Cungkup Makam Amangkurat Perlu Bangunan Pelindung

amangkurat1
CUNGKUP MAKAM : Bangunan beratap seng yang berdinding papan kayu bercat kuning atau cungkup yang berisi makam Sinuhun Amangkurat Agung, karena usianya sudah ratusan tahun diusulkan kepada Pemkab Slawi agar dilindungi dengan bangunan baru yang lebih tahan lama. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Untuk Mengurangi Pelapukan

KOMPLEKS makam Astana Pajimatan Tegalarum khususnya tempat besemayam Sinuhun Amangkurat Agung dan permaisuri Kanjeng Ratu Kencana, mendesak untuk segera dilindungi bangunan lapisan di luarnya atau semacam cungkup, sedapat mungkin dengan bahan semacam kaca yang bisa dilihat dari luar.

Bangunan pelindung itu dimaksudkan agar bisa mengurangi atau memperlambat pelapukan, mengingat struktur bangunan cungkup yang ada sekarang terutama dinding dan kontruksi atap, terbuat dari kayu yang sudah sangat tua.

”Itu yang kami harapkan akan menjadi agenda tahap berikut pemugaran kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, khususnya cungkup makam eyang Amangkurat Agung. Kalau cungkup yang ada sekarang ditutup atau dilindungi lagi dengan bangunan cungkup yang lebih besar di luarnya, akan menambah panjang usia yang ada sekarang.

amangkurat2
ROBOH PANJANG : Beberapa bagian pagar kompleks makam Sinuhun Amangkurat di Astana Pajimatan Tegalarum, Kabupaten Slawi yang roboh 3 tahun silam, tampak sedang dikerjakan proses renovasinya saat berlangsung event jamasan makam, Rabu siang (25/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mudah-mudahan, kami (Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta) segera bisa mewujudkan cita-cita itu bersama Pemkab Slawi dan Kantor BP3 Jateng,” harap Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta GKR Wandansari Koes Moertijah, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com tadi siang.

Harapan-harapan Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu, sebelumnya juga sudah dilontarkan di saat memberi sambutan pada event ritual ”Jamasan Makam Amangkurat Agung” yang digelar bersama Pemkab Slawi dan Keraton Surakarta, Rabu siang (25/9). Namun, pihak Pemkab belum bisa memberi jawaban atas harapan itu, karena siang itu Pemkab hanya diwakili Asisten III Sekda Drs Eko Jati Suntoro, padahal untuk mewujudkan itu proses panjang di DPRD, Pemkab dan BP3 untuk mendapatkan dukungan.

Tinggal 4 Hektare

Di kawasan kompleks Astana Pajimatan Tegalarum yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan Dinasti Mataram, kini tersisa sekitar 4 hektar dari sebelumnya diperkirakan dua atau tiga kali lipat luas wilayahnya. Dari yang tersisa itu, kompleks makam yang dibatasi pagar keliling setinggi lebih 1 meter dan cukup tebal itu, di dalamnya bersemayam Sinuhun Amangkurat Agung bersama permaisuri dan keluarga kecilnya.

Di dalam batas pagar itupun, sebenarnya sudah digunakan juga untuk memakamkan kerabat dari keluarga Sinuhun Amangkurat sampai generasi ketiga, bahkan lebih. Tetapi, Keraton Surakarta tidak mempersoalkan, karena terjadinya sebelum terbit UU BCB No 10 tahun 2011. Lagi pula, tanggungjawab dan kewajiban merawat situs makam leluhur Dinasti Mataram itu, sesungguhnya tidak hanya Keraton Surakarta, karena penerus dinasti termasuk Keraton Jogja, bahkan Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman.

amangkurat3
SANGAT SEDERHANA : Makam permaisuri Kanjeng Ratu Kentjana yang sedang diziarahi Gusti Moeng dan kakaknya, Gusti Retno Dumilah, tampak sangat sederhana. Masih mending makam suaminya yaitu Sinuhun Amangkurat Agung yang ditutup cungkup, meskipun juga hanya sederhana di kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, Kabupaten Slawi itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Seperti diketahui, Sinuhun Amangkurat Agung adalah putra tertuta Raja Mataram Islam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma yang lahir dari permaisuri Kanjeng Ratu Batang, seorang anak Bupati Batang (lama). Karena peperangan yang berlangsung lama saat menghadapi kekuatan Trunajaya dari timur (Tuban-kini Jatim) dan Kraeng Galengsong dari Makasar, Sinuhun Amangkurat Agung terdesak dan menyingkir dari Pleret (Jogja) ke arah barat lalu ke utara dan sampailah di tempat yang kini masuk Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Slawi.

Sebelum meninggalkan Pleret, Sinuhun Amangkurat sempat menziarahi makam sang ayah, yaitu Sultan Agung yang sudah dimakamkan di Astana Pajimatan Imogiri (kini Bantul-DIY). Sinuhun Amangkurat yang dalam keadaan sakit akibat peperangan dan di usia 80-an pada tahun 1677, akhirnya meninggal dan jasadnya dikubur di sebuah kompleks makam yang kini masuk Desa Pasarean, Adiwerna, Slawi itu, bahkan permaisuri dan keluarga besarnya juga dikubur di situ.

Pindah ke Kartasura

Sinuhun Amangkurat Agung sampai Amangkurat Amral, adalah babak regenerasi perjalanan sejarah Mataram Islam sebelum muncul Sinuhun Paku Buwono I kemudian Paku Buwono II, ketika keraton sudah berpindah dari Pleret ke Kartasura (kini wilayah Sukoharjo). Dari Kartasura itulah, Dinasti Mataram pecah menjadi empat setelah Sinuhun Paku Buwono II memindah Keraton Mataram ke Desa Sala, lalu mendirikan Surakarta Hadiningrat pada 1745.

Setelah 10 tahun kemudian, Pangeran Mangkubumi mendapat izin Sinuhun Paku Buwono II untuk mendirikan Keraton Jogja, Raden Mas Said yang bergelar KGPAA Mangkunagoro I setelah mendapat izin mendirikan Pura Mangkunegaran di Solo utara dan KGPAA Paku Alam I mendapat izin mendirikan Pura Pakualaman di Jogja. Jadi, ketiga pemimpin masyarakat adat itu adalah keturunan Sinuhun Amangkurat Agung, yang seharusnya punya kewajiban dan tanggungjawab merawat Astana Pajimatan Tegalarum.

amangkurat4
KAWASAN CAGAR BUDAYA : Beberapa patok atau maijan makam warga yang berada di kawasan Astana Pajimatan Tegalarum, direncanakan akan dipindah sesuai keinginan masing-masing keluarga ahli warisnya, karena kompleks makam Sinuhun Amangkurat di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Slawi itu, kini jadi kawasan cagar budaya yang dilindungi UU BCB No 10 tahun 2011. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Namun selama ini, faktanya memang baru Keraton Surakarta yang merasa peduli dengan kondisi makam para leluhurnya. Mulai dari mengganti selubung atau selambu makam tiap bulan Sura, merenovasi bangunan hingga menjadikan tradisi ganti selubung itu sebagai sebuah event budaya spiritual religi. Itupun baru dilakukan setelah Gusti Moeng mendapat tugas sebagai Pengageng Sasana Wilapa di era Sinuhun Paku Buwono XIII, meskipun sebelumnya hanya bisa dilakukan perawatan semampunya.

”Menjadi aktivitas jamasan makam atau wisata spiritual dengan melengkapi sebagai sebuah event, ya beru berjalan 7 kali ini. Sebelumnya, ya hanya sebatas dijaga dan dibersihkan. Tetapi, sejak 2013 lalu secara serius dimuliakan dalam bentuk upacara. Itu semua, ya karena Gusti Moeng yang aktif ke sini dan memimpin rombongan dari keraton (Keraton Surakarta),” ujar Drs Sunyoto selaku jurukunci makam sekaligus Ketua Pakasa Cabang Tegal yang punya wilayah Pekalongan, Pemalang, Batang dan Kendal, saat dihubungi di tempat terpisah.

Jadi Kebanggaan Bersama

Usulan Gusti Moeng untuk membuat bangunan pelindung cungkup makam Sinuhun Amangkurat disambut hangat banyak pihak, termasuk KRT Drs Sunyoto. Itu adalah wacana yang diharapkan kelak bisa terwujud, meski Bupati Enthus Susmono dan seorang pendahulunya, termasuk paling akomodatif dan cepat merespon serta mewujudkan saran dan masukan berbagai pihak, antara lain dari Keraton Surakarta, agar makam leluhur Mataram terbesar kedua setelah Imogiri (Jogja) itu, menjadi kebanggaan Kabupaten Slawi dan memberi manfaat dalam berbagai sektor bagi masyarakat setempat.

Dan salah satu jasa Bupati Enthus yang notabene seorang dalang kondang sebelum meninggal di akhir masa jabatannya akhir 2018 lalu, adalah pemugaran pagar keliling kompleks makam yang pernah roboh sebelum 2015, dan merembet robohnya nyaris separo keliling kompleks pada 2016 lalu akibat peristiwa alam seperti dihantam petir. Pagar yang roboh itu, dalam beberapa waktu ini sedang dalam pengerjaan renovasinya, dan saat berlangsung jamasan makam kemarin, tampak sedang dipasang otot penguat berupa konstruksi beton di tengahnya, untuk kemudian dibungkus batu bata ukuran besar bekas reruntuhan yang masih utuh, yang usianya diperkirkaan sudah ratusan tahun.

”Itu usulan terakhir kami kepada Bupati Enthus (alm), sekitar tiga tahun lalu. Mungkin saja baru bisa dianggarkan di tahun ini. Makam eyang Sinuhun Amangkurat ini terbesar kedua setelah Imogiri. Jadi, benar-benar kami perhatikan. Kami titipkan kepada Pemkab dan masyarakat Slawi, untuk dirawat dan dijadikan salah satu ikon di situ. Mudah-mudahan kerjasama keraton dengan Pemkab dan masyarakat setempat terus dilengkapi dan ditingkatkan, agar memberi manfaat positif bagi kesejahteraan di situ, selain makamnya jadi makin terawat,” harap Gusti Moeng.

amangkurat5
DUA LEMBAGA : Keraton Surakarta dan Pemkab Slawi yang masing-masing diwakili Gusti Moeng dan Asisten III Sekda Slawi Drs Eko Jati Suntoro saat serah-terima nasi tumpeng pada ritual jamasan makam. Keduanya menjadi simbol sinergi yang baik untuk memuliakan makam leluhur Astana Pajimatan Tegalarum di Desa Pasarean, Adiwerna, Slawi itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Evaluasi Gusti terhadap upaya mengajak berbagai pihak secara luas memuliakan leluhur nenek moyang yang berjasa memberi segala yang tertinggal sekarang ini khususnya di Kabupaten Slawi, masih banyak, namun yang sekarang terwujud sudah sangat baik dan tepat, dibanding tahun-tahun sebelumnya, atau di tempat lain yang menyimpan situs-situs berkait dengan sejarah Mataram. Selain event jamasan makam yang punya daya tarik wisata dan nilai ekonomis skala UMKM, di kompleks makam sudah terbangun beberapa pendapa untuk keperluan upacara, pameran seni dan tempat menyimpan bagian-bagin bersejarah yang bisa jadi embrio museum.

Namun, ada satu hal yang diharapkan bisa segera diwujudkan, yaitu pemindahan 67 makam warga umum yang ada di luar pagar makam, karena kawasan makam seluas 4 hektare itu sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya dan dilindungi UU BCB No 10 tahun 2011. Rencana itu menjadi agenda Gusti Moeng, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa menyiapkan dana, di saat Pemkab-pun juga sudah siap, akan segera dilaksanakan pemindahan makam dengan biaya bantuan bersama dua lembaga itu. (Won Poerwono)

Tinggalkan Balasan