Setelah Keraton Surakarta Berdiri, Digelar Mahesa Lawung

tradisi-mahesa-lawung1
MEMBERI DAWUH : Gusti Moeng selaku Ketua LDA adalah sosok tokoh wanita yang seakan menjadi hal biasa ketika memberi dawuh ujub ataupun memimpin upacara doa di berbagai kesempatan saat berlangsung upacara adat di Keraton Surakarta. Termasuk saat peringatan berdirinya keraton, 17 Sura di Pendapa Sitinggil Lor, tepat 17 September lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Dua Peristiwa yang Sangat Bermakna

TEPAT tanggal 17 Sura Tahun Be 1953 yang jatuh pada hari Selasa Kliwon (17/9), Lembaga Dewan Adat (LDA) menggelar doa dan kenduri wilujengan di kagungandalem Sitinggil Lor yang dimulai pukul 15.00 WIB. Doa yang dirangkai dengan dzikir dan tahlil dengan bershalawat Sultanagung dan bersyahadat Qures itu, dimaksudkan untuk memperingati berdirinya nagari Mataram Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat yang kini berusia 276 tahun menurut kalender Jawa (sms.com,18/9).

Seusai memimpin upacara adat yang sering disebut wilujengan jenang suran yang dihadiri lebih 500 kerabat sentana, abdidalem garap dan abdidalem Pakasa itu, GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua LDA memberi penjelasan kepada sjeumlah awak media yang mewawancarainya. Di antara penjelasan mengenai ikhwal peristiwa yang diperingati dalam upacara itu, juga disebut batas-batas wilayah spiritual Keraton Surakarta Hadiningrat yang disimbolkan dalam nama ubarampe sesaji pepak ageng keblat papat lima pancer.

Perlengkapan sesaji wilujengan Dhukutan yang berupa nasi liwet atau sega wuduk beserta ingkung serta aneka jajan pasar itu, dimaksudkan untuk mewakili batas wilayah spiritual keraton di sisi utara yang disebutkan dijaga Bathari Kalayuwati. Sedang batas wilayah selatan dijaga Kanjeng Ratu Kencanasari. Sedangkan yang disimbolkan ubarampe kiblat barat adalah Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton, dan untuk kiblat timur yang disimbolkan adalah Sunan Lawu.

Dalam bahasa yang mudah dipahami, batas wilayah spiritual Keraton Surakarta itu secara pisik dibatasi oleh empat titik gegografis yaitu Gunung Lawu di Timur, Gunung Merapi di barat, pantai laut di selatan dan hutan Krendawahana di utara. Itu semua berada di empat arah atau disebut keblat papat, dan Keraton Surakarta berada di tengah-tengahnya sebagai pancer atau pusatnya di urutan kelima, maka dalam satu kesatuan sesaji itu disebut keblat papat lima pancer.

tradisi-mahesa-lawung2
TANPA KEPALA KERBAU : Doa kenduri wilujengan untuk memperingati berdirinya Keraton Surakarta seperti yang digelar di Pendapa Sitinggil Lor pada 17 Sura atau tepat 17 September lalu, isinya sesaji pepak ageng tetapi tanpa kepala kerbau seperti pada wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung peringatan 100 hari berdirinya keraton, yang akan berlangsung Desember mendatang, dari Sitinggil berakhir di hutan (Desa) Krendawahana, Kecamatan Gondangrejo,Karanganyar (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Penjelasan seperti itulah yang selalu diberikan juru penerang budaya atau Humas Keraton Surakarta, KPA Winarno Kusumo, baik ketika ditanya para awak media atau memaparkan latar belakang sejarah di saat berlangsungnya upacara adat wilujengan nagari Mahesa Lawung. Namun, kehadiran tokoh penting yang selalu dipersepsikan mendekati seorang pujangga Jawa itu, hanya sampai di wilujengan Mahesa Lawung tahun 2018, karena beberapa bulan setelah itu mendahului dipanggil Sang Khalik.

”Yang dijelaskan Kanjeng Win (KPA Winarno Kusumo-Red) itu memang benar. Karena beliaulah yang punya kapasitas menjelaskan hal-hal seperti itu. Artinya, batas-batas wilayah spiritual yang saya sebutkan tadi, berkait dengan wilujengan nagari Mahesa Lawung. Antara wilujengan 17 Sura dengan Mahesa Lawung itu malah berurutan. Dan batas wilayah itu juga menjelaskan alasan mengapa Keraton Surakarta, Juga Pura Mangkunegaran dan dua lembaga adat di Jogja sana berada dalam batas wilayah yang disebut Vorstenlanden?,” jelas Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com tadi pagi.

Sudah Sangat Langka

Banyak hal yang selalu disebutkan dalam dua upacara adat terpisah itu, ternyata memiliki makna filosofi dan penjelasan latar belakang historis yang panjang-lebar. Tetapi karena berbagai informasi dari data sejarah yang tersimpan di keraton dan tempat-tempat lain itu, kebanyakan dari teks manuskrip beraksara Jawa dan berbahasa Jawa bahkan campur dengan bahasa Sansekerta, sangat jarang ada yang bisa memahami dengan jelas, bahkan jumlah orang yang bisa memahami lalu bisa menjelaskan dalam bahasa yang gampang dipahami di masa kinipun sudah sangat langka.

tradisi-mahesa-lawung3
AGAK BERBEDA : Doa wilujengan peringatan berdirinya Keraton Surakarta yang berlangsung di Pendapa Sitinggil Lor, 17 Sura yang tepat 17 September lalu, agak berbeda dengan wilujengan Sesaji Mahesa Lawung di tempat yang sama. Selain wujud sesajinya, peruntukannya juga beda, karena untuk memperingati 100 hari berdirinya keraton yang berlanjut di hutan Krendawahana, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Di satu sisi, figur tokoh seperti KPA Winarno Kusumo yang punya kapasitas kemampuan untuk menjelaskan dokumen berisi peristiwa-peristiwa penting di masa lalu leluhur wong Jawa, sudah terlalu langka. Di sisi lain, ternyata ada kaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, misalnya antara yang disimbolkan dengan wilujengan pengetan adeging nagari 17 Sura itu dengan wilujengan nagari Mahesa Lawung itu perlu dijelaskan, karena ternyata merupakan ungkapan syukur Sinuhun Paku Buwono II kepada Sang Pencipta bahwa Keraton Surakarta Hadiningrat yang berhasil dipindahkan dari Kartasura sudah berhasil berdiri di Desa Sala, bahkan bisa melewati 100 hari dan selamat tidak ada aral apapun.

Peringatan 100 hari berdirinya Keraton Surakarta itu, bukan tanpa dasar. Tetapi jelas sudah diperhitungkan secara fisik terutama strategi perthanan dan kedaulatan politik, mauupun nonpisik yang tentu merupakan hasil pertimbangan kalangan paranparanata dan Pujanggadalem. Maka, saat yang diambil untuk ungkapan syukur berupa wilujengan nagari Mahesa Lawung, yaitu hari Senin atau Kamis di akhir bulan Jumadilakir untuk diambil salah satu yang tepat sesuai hitungan weton pasaran.

Oleh sebab itu, karena peringatan berdirinya nagari Mataram Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat sudah diperingati tepat 17 Sura yang kebetulan jatuh 17 September lalu, maka yang berkait dengan itu akan segera datang peristiwa upacara adat wilujengan nagari Mahesa Lawung. Seperti pernyataan KPA Winarno Kusumo yang dibenarkan Gusti Moeng, wilujengan Mahesa Lawung di batas utara keraton yaitu hutan Krendawahana selalu diadakan pada hari Senin atau Kamis di akhir bulan
Jumadilakir (kalender Jawa).

Alas Krendawahana

Karena sudah menjadi kaitan bahkan satu kesatuan, maka upacara adat wilujengan nagari Mahesa Lawung juga ditetapkan menjadi satu di antara 9 agenda upacara adat yang secara rutin dijalankan Keraton Surakarta. Untuk itu, dalam hitungan 100 hari sejak 17 Sura atau 17 September lalu, akan dicari hari Senin atau Kamis yang tepat weton pasarannya di akhir bulan Jumadilakir, akan digelar ritual sesaji Mahesa Lawung yang prosesinya dimulai dari doa wilujengan di Pendapa Sitinggil Lor.

tradisi-mahesa-lawung4
WILUJENGAN NAGARI : Doa wilujengan nagari dalam peringatan 100 hari berdirinya Keraton Surakarta yang diberi nama Sesaji Mahesa Lawung, digelar di Pendapa Sitinggil Lor sebelum menumpang sejumlah kendaraan menuju tempat puncak ritual di hutan (Desa) Krendawahana, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar tahun 2018. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Prosesi yang melibatkan semua bregada prajurit termasuk korp musik Keraton Surakarta itu, akan mengarak kepala kerbau sebagai simbol sesaji utama. Prosesi yang biasanya melibatkan sekitar 150 orang itu, akan diangkut beberapa kendaraan roda empat di antaranya bus, dari keraton menuju alas atau hutan lindung Krendawahana, yang ada di Desa Krendawahana, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar.

Di sebuah punden berundak yang ada di tengah alas Krendawahana itu, akan didauhului dengan upacara doa wilujengan dan penjelasan latar belakang sejarah yang dibawakan seseorang pengganti KPA Winarno Kusumo (alm). Ritual di tempat tinggal Kanjeng Bathari Kalayuwati itu, akan diakhiri dengan mengubur atau menanam kepala kerbau beserta berbagai unsur dan komponen yang tidak baik bagi kesehatan manusia, secara fisik dan nonfisik.

”Kalau 17 Sura sekarang jatuh 17 September, berarti sesaji Mahesa Lawung akan jatuh antara pertangahan hingga akhir bulan Desember (Masehi) atau setelah Bakda Mulud (Jawa). Soal hari dan wetonnya, menunggu. Pilihan ketepatannya, antara Senin atau Kamis,” jelas KRT Arwanto Darponagoro selaku siswa kesayangan KPA Winarno Kusumo (alm). (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini