Tetap Bersemangat, Walau Serba Terbatas

LAKU DHODHOK : Sehabis berpidato, peserta harus praktik jalan berjongkok atau laku dhodhok untuk mengikuti ujian lisan tentang pengetahuan tentang budaya Jawa dan Keraton Surakarta secara umum kepada dwija penguji, KRT Budayaningrat, di ndalem Kayonan, Baluwarti, Minggu siang (29/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Antusias Masyarakat Belajar di Pawiyatan Pambiwara Tetap Besar (1-bersambung)

SANGGAR Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta atau lembaga sanggar kursus juru pranatacara atau pengatur acara berbahasa Jawa atau MC, adalah satu di antara sejumlah aktivitas simbol kehidupan keraton yang kini masih berjalan, bahkan eksis, aktif dan bersemangat. Walaupun sejak April 2017, aktivitas yang hampir semua siswanya dari masyarakat di luar keraton itu, harus dilakukan di luar fasilitas ruang resmi yang sejak 19 tahun lalu selalu digelar di Bangsal Marcukunda, Bangsal Smarakata atau Pendapa Magangan.

Selama dua hari, Sabtu dan Minggu (28-29/9), ada 95 siswa sanggar angkatan 36 tahun 2019 mengikuti pendadaran atau ujian terakhir atas semua pengetahuan dan praktik yang diperoleh dari belasan dwija (guru) di ndalem Kayonan. Ruang pendapa rumah adat itu memang berukuran kecil walau hanya dibandingkan dengan Bangsal Smarakata, namun di kediaman GKR Ayu Koes Indriyah atau adik kandung Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertijah) itu, sudah tiga tahun berjalan ini dijadikan pusat belajar-mengajar siswa sanggar alias tempat layanan yang mewakili keraton untuk kepentingan masyarakat luas.

Melihat wajah-wajah 95 siswa yang mengikuti pendadaran dalam dua hari itu, sulit dibayangkan bagaimana mereka tetap bersemangat, penuh suka cita dan sangat percaya diri? Padahal, pelajaran atau kawruh tentang struktur bangunan keraton tak lagi bisa diberikan langsung dengan mengunjungi secara on the spot, karena sejak April 2017 keraton tertutup untuk ”apa saja yang berkaitan” dengan Gusti Moeng.

Namun, memberikan pengetahuan tentang struktur bangunan keraton bisa diwakili dengan memperlihatkan gambar-gambar/foto denah, peta dan sebagainya, atau bagaimana kemampuan sang dwija melukiskan semua itu, mirip janturan (cerita yang dilagukan) pada setiap jejeran/adegan pentas wayang kulit oleh si dalang. Cara melukiskan seperti itu jelas makin menjadi mudah, ketika para siswa itu sudah berada di ndalem Kayonan, Baluwarti, karena tempat itu adalah bagian terdekat dari bangunan inti kawasan Keraton Surakarta yang luasnya sampai 90-an hektare itu.

pambiwara2
BERSAMA-SAMA : Semua mata pelajaran dan praktik yang diterima para siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, diujikan secara berurutan dan bersama-sama dalam dua hari, suasananya seperti yang tampak pada pendadaran hari terakhir di ndalem Kayonan, Baluwarti, Minggu (29/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Pengetahuan Laku Dhodhok

Meski ada kekurangan dalam transfer ”kawruh babagan wewangunan keraton lan maknanipun”, tetapi nyaris tak berpengaruh pada proses belajar-mengajar yang berjalan selama 8 bulan, terlebih ketika mengikuti pendadaran dalam dua hari itu. Siang sekitar pukul 13.00, ada 47 siswa yang sebagian besar lelaki, satu demisatu mengikuti panggilan sang jurupranatacara (MC) yang menggunakan bahasa pengantar Jawa krama inggil.

Dari yang menunggu di luar sesudah berdandan busana adat Jawa secara lengkap dan benar, lalu dipersilakan antre dudu bersila di lantai pendapa. Mereka yang antre sesuai urutannya, lalu dipanggil namanya untuk mempraktikkan pengetahuan yang diuji/didadar siang itu. Mulai dari berjalan jongkok atau laku dhodhok, hingga berdiri di depan mikropon, lalu memberi aba-aba kepada sang juru pitasuara atau operator soundsystem, agar diputar gending yang diinginkan sesuai dengan tema sambutan yang dipilih.

Ada beberapa tema sambutan yang harus dibawakan tiap peserta, lalu dinilai kelancaran/ketepatan pengucapan, logika bahasa dan kalimat, serta ketepatan dengan temanya, yang semua diucapkan dalam bahasa Jawa krama inggil (tata basa). Beberapa menit tiap peserta ujian mengucapkan sambutan yang dimulai dengan kata salam ”Assalammualaikum……. dan seterusnya, mugi sami rahayu.. dan seterusnya, bapak-bapak, ibu-ibu lan para rawuh dalah sadaya tamu sinedhahan ingkang sami rawuh….”

pambiwara3
MENILAI KESELURUHAN : Sejumlah dwija yang duduk berkelompok tepat di depan peserta yang sedang melakukan praktik pidato/sambutan itu, untuk menilai keseluruhan sikap tiap peserta menjalani urut-urutan dalam mengikuti ujian praktik maupun lisan kepada seluruh dwija pengujinya di ndalem Kayonan, Baluwarti, Minggu (29/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Budaya Jawa Kaya

Soal tema sambutan, bebas dipilih tiap peserta ujian, apakah sedang menerima penyerahan pengantin, atau ucapan menyerahkan pengantin dalam resepsi perkawinan, atau memberi ular-ular pengantin, atau sedang memimpin tukar-cincin atau melamar atau keperluan lainnya. Pemilihan tema itu, tentu disesuaikan dengan judul tembang/gending yang diucapkan paling awal, karena seni karawitan Jawa kaya sekali referensi gending iringan untuk keperluan/upacara apa saja sesuai dengan keperluannya, misal saat MC membaca urutan upacaranya saja bisa diiringi gending Ketawang Mijil Wigaringtyas (Pelog Barang).

”Jadi, seni karawitan yang menjadi bagian dari budaya Jawa itu kaya sekali. Untuk keperluan apa saja, ada perlengkapannya yang sesuai. Dan semua itu, terbingkai dalam gaya atau gagrag. Misal gagrag Surakarta. Mengapa demikian?, karena bersumber dari Keraton Surakarta Hadiningrat, sebagai sumber dan pusat penerus peradaban/budaya Jawa. Maka tidak salah, para siswa yang datang dari jauh-jauh itu, hanya untuk mencari yang original dari sumbernya di Solo, yang tidak lain adalah Keraton Surakarta,” ujar KRT Budayaningrat, salah seorang dwija tentang ”kawruh kabudayan” dan keraton secara umum saat dimintai konfirmasi suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

Walau sejak 2018 kalangan keluarga besar Sanggar Pasinaon Pambiwara, institusi keraton dan masyarakat pecinta budayaJawa kehilangan seorang dwija senior yang sering dipersepsikan sebagai pujangga, yaitu KPA Winarno Kusumo, namun proses belajar-mengajar yang berlangsung selama ini, seperti tak ada masalah. Sebaliknya justru merasa mendapat dorongan semangat ingin piawai dalam berbudaya Jawa, santun, berwibawa dan ingin elegan seperti almarhum juru penerang budaya Keraton Surakarta yang sangat dikenal luas di luar keraton itu.

Antusiasnya Besar Sekali

Ujian baru dimulai sekitar pukul 11.00 WIB hari Minggu itu, namun 47 siswa sudah datang di ndalem Kayonan sejak pagi, untuk berdandan dengan stelan kebaya, nyamping, paes dan gelungan untuk yang wanita, dengan stelan beskap, nyamping, blangkon dan duwung (keris) bagi siswa pria. Mereka praktik pidato (tata basa), lalu diuji penguasaan pengetahuan tentang struktur bangunan keraton, kebudayaan Jawa secara umum, tata krama, tata susila, kawruh gending dan sebagainya.

”Mereka itu datang jauh-jauh dari Sanggar Pasinaon cabang Semarang (Jateng). Bahkan dari cabang Blitar, Malang dan Tulungagung (Jatim). Sekarang ini saja, pendaftaran calon siswa (angkatan 37) belum dibuka. Tetapi sudah ada 35 warga Solo, 24 warga Blitar dan 15 warga Malang yang ingin dicatat mendaftar. Padahal, Oktober masih ada ujian susulan”.

”Antusiasnya luar biasa, walau proses belajar-mengajarnya di luar tempat semestinya. Sudah beberapa tahun sanggar mandiri, karena Pemkot tidak mau membantu. Ya enggak apa-apa mandiri. Jalan terus saja. La wong masyarakat sangat butuh ini (pengetahuan). Dan nyatanya sangat besar manfaatnya, bahkan sangat luas,” tegas KPH Raditya Lintang Sasangka selaku Pangarsa atau Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, yang dihubungi di tempat terpisah. (Won Poerwono-bersambung).

Tinggalkan Balasan