Ki Manteb : ”Aku Saguh Dadi Cagake Mas Anom…….”

kiprah-ki-manteb-sudarsono1
BERANGKULAN HANGAT : Mungkin karena terlalu lama tidak bertemu akibat kesibukan masing-masing, Ki Anom Suroto berangkulan hangat dengan Ki Manteb Soedharsono seperti antara kakak dan adik, ketika bertemu di pentas wayang Muludan di Alkid Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Keteladanan Dua Dalang Senior

SUDAH beberapa tahun terakhir ini dalang senior yang namanya masih terpampang di papan atas, Ki Anom Suroto (72), sudah sangat jarang tampil di kancah seni pedalangan, terutama di wilayah Jateng ke arah barat. Namun, walau dalam kondisi fisik yang tidak lagi muda dan staminanya sering berada di bawah standar, masih sesekali tampil di wilayah yang selama ini menjadi ladang subur baginya, yaitu di wilayah Jawa Timur (Jatim).

Meski sesekali tampil menyajikan kemampuannya di bidang seni pedalangan klasik, tetapi bila dihitung frekuensi pentasnya memang makin tergolong menurun akibat gangguan fisik dan seiring usia yang makin bertambah. Meski begitu, dalang yang dikenal ”kung” dalam olah vokal janturan dan sulukan itu, masih bisa memenuhi keinginan publik untuk tampil, yaitu dengan menyiasati kekurangannya di bidang ”power”, dengan menghadirkan penggantinya yang tak lain adalah figur Ki Mohammad Pamungkas Prasetyo Bayuaji.

Dalang muda yang kini berusia 30-an tahun dan akrab disapa ”Pras” atau ”Bayu” itu, tidak lain adalah anak bungsu Ki Anom Suroto sendiri, sebagai satu di antara dua anak lelaki yang mengikuti jejaknya sebagai dalang profesional. Sementara, empat anaknya yang lain adalah perempuan yang memilih berbagai profesi di bidang lain nonseni pedalangan.

kiprah-ki-manteb-sudarsono2
SEBAGAI SENIOR : Sebagai senior, Ki Manteb tak segan-segan memberi contoh kepada generasi dalang di bawah usianya, bahwa dirinya bisa menjadi besar dan terkenal tak lepas dari Keraton Surakarta sebagai sumbernya ilmu pedalangan klasik gaya Surakarta dan tempatnya suwita. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Seperti itulah kira-kira sekilas kisah dalang kondang yang punya masa edar di papan atas antara 1980-2010, kerena setelah itu Ki Bayu yamg menjadi pasangannya makin laris bersolo karir dan makin punya nama. Sementara, sebagai seorang sahabat karib yang menempatkan diri sebagai saudara muda, dalang kondang sesama senior Ki Manteb Soedharsono, merasa tetap menjadi sahabat Ki Anom Suroto, bahkan mirip pasangan dalang yang selalu memberi sinar dan teladan kepada generasi dalang di bawahnya.

”Saya ingin menempatkan diri sebagai saudara muda yang sangat menghormati mas Anom. Begitu pula, saya merasakan mas Anom juga merengkuh saya sebagai sedulur enom. Kami ingin selalu tampil sebagai senior yang bisa mempersatukan dan mempererat ikatan persuadaraan di kalangan para sedulur dalang. Biar jadi contoh dan teladan baik bagi dalang-dalang muda,” tandas Ki Manteb berharap, saat dihubungi suaramerdekasolo.com di sela-sela menjadi anggota tim juri Festival Dalang Bocah di TMII Jakarta, tadi siang.

Bagi Ki Manteb, publik secara luas sudah memberi pengakuan dan kepercayaan bahwa sepasang dalang Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedharsono adalah dua dalang berprestasi dan paling menonjol di Tanah Air, setidaknya untuk masa edar 1980–2010. Bahkan, publik sudah menaruh kepercayaan terhadap keduanya bahwa seni pedalangan di Tanah Air akan tetap lestari dan berkembang serta kompak dalam bersaudara sebagai sebagai paguyuban warga dalang, lantaran ada faktor dua figur nama besar yang selalu rukun.

kiprah-ki-manteb-sudarsono3

Cara Menutup Kekurangan

Kini, setelah 30-an tahun keduanya menjelajah ke berbagai sudut negeri bahkan ke luar negeri untuk mendedikasikan diri sebagai seniman pedalangan gaya klasik yang profesional, kelihatannya sudah ada tanda-tanda grafik menurun. Tentu saja, dimulai dari Ki Anom Suroto yang harus melapis diri dengan unsur ketrampilan sabet perang, di kala publik pecinta wayang kulit secara luas gandrung bahkan tergila-gila dengan gerak fantastik wayang kulit saat di kelir (layar), setelah Ki Manteb Soedharsono mempopulerkan gerak sabet secepat ”setan” di tahun 1990-an.

Cara termudah untuk menutup dan bahkan melapis kekurangannya, Ki Anom mengajak si bungsu, Ki Bayu, yang punya bakat dan bersekolah di jurusan pedalangan SMKN 8 kemudian secara khusus berguru ketrampilan sabet pada Ki Manteb Soedharsono. Dengan begitu, masa edar Ki Anom masih bisa bertambah panjang setelah menginjak tahun 2.000-an, karena punya modal komplet selain olah vokal yang mantab dan indah, masih ada bonus ketrampilan sabet Ki Bayu yang kini sudah hebat.

Dalam beberapa tahun selalu duet dengan sang ayah, selain membangun kepercayaan diri tampil sebagai dalang profesional, Ki Bayu juga semakin mematangkan ketrampilannya dalam sabet, terutama gerak sabet perang mirip yang dimiliki ”sang guru” ytaitu Ki Manteb Soedharsono. Kematangan ini cepat didapat, karena frekuensi pentas Ki Anom Suroto cukup tinggi, yang selalu memberi kesempatan si bungsu untuk tampil saat perang gagal pathet 6 (awal) dan perang kembang pada pathet 9 (tengah), bahkan menjelang pathet manyura (akhir).

kiprah-ki-manteb-sudarsono5
SUDAH MANDIRI : Dalang muda Ki Pamungkas Prasetyo Bayuaji yang memadukan kemampuan vokal ”kung” dari sang ayah (Ki Anom Suroto) dan ketrampilan sabet dari Ki Manteb Soedharsono, kini sudah mandiri dan laris, seperti saat pentas di Desa Padokan, Juwiring, Klaten, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Secara Alamiah Menurun

Namun seiring waktu, ”power” Ki Anom Auroto yang semula long lasting itu secara alamiah makin menurun/berkurang, bahkan makin melemah ketika si bungsu Ki Bayu makin menguat namanya dan frekuensi pentas secara terpisah atas nama dirinya makin tinggi. Di saat itulah, Ki Anom Suroto juga harus menerima konsekuensi logis, frekuensi job pentas menurun, meski masih sering diperkuat tampilnya figur pelawak Kirun, yang lumayan lama menjadi bonus pertunjukan wayang, meski secara keseluruhan seni pertunjukan wayang kulit sulit dijamin tetap berkibar hanya dengan suguhan itu.

”Aku nganti wis tahu matur karo mas Anom. Upama eneng jadwal tanggapan sing durung dilakoni, aku saguh dadi cagake mas Anom. La tinimbang ora eneng sing ngancani. Pras (Ki Bayu-Red) ya wis payu laris dewe. Tinimbang golek (dalang) sak-sake, aku saguh nandangi nggon keprukan….. Ikhlas…. Lilahitaalla,” janji Ki Manteb dalam bahasa Jawa ngoko, sambil mengungkapkan keikhlasannya menemani Ki Anom Suroto yang sudah menjadi saudara tuanya.

kiprah-ki-manteb-sudarsono4
MENDAPAT TUGAS : Ki Manteb Soedharsono saat menerima takoh Adipati Karno dari Menpora Roy Surya (waktu itu), disaksikan KGPH Puger saat mendapat tugas pentas pakeliran di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kalau power Ki Anom ibarat di penghujung melemah, ceritanya memang beda dengan powernya Ki Manteb yang masih terpelihara strong di usia 71 tahun pada 31 Agustus lalu. Bintang iklan obat sakit kepala yang dikontrak seumur hidup itu terbukti masih punya frekuensi job pentas tinggi, sedikitnya lima kali di bulan Sura yang selama ini dikenal sebagai bulan paceklik bagi masyarakat etnik Jawa.

Lalu bagaimana bila berada di bulan-bulan subur minus bulan Ramadan? Kibar bendera Ki Manteb yang punya julukan ”Dalang Setan” seperti judul bukunya di tahun 1990-an itu, kini masih di atas 10 job pentas rata-rata perbulan karena faktor kehebatan ketrampilan sabet (perang), sanggit lakon, cerdas mengambil dan mengupas tema bahasan aktual, seperti saat diundang Presiden Jokowi untuk menggelar lakon ”Narayana Jumeneng Ratu” di halaman Istana Presiden, 2 Agustus lalu. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini