Makam Sinuhun Amangkurat Biarlah Jadi Sumber Manfaat

Sinuhun-Amangkurat1
UJUB DONGA : Gusti Moeng memberi dawuh ujub donga kepada abdidalem juru donga KRT Puji Setiyonodipuro untuk memimpin doa, tahlil dan dzikir Sultanagungan di dalam cungkup makam Sinuhun Amangkurat Agung sebagai puncak acara jamasan makam 25 Sura, di Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Slawi/tegal.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Jadi Situs BCB, Bukan Pemakaman Umum

KERJASAMA antara Pemkab Slawi/Tegal dengan Keraton Surakarta dalam merawat dan mengembangkan aspek kemanfaatan keberadaan makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum, kini sudah berjalan 7 tahun sejak 2012.

Artinya, sejak GKR Wandansari Koes Moertijah menjabat Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, secara resmi keraton bekerjasama dengan Pemkab untuk merawat makam leluhur dalam berbagai ekspresi seni budaya dan spiritual religi, yang secara rutin dianggarkan melalui APBD setempat.

Rabu siang (25/9) yang tepat hari pasaran Pon, jatuh pada 25 Sura Tahun Be 1953, kerjasama antara kedua lembaga itu kembali terlaksana dalam sebuah event yang berjudul ”Penjamasan Makam Sinuhun Amangkurat Agung”.

Acara utama dari event yang digelar Pemkab rutin tiap tahun itu, diawali dengan prosesi datangnya rombongan utusan dalem dari Keraton Surakarta untuk menyerahkan selambu dan abon-abon ubarampe ritual jamasan makam, kepada panitia setempat yang melibatkan unsur abdidalem juru kunci dan Pakasa Cabang Tegal serta unsur Pemkab setempat.

Sinuhun-Amangkurat2
BERPIDATO SAMBUTAN : Gusti Moeng saat mendapat kesempatan berpidato memberi smabutan pada upacara yang menjadi acara terakhir event jamasan makam Sinuhun Amangkurat Agung, di paseban kompleks Astana Pajimatan Tegalarum di Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Slawi/tegal, kemarin. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena digelar di sebuah view kecil di depan kompleks makam dengan sebuah upacara, tentu saja mengundang perhatian masyarakat di dekatnya, selain rombongan dari Solo sekitar 70-an orang dan jajaran Pemkab dan instansi lain di kabupaten itu. Namun sayang, pelaksanaannya berada pada jam sekolah dan jam kerja atau bukan hari libur, sehingga event yang punya kekuatan multi efek itu terasa kurang maksimal.

Meski begitu, apa yang dicapai bersama antara kedua lembaga sampai pada titik waktu sekarang, termasuk cukup baik dibanding sebelum 7 tahun lalu yang nyaris tak ada tindakan berarti untuk makam leluhur yang nota bene aset multi sektor bagi kabupaten itu.

Memang sangat disayangkan, di penghujung masa bhaktinya sebagai Bupati Slawi (2013-2018), dalang kondang Ki Enthus Susmono menghembuskan nafas terakhir beberapa waktu lalu.

Renovasi Makam Mendesak

Bagi Keraton Surakarta, tampilnya Ki Enthus Susmono menjadi Bupati Slawi, sangat akomodatif untuk memberi ruang bagi pengembangan aset-aset budaya untuk kemajuan daerah, terutama dalam menggali sumber-sumber pendapatan melalui tumbuhnya aktivitas-aktivitas ekonomi berskala kecil menengah.

Selain itu, dari sisi edukasi warga dan upaya penguatan ketahanan budaya bangsa, akan bisa tumbuh dari kesempatan yang dibuka dalang kondang yang nota bene sangat akomodatif dalam soal memilih sektor-sektor strategis yang mampu mengangkat nama daerah itu.

Sinuhun-Amangkurat3
BAWA ABON-ABON : Panitia dari warga Pakasa setempat yang dipimpin KRT Sunyoto, membawa abon-abon jamasan dan selambu dalam ritual jamasan makam Sinuhun Amangkurat Agung dengan penghormatan para prajurit Keraton Surakarta, di kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Slawi/tegal, kemarin. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Saya sebenarnya berharap banyak pada mas Enthus ketika kabarnya hendak mencalonkan lagi sebagai Bupati untuk periode kedua. Karena, selama ini saya melihat pejabat yang sangat memperhatikan seni budaya adalah mas Enthus. Mudah-mudahan, apa yang sudah dirintis diteruskan para penggantinya. Terutama ini, soal perawatan makam Sinuhun Amangkurat Agung. Ini bisa jadi kebanggaan warga setempat.

Bahkan bisa menjadi pusat aktivitas ekonomi di masyarakat kecil lingkungannya,” ujar Dr KRT Purwadi Sosronagoro (Pakasa Cabang Jogja) yang mengikuti acara itu, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, siang itu.

Apa yang diungkapkan warga Pakasa yang juga pengajar di FIB UNY (Jogja) itu, juga dirasakan Gusti Moeng ketika membandingkan apa yang pernah dirintis sejak tahun 2012. Meski pencapaian sekarang ini belum maksimal, tetapi sudah sangat membanggakan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tetapi, pejabat bupati sebelum Ki Enthus Susmono juga patut dihargai jasa-jasanya dalam merintis hubungan dan membangun kerjasama, sehingga event bisa berjalan rutin, bahkan sampai ikut memikirkan langkah-langkah penyelamatan bangunan fisik kompleks makam yang mendesak untuk direnovasi.

Bukan Pemakaman Umum

Tak hanya sebuah keramaian pasar malam yang pernah berlangsung selama beberapa hari selama Ki Enthus menjabat bupati, Pemkab terhitung paling peduli untuk memugar kompleks makam, mulai dari merenovasi pagar kompleks makam yang ambrol, hingga dikeluarkannya kebijakan menutup kompleks makam agar tidak dijadikan tempat pemakaman umum. Seperti masih terlihat di kompleks makam raja yang berada di Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Slawi itu, ada sejumlah pathok maijan yang menandakan sebagai makam masyarakat umum di situ, tetapi sejak Bupati Enthus mengeluarkan kebijakan, sudah tidak ada lagi penambahan.

”Saya mewakili Lembaga Dewan Adat (LDA) yang berisi trah Sinuhun Amangkurat hingga PB XIII, menyampaikan terimakasih kepada Pemkab Slawi dan warga setempat, karena telah ikut merawat makam. Selain kini menjadi situs yang dilindungi UU BCB, keraton juga selalu dilibatkan dalam event jamasan makam/ganti selambu. Mudah-mudahan, keberadaan makam eyang Sinuhun Amangkurat Agung, memberi manfaat sebesar-besarnya bagi Pemkab dan warga Slawi.”

”Kami hanya berharap, mudah-mudahan sudah tidak bertambah, tetapi makam yang ada syukur-syukur malah dipindahkan. Karena makam eyang Amangkurat Agung ini sudah dilindungi UU BCB, sehingga tidak mungkin menjadi tempat pemakaman umum. Kami titip makam leluhur ini, agar dijaga dan bisa dirawat sebaik-baiknya,” pinta Ketua LDA yang punya nama lengkap GKR Wandansari Koes Moertijah itu, saat memberi sambutan pada sesi upacara seusai tatacara jamasan dan ganti selambu makam, siang itu.

Sentuhan Religinya Ditambah

Karena melihat banyak aspek positif bisa didapat pemkab dan warganya, Gusti Moeng berharap keramaian event yang datang tiap akhir bulan Sura atau Muharam itu dilengkapi dan dikembangkan lagi dengan sentuhan religinya, misalnya dengan pengajian akbar, lomba seni Islami dan sebagainya.

Seperti yang dilakukan semasa Bupati Enthus menjabat, tiap datang event jamasan makam selalu diramaikan dengan berbagai lemba, pasar malam dan pentas seni termasuk wayang kulit yang mirip dilakukan Sunan Kalijaga saat syiar Islam.

Sinuhun-Amangkurat5
TARI ENDEL : Dalam upacara pembukaan dimulainya event jamasan makam Sinuhun Amangkurat Agung yang berlangsung di depan kompleks makam di Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Slawi/tegal, selalu disajikan jenis-jenis kesenian setempat, seperti tari Endel yang sangat menarik pengunjung karena kekhasannya, kemarin.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Pemkab dan warga berterima kasih menyambut kehadiran rombongan dari Keraton Surakarta, untuk menggelar acara jamasan makam dalam rangka pelestarian tradisi seperti ini. Seperti disebutkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tadi, event ini bisa dikembangkan lebih luas, dalam menyebarkan nilai-nilai budaya yang bermanfaat bagi masyarakat Slawi khususnya.

Bahkan, kini secara serius ditangani pengembangan aktivitasnya menjadi wisata religi, misalnya dengan lomba macapat antar SMP pada setiap datang tradisi jamasan makam,” ujar Drs Eko Jati Suntoro selaku Asisten III Sekda ketika membacakan sambutan Bupati Slawi Umi Azizah yang siang itu disebutkan sedang mengikuti rapat koordinasi keamanan wilayahnya, siang itu. (Won Poerwono)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini