaji beserta uba-rampe (perlengkapannya) itu, dibawa masing-masing jamaah yang nota bene warga Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) cabang yang tersebar di Solo Raya dan lebih luas lagi di Jateng, DIY dan Jatim.

Bahkan, tidak hanya yang berupa uba-rampe doa wilujengan yang setelah didoakan dinikmati bersama-sama semua jamaah, ada sumbangan spontanitas yang cukup menghebohkan. Yaitu sumbangan seni jathilan atau jarandor dari Pakasa Cabang Trenggalek serta 16 unit reog dari daerah asalnya, (Pakasa cabang) Ponorogo (Jatim).

”Yang jelas kami berterima kasih pada seluruh yang terlibat kemarin. Banyak yang datang jauh-jauh, urunan untuk membawa sesaji, datang ke sini. Bahkan membawa kesenian khasnya dan menyemarakkan khol ini. Jam 12 siang sudah bikin heboh di Pendapa Pagelaran. Tetapi, ke depan perlu diperbaiki lagi. Agar tiap sajiannya temanja, tetapi punya daya dukung kuat terhadap acara utamanya. Alhamdullillah, kita semua lega. Mudah-mudahan terus belanjut rutin setiap tahun,” harap Gusti Moeng. (Won Poerwono)

sultan-agung6
DIPARKIR DI HALAMAN :Begini cara para seniman reog memarkir peralatan seni sehabis digunakan untuk beratraksi, yaitu diparkir di halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa sebelum mengikuti ritual keagamaan khol ke-386 Sultan Agung Prabu Hanykrakusuma yang digelar LDA Keraton Surakarta di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Selasa sore (1/10).(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Balasan