Puluhan Masyarakat Ikut Ruwatan Murwokolo Keraton Pajang

ruwatan-kerajaan-pajang
DIRUWAT : Puluhan masyarakat sedang mengikuti proses ruwatan untuk menjauhkan malapetaka di Kasultanan Pajang, Kartasura, Sukoharjo.(suaramerdekasolo.com/Ari Welianto)

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Puluhan masyarakat mengikuti ruwatan murwokolo masal yang digelar petilasan Keraton Pajang, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (20/9). Ini sebagai upaya agar masyarakat lepas dari sengkolo atau kesialan dan diberi keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ada 30 an masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah (Jateng) dan Yogyakarta yang ikut ruwatan murwokolo ini. Ini juga dibarengi dengan kegiatan sedekah bumi,” ujar Penasehat Budaya Kasultanan Pajang, Raden Dimas Kaca saat ditemui disela-sela kegiatan, kemarin.

Dengan ruwatan yang digelar tiap bulan suro ini untuk menjauhkan dari malapateka dari berbagai hal baik di pemerintah dan bumi nusantara ini. Untuk proses ruwatan mereka didoakan terlebih dahulu, lalu disiram air kembang, memotong rambut dan kuku. Itu semua sebagai tanda membersihkan diri untuk mengeluarkan hal-hal yang sengkolo, ini supaya ada gambaran dari Tuhan YME untuk memberikan keselamatan, kemuliaan dan rejeki.

“Semua itu diruwat, jadi ada prosesnya. Ini untuk menghilangkan sengkono, jadi itu harus hilang semua atau dibersihkan dengan doa-doa yang dibacakan,” imbuh dia.

Nantinya ruwatan itu kain putih yang dipakai, rambut dan kuku akan di larung di pantai selatan Parangkusumo Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rencana larung akan dilakukan, Sabtu (21/9), itu nanti ada prosesnya. Ada doa dulu dan menyiapkan berbagai hal, seperti nasi tumpeng, buah-buahan ingkung atau ayam.

“Itu nanti kami larung di pantai selatan pakaian yang dipakai untuk ruwat. Dalam ruwatan ini masyarakat tidak dipungut biaya tapi sukarela, karena ini tidak boleh di komersilkan. Ini hanya mencari berkah,” ungkapnya.

Menurutnya, ruwatan ini sudah digelar secara rutin tiap bulan suro. Untuk yang sekarang ini sudah pelaksanaan yang ke delapan dan akan terus digelar buat menguri-nguri budaya jawan. Apalagi ini sudah turun temurun sejak Kerajaan Pajang berdiri. “Akan terus kami gelar kegiatan Keraton Pajang. Ini biar masyarakat tahu kegiatan budaya ini,” sambung dia.

Sementara itu Sekretaris Paguyupan Palenggahan Kasultanan Pajang, Slamet Riyadi, mengatakan jika ruwatan itu salah satu kegiatan yang digelar selama bulan suro. Ruwatan ini bagi masyarakat dan mendoakan agar bangsa Indonesian aman serta sejahtera.“Setelah ruwatan, malam harinya ada wayangan semalam suntuk. Ini semua untuk memperingati bulan suro,” pungkasnya. (Ari Welianto)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini