Ngalap Berkah di Makam Ki Ageng Pantaran

Ngalap-Berkah-di-Makam-Ki-Ageng-Pantaran
BEREBUT GUNUNGAN: Sejumlah warga berebut gunungan makanan dan buah- buahan dalam tradisi ritual buka luwur Makam Ki Ageng Pantaran.(suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdekasolo.com– Ribuan warga mengikuti upacara ritual buka luwur di makam Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Jumat (27/9). Mereka bermaksud ngalap berkah dalam ritual buka luwur makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi di lereng Merbabu.

Sejak pagi, mereka sudah berbondong-bondong datang dan sabar menanti rangkaian acara. Bahkan sejumlah warga telah datang ke makam yang berada disebelah barat Dukuh Pantaran itu, sejak malam sebelumnya, ada pula yang menginap di makam.

Mereka melakukan ziarah dan berdoa di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi. Yaitu, ngalap berkah, dengan harapan agar keinginannya kesampaian. Usai acara pun masih banyak warga yang berdatangan ke makam.

Mereka memanjatkan doa di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Ageng Pantaran. Para pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah Boyolali saja. Tetapi juga banyak yang berasal dari luar Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Salatiga, Magelang bahkan Sumatera.

Rangkaian acara pada Jumat terakhir bulan Suro diawali dengan kirab kain lurup makam berikut sesaji lainnya. Warga sekitar datang ke makam dengan membawa tumpeng dan lauk pauknya serta aneka makanan dan buah- buahan.

Ngalap berkah inilah acara yang paling dinanti warga pengunjung. Mereka berebut takir sesaji dan potongan kain mori bekas lurup makam Ki Ageng Pantaran. Bahkan janur kuning, tebu wulung yang dipasang dicungkup makam juga diambil.

Makanan yang dibawa oleh warga setempat juga dibagi-bagikan kepada pengunjung. Barang-barang itu diyakini warga dapat memberikan berkah berupa apa saja sesuai dengan keinginannya. Seperti keselamatan, kesuksesan dalam berdagang, berkarir.

“Saya setiap tahun datang kesini bersama rombongan untuk ngalap berkah. Sekaligus untuk bertemu sanak famili yang masih tinggal di Ampel,” ujar Tumiyem (54) yang mengaku datang dari Lampung.

Penyebar Agama

Warga sekitar meyakini, sampai sekarang bahwa di dukuh Pantaran, Desa Candisari itulah, makam Ki Ageng Pantaran. Dia adalah tokoh penyebar agama Islam yang hidup di jaman kerajaan Demak Bintoro. Ki Ageng Pantaran juga mendirikan masjid di tempat itu.

Masjid inilah yang disebut masjid Pantaran yang artinya seusia (sepantaran) dengan pembangunan masjid Demak Bintoro. Wilayah yang kemudian dinamakan Desa Pantaran itu, semula gersang. Tetapi menjadi makmur setelah Ki Ageng menemukan mata air.

Dalam sambutannya, Sekda Boyolali, Masruri mengajak masyarakat untuk nguri- uri tradisi leluhur. “Momen ini sekaligus juga bertujuan mendongkrak kegiatan pariwisata daerah serta menggerakkan ekonomi masyarakat.”

Kegiatan tersebut juga mendapat sambutan positif anggota DPRD Kabupaten Boyolali, Dwi Adi Agung Nugroho. “Memang ini sudah menjadi tradisi yang sudah lama sekali. Dan perlu kita lestarikan terlihat masyarakat sangat antusias untuk mengikuti acara ini.” (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini