Bagaimana Seandainya Indonesia tanpa (Budaya) Jawa?

pambiwara5
MENGIKUTI WISUDA : Laku dhodhok, merupakan hal wajib dilakukan para siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara di Keraton Surakarta, meski tinggal mengikuti wisuda lulusan, seperti ketika masih berlangsung di ndalem Sasanamulya, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Antusias Masyarakat Belajar di Pawiyatan Pambiwara Tetap Besar (2-habis)

BAGAIMANA seandainya Indonesia tanpa peradaban Jawa? Bagaimana seandainya Indonesia tanpa budaya Jawa? Bagaimana seandainya Indonesia tanpa bahasa Jawa? Tiga pertanyaan itu mungkin paling menonjol ketika disodorkan pada masa-masa sekarang ini, bahkan mungkin akan sangat berarti ketika zaman milenial makin berubah maju ratusan atau ribuan tahun lagi. Pertanyaannya kemudian, akan masih adakah Indonesia? Akan masih adakah (budaya) Jawa?

Untuk menjawab sejumlah pertanyaan itu, kita lihat saja rangkaian aktivitas kecil-kecilan yang selama ini masih dipelihara sekelompok kerabat yang terwadahi dalam Lembaga Masyarakat Adat (LDA) Keraton Surakarta. Lebih spesifik lagi, lihat saja aktivitas dalam dua hari yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, kawasan Keraton Surakarta, Sabtu dan Minggu (28-29/9) (suaramerdekasolo.com, 1/10).

Aktivitas kursus atau belajar-mengajar yang berada di bawah Sanggar Pasinaon Pambiwara yang dipimpin KPH Raditya Lintang Sasangka dan berada di bawah Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertijah itu, hingga kini masih tetap hidup, eksis dan aktif walau hanya digelar di sebuah rumah adat yang kini ditinggali GKR Ayu Koes Indriyah, ndalem Kayonan. Aktivitas menularkan berbagai hal tentang peradaban dan budaya Jawa itu, kini tetap berlangsung walau kegiatan itu sejak April 2017 tidak diizinkan dilaksanakan di Bangsal Marcukunda, Bangsal Smarakata dan Pendapa Magangan yang ada di dalam wilayah kedhaton Keraton Surakarta.

pambiwara6
BANGSAL SMARAKATA : Tahap pendadaran dari proses belajar-mengajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta tampak sesuai dengan habitatnya ketika masih berlangsung di Bangsal Smarakata sebelum tahun 2017.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Sekarang ini justru banyak yang mencari. Dari desa-desa yang jauh pada mencari ke sumbernya, di sini (Keraton Surakarta). Manfaat yang jelas, dirasakan kalangan guru-guru SD. Karena, sertifikat yang didapat bisa untuk syarat sertifikasi, agar dapat gaji tambahan. Manfaat lainnya, bahasa dan tata krama yang didapat bisa dipakai secara tepat dan benar di lingkungan masing-masing. Dalam profesi apa saja,” jelas KPH Raditya Lintang Sasangka selaku Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara yang juga dosen di FE UNS itu, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

Ciri Dasar Wong Jawa

Aktivitas yang berlangsung di ndalem Kayonan sejak April 2017, memang paling besar ketika digelar ujian atau pendadaran siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara angkatan ke-36 yang akan segera berakhir. Namun bagi para siswa yang belajar di sanggar pusat yaitu di Solo (keraton), ndalem Kayonan tetap tampak hidup karena aktivitas kelas itu rutin dijalani selama 8 bulan, sama seperti yang terjadi di sanggar-sanggar cabang yang tersebar di Semarang, Kediri, Tulung Agung dan Malang (Jatim).

Itu berarti, aktivitas melestarikan peradaban Jawa atau yang lebih kecil berupa budaya yang menjadi sikap dan ciri dasar wong Jawa itu tetap hidup, eksis dan aktif, walau tidak dipandang pemerintah di berbagai level, walau dianggap tidak penting bagi Sinuhun Paku Buwono XIII bersama kelompok pendukungnya. Yang terurai di atas dengan contoh aktivitas di ndalem Kayonan dua hari itu, baru sebagian kisah kesetiaan dan pengabdian beberapa gelintir wong Jawa dalam berusaha menjaga, memelihara dan melestarikan bagian penting dari peradaban Jawa itu.

pambiwara7
PARA PEMIMPI : Indonesia seperti yang diimpikan para pemimpi, mungkin saja sudah tidak akan mengenal laku dhodhok dan tak akan ada ujian pengetahuan soal adat budaya Jawa seperti digelar Sanggar Pasinaon Pambiwara di ndalem Kayonan, Baluwarti, 28-29/9 itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebab, masih ada cerita tentang bagaimana warga lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara beserta kerabatnya dan para simpatisan di luar sanggar, yang kemudian berhimpun dalam Paguyuban Kawula Keraton Surakarta atau Pakasa. Sebab, kebanyakan rentetan peristiwa itu dimulai dari memori kolektif kalangan generasi tua yang pernah mendapatkan pengisi ruang kebatinannya dari suasana yang dilahirkan dari peradaban Jawa yang dipancarkan dari Keraton Surakarta, melalui berbagai hal di antaranya seni tari, karawitan, pedalangan, sastra dan kemudian juga adat/tradisi perkawinan dan sebagainya yang terbungkus dalam budaya Jawa.

”Menurut saya, tidak mungkin impian itu bisa terwujud. Selain sudah menjadi sifat dan warna dasar setiap insan Jawa yang dilahirkan. Orang akan merasa kehilangan apabila dalam hidupnya merasa kurang sesuatu, atau merasa ada yang kurang lengkap dalam kehidupannya. Yaitu nilai-nilai dalam budaya, yang sudah serasi dan sesuai dengan alam kehidupannya. Orang mengatakan sudah sesuai dengan jagad gedhe dan jagad cilik. Makro kosmos dan mikro kosmosnya. Ya jagad dan kosmologi Jawa itu,” ujar KRT Purwadi Sosronegoro, seorang intelektual yang juga warga Pakasa Jogja yang ditemui di tempat terpisah.

Durhakakah Bangsa Kita?

Dari memori kolektif kalangan orangtua itu menular ke anak-cucunya dalam lingkungan keluarga, menyebar lewat lingkungan lebih besar, lewat lembaga semacam Sanggar Pasinaon Pambiwara yang kemudian berlabuh di lembaga Pakasa. Dari lingkungan-lingkungan seperti itu, dari lembaga-lembaga seperti itu dan dari media-media seni seperti itu, kesadaran kolektif lahir dan terbangun makin meluas dan menguat.

pambiwara8-1
SERAHKAN ID CARD : Selain partisara (piagam) berisi kekancingan (SK) tentang gelar sesebutan, bagi para anggota Pakasa juga diberi ID card seperti yang diserahkan Gusti Moeng kepada Ketua Pakasa Cabang Ponorogo, beberapa waktu lalu. Dua hal itu adalah proses lanjutan dari Sanggar Pasinaon Pambiwara. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalam proses yang seperti di atas, bahkan lebih intensif di masa-masa zaman pujangga besar dari Keraton Surakarta seperti Ranggawarsita, Yasadipura serta para raja-rajanya seperti Sinuhun Paku Buwono IV, Sinuhun Paku Buwono IX, Sinuhun Paku Buwono X dan juga KGPAA Mangkunagoro IV, peradaban Jawa terlegitimasi kuat. Kini, setelah ratusan tahun, apalagi setelah NKRI lahir, peradaban itu dipersepsikan nyaris tak dibutuhkan bangsa ini, karena banyak tokoh yang mempersepsikan diri sebagai kaum modernis, bercita-cita keras ingin menjadikan bangsa di Nusantara ini benar-benar Indonesia tanpa simbol-simbol yang diwariskan 250-an keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat yang pernah ada sebelum NKRI lahir.

Bisakah demikian? Bisakah impian itu terwujud? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu tak perlu dipertajam dengan pertanyaan durhakakah bangsa kita? Apakah impian itu bertolakbelakang dengan nilai-nilai ”mikul dhuwur-mendhem jero”? Apakah impian menciptakan bangsa baru yang benar-benar Indonesia yang terbebas dari romantika masa lalu itu tidak bertentangan dengan pesan Sang Proklamator yang selalu menandaskan ”Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” atau ”Jas Merah”?

Sepertinya memang tak satupun tokoh yang pernah mempersepsikan diri sebagai kreator lahirnya Indonesia yang benar-benar Indonesia, terang-terangan menjelaskan impian dan keinginannya. Tetapi, bila kita mau benar-benar merasakan praktik-praktik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini bahkan sejak NKRI lahir, yang terjadi justru praktik-praktik halus pengkhianatan terhadap ”Jas Merah” itu terus-menerus terjadi, bahkan secara sistemik melalui jalur pendidikan resmi dan luar itu.

pambiwara9
SERAHKAN ID CARD : Selain partisara (piagam) berisi kekancingan (SK) tentang gelar sesebutan, bagi para anggota Pakasa juga diberi ID card seperti yang diserahkan Gusti Moeng kepada Ketua Pakasa Cabang Ponorogo, beberapa waktu lalu. Dua hal itu adalah proses lanjutan dari Sanggar Pasinaon Pambiwara. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Ya kalau ada tokoh apapun latarbelakangnya punya mimpi seperti itu, biarkan saja. Apa mau menentang slogannya Bung Karno tentang Jas Merah itu? Yang jelas, itu impian yang ‘ngaya wara’. Merusak nalar sehat. Merusak kehidupan. Termasuk yang memecah-belah kekerabatan di keraton sekarang ini. Juga merusak akal sehat, dan merusak kehidupan. Bahkan mengancam keutuhan NKRI, karena kekerabatan dipecah-belah. Merusak adat dan tradisi di lingkungan masyarakat adat, justru didukung. Semangat berbudaya untuk ketahanan bangsa, justru disingkirkan,” tunjuk Gusti Moeng. (Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini