Fitri Nursapti, Ahli Bedah Mulut yang Cinta Berat Budaya Jawa

Fitri-Nursapti1
IKUT BERGABUNG : Melihat drg Fitri dan Dr KRT Purwadi bergabung dengan para musisi cokekan, Gusti Moeng dan kedua kakaknya masing-masing Gusti Retno dan Gusti Galuh ikut bergabung menikmati dan ikut menjadi bagian yang direkam secara audio visual dengan hp di tangah ahli bedah mulut itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Bikin Buku dan Rekaman Perjalanan

TERNYATA, seorang wanita yang punya profesi sebagai dokter ahli bedah mulut, tak hanya sibuk di lingkungan rumah sakit atau klinik tempatnya praktik. Dokter wanita yang bergelar ahli bedah mulut dan maksilofasial itu, ternyata tidak hanya ahli mengurus bidang kesehatan dan kecantikan tata letak organ mulut manusia. Singkat kata, drg Fitri Nursapti Arini (45) itu adalah seorang pecinta berat pada seni budaya Jawa.

Untuk membuktikan kecintaannya pada seni budaya Jawa, caranya sederhana saja ketika melihat sekilas aktivitasnya di event Jamasan Makam Sinuhun Amangkurat Agung, yang digelar bersama antara Pemkab Slawi/Tegal dengan Lembaga Masyarakat Adat (LDA) Keraton Surakarta di Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Rabu siang (25/9).

Walau tidak menjadi bagian dari panitia yang sibuk mempersiapkan dan melaksanakan event itu, tetapi kehadirannya di tengah-tengah event itu punya makna dan memberi kesan meyakinkan terhadap ketokohan dan perannya, baik dalam masalah pelestarian budaya Jawa maupun di tengah kehidupan masyarakat kabupaten Slawi.

Di situ, drg Fitri bukan menjadi salah satu di antara lima penari Endel, ketika menyambut kedatangan para undangan. Dia bukan pula salah seorang pembawa ubarampe abon-abon jamasan atau seksi sibuk di kepanitiaan yang mengorganisasi event itu.

Dia datang dengan berkebaya khas adat Jawa dan bersanggul, dan posisinya selalu tak jauh dari Gusti Moeng atau GKR Wandansari Koes Moertijah, Ketua LDA Keraton Surakarta yang memimpin rombongan pembawa perlengkapan upacara jamasan dari Solo.

Kalau drg Fitri terkesan dekat dengan Gusti Moeng di acara itu, mungkin bisa dianggap kebetulan atau ceritanya menjadi persoalan lain, ketika berbicara tentang kapasitas wanita dokter spesialis tetapi pecinta berat budaya Jawa.

Karena, banyak indikator yang meyakinkan tentang kapasitasnya di balik itu semua, yang mungkin tidak banyak diketahui publik secara luas khususnya masyarakat Kabupaten Slawi, atau lingkup yang lebih luas lagi.

Fitri-Nursapti3
BERBAUR DAN MEREKAM : Drg Fitri tak segan-segan langsung berbaur dan merekam peristiwanya ketika ada seni karawitan atau cokekan digelar. Sesudah ikut belajar rengeng-rengeng nyinden, selalu diakhiri dengan nyawer para senimannya, seperti dilakukan saat rombongan dari Keraton Surakarta dijamu makan malam panitia jamasan makam, Selasa malam (24/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Proses Pencarian Panjang

Paling tidak, aktivitasnya bersama kelompok kecil pecinta budaya Jawa dari beberapa kampus universitas di Jogja selama 10 tahun ini, yang menjadi alasan mengapa drg Fitri punya cara bersikap dan cara pandang yang sangat menonjol, bahkan mungkin tidak dimiliki sesama dokter spesialis kebanyakan. Belasan tahun ia menjalani proses pencarian, akhirnya dia menemukan sesuatu yang semakin dipahami menjadi sangat berarti bagi kehidupannya.

”Yaitu, hasilnya keluyuran sama pak Pur (Dr KRT Purwadi Sosronegoro-Red). Saya banyak berdiskusi dengan teman-teman kelompok kecil di Jogja. Hasil perjalanan dan meneliti, lalu kami diskusikan. Bahkan kami tulis dalam buku. Ada pula yang berupa rekaman audio visual. Salah satu perjalanan dan pengamatan yang kami diskusikan, contohnya ya ritual jamasan makam Sinuhun Amangkurat Agung itu.

Apalagi setelah saya kenal Gusti Moeng, orang yang paham betul tentang keraton, budaya Jawa, karena beliau pelakunya. Saya banyak belajar dari beliau,” tutur ibu dua anak yaitu Arif Firmansyah (20) dan Fifi Ardelia (15) hasil perkawinannya dengan sang suami, Syafei SE.

Bersama Dr KRT Purwadi Sosronegoro (UNY), drg Fitri banyak terlibat terutama di setiap ada ritual yang digelar Keraton Surakarta. Namun, kesempatan yang digunakannya tak mungkin setiap saat ritual itu berlangsung, mengingat dirinya terbatasi aturan sebagai seorang PNS yang bertugas sesuai bidang ahlinya di RSUD Kabupaten Slawi. Bahkan waktunya masih dibagi lagi di RSUD Kabupaten Brebes, karena rumah sakit itu belum punya spesialis bedah mulut.

Wajib Sedekah Budaya

Soal kesibukan utamanya sesuai profesi, tentu karena bidang spesialis bedah mulut yang masih sangat langka di dua kabupaten bersebelahan itu. Dan itupun, belum lagi perlu waktu untuk mengurus klinik bedah mulut miliknya di dekat rumah tinggalnya di Perum Pepabri, Kudaile, Slawi. Kalau urusan dua apotek, tentu harus diurus sang suami selaku pemilik dan pengelolanya.

”Jadwalnya memang padat, tetapi karena terlanjur tahu bahkan paham tentang peradaban Jawa, maka yang sisa-sia waktu luang saya manfaatkan untuk aktivitas apa saja yang berkait dengan pelestarian budaya peninggalan nenek moyang. Terus terang saya selalu ingat apa kata nenek.

Saya ingat yang selalu dilakukan nenek di Jogja (tempat asal) sebagai seorang Jawa tulen. Itulah yang membuat saya mencari tahu tentang Sinuhun Amangkurat Agung. Itu yang mendorong saya lebih suka bersodakoh atau bersedekah budaya. Termasuk bikin buku tentang Astana Pajimatan Tegalarum, yang saya tulis bersama pak Pur,” jelasnya lagi.

Fitri-Nursapti2
IKUT TAHLIL DAN DZIKIR : Drg Fitri tampak keluar dari dalam cungkup makam Sinuhun Amangkurat Agung, sehabis mengikuti ritual mengirim doa, tahlil dan dzikir untuk leluhur pendidi Dinasti Mataram yang dimakamkan di Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Slawi, Rabu siang (25/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Di lingkungan tempat kerja dan lingkungan profesi dokter gigi maupun spesialis bedah mulut, drg Fitri ya hanya sebatas dokter pegawai negeri di Pemkab Slawi. Mungkin masih terlalu sedikit yang tahu, dokter yang bertubuh ramping tinggi itu piawai menari Endel, senang diajak ura-ura sindenan cokekan atau berpetualang ke berbagai tempat sejarah yang keramat, atau mengikuti ritual seperti yang digelar Keraton Surakarta di Astana Pajimatan Tegalarum, Rabu siang itu. Dan yang menarik, semua aktivitasnya selalu diakhiri dengan nyawer, yang wajib dilakukan sebagai sodakoh atau sedekah budaya (Jawa).

”Saya punya sikap yang beda dengan masyarakat kebanyakan, dengan sesama rekan seprofesi, bahkan dengan suami sekalipun. Karena, saya tidak suka munafik. Saya adalah muslimah yang Jawa tulen. Saya bisa manjing ajur-ajer dengan siapapun dan di manapun, utamanya di acarara-acara dalam rangka pelestarian budaya Jawa, misalnya ritual jamasan ini.

Inilah milik kita sendiri, peninggalan nenek moyang peradaban Jawa, yang wajib kita banggakan dan lestarikan,” tandas wanita dokter yang memiliki gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung (KMayT) di depan nama aslinya itu. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Balasan